Kisah Sakh Raung dari Pantar, Pahlawan Pembebas Naga Berkepala 8 Cabang

Kisah Sakh Raung dari Pantar, Pahlawan Pembebas Naga Berkepala 8 Cabang

0
29

Kab. Alor, Semarak.News

Manusia

Di Pantai Pulau Pantar Selatan, ada sebuah rimba kecil, nama rimba itu ‘WERGETRES’ (RIMBA SURYA). Disebelah barat hutan itu ada sebuah hutan pantai namanya Abangiwang (Kampung di bawah sombar pepohonan, kampong di bawah tanah, kampong arwa, roh – roh nenek moyang, leluhur ).

Peletakan batu pertama pekerjaan pemugaran makam Sakh Raung

Penghuni rimba kecil itu adalah seorang ibu yang sedang mengandung sarat namanya ‘BUIKUBAT’. Tiga hari kemudian dari pengungsian kepantai ia bersalin seorang anak laki – laki. Ia bersama anaknya itu berlindung dibawa sebatang pohon lilin yang besar dan rimbun, daun – daunya seperti sebuah kemah atau payung, karena waktu itu belum ada rumah – rumah pendudukdi pantai. Ia memberi nama anaknya itu ‘SAKH RAUNG’ (Batas Gema Suara dalam Ratapan). Setiap tiga hari pertumbuhan Sakh Raung lebih cepat besar dan tinggi, kekar, tampan dan gesit.

Pengenalan Alam Sekitar Pantai Laut

Setelah Sakh Raung besar dan remaja, ia menyuruh ibunya membuat baginya busur dan anak panah. Dengan adanya senjata itu ia mulai menjelajah pantai laut setiap hari untuk memanah ikan. Pada hari pertama ia memanah berjenis – jenis ikan dan juga jenis – jenis binatang darat seperti cecak, tokek, kadal, ular, buaya darat, dan lain – lain. Hasil penangkapan itu dibawa ke ibunya. Ibunya bersukacita karena anaknya sudah pandai memanah. Tetapi ibunya tertawa berkekeh – kekeh dan senyum karenanya belum begitu tahu membedakan apa yang biasa dapat dimakan dan apa yang tidak dapat dimakan. Ibunya memisahkan ikan – ikan dari binatang darat itu. Setelah itu ibunya berkata kepada anaknya. Besok dan hari – hari berikutnya , jangan panah binatang ini sebab kita tidak biasa makan. Nasihat ibunya ia patuh dan taat melaksanakannya sesuai pesan ibunya. Ia sangat sayang ibunya dengan membantunya panah ikan, dan ketam untuk menyambung hidup mereka berdua.

Bertemu dengan Manusia-manusia Lain

Pada suatu hari, ia berjalan lebih jauh menyusur tepi pantai bagian Timur (Pantar). Ia tiba di sebuah tanjung atau tebing yang menjorok ke dalam laut yang sangat gelap. Diatas sebuah terjal tebing-tebing batu itu, ada seorang tua duduk sedang membuang jurang (bahasa daerah ponotok) menangkap ikan moncong panjang. Dipinggir pantai itu juga ada banyak orang sedang tarik bubu, pasang ikan, mengail dan lain-lain. Ia berusaha mendekati orangtua itu dengan maksud bertanya tempat dimana sekarang ia berada. Orang tua itu menjawab, tempat yang mereka berdua ada itu bernama ‘LEGING’ (Pantar Timur), sedang perahu-perahu nelayan itu berasal dari kampung kolijahi, Bakalang, Daun Tupa, Pulau Pura, dan lain-lain. Sakh Raung sangat heran alat penangkapan (Bahasa daerah ponotok, beuk), karena tanpa mata kail, ikan-ikan moncong panjang itu terkait pada tali dan di buang ke darat, tetapi ia lebih heran lagi karena selama ini hanya ia bersama ibunya saja berada di pantai Abang Iwang, tetapi kini ia dapat bertemu dengan banyak orang di pantai laut bagian timur. Ia dalam keadaan ragu dan bimbang. Dalam keadaan ragu dan bimbang itu ia pamit pada orang tua itu hendak pulang. Akan tetapi, sebelum ia melangkah pulang, orang tua berpesan dan berjanji kepadanya, lagi tiga hari anak datang ke tempat ini supaya kita bersama ke pasar ‘SUL’ di gunung. Hasil penangkapan ikan kita bawah ke pasar ‘SUL’. Disana kita akan tukar dengan pisang masak, umbi-umbian tebu dan lain-lain. Ia sangat merestui pesan dan janji orang tua itu. Setelah itu ia pulang ke pantai Abang Iwang. Setelah bertemu dengan ibunya,ia bertanya ibu, mengapa kita berdua saja berada di pantai ini, sedang di sana ada banyak orang sedang menangkap ikan. Ibunya tidak segera menjawab pertanyaan anaknya itu. Ibunya termenung dengan air mata, mengingat suaminya bersama penduduk lain yang telah di telan ular Naga itu. Juga ibunya terkenang akan terlambatnya turun ke pantai, di waktu pengungsian untuk meluputkan diri dari luluran Ular Naga itu. Namun ibunya dalam keadaan susah dan tangis tetapi ia mulai menceritakan kepada anaknya juga tentang pengungsian meluputkan diri dari luluran Ular Naga ke pulau lain.

Gong Takhamung (Kepala Bercabang)

Ditengah gunung Pantar Utara ada seekor Ular Naga berbadan 1, tetapi berkepala 8 cabang. Ia berdiam di gunung yang tinggi, nama gunung itu ‘GONG TAKHAMUNG BUKU’ sesuai nama Ular Naga itu.

Puncaknya tinggi itu berbentuk kerucut/piramida atau kukusan. Dipuncak gunung itu ada sebuah dataran luas tanpa tumbuh pepohonan. Dataran luas itu ada sebatang pohon beringin besar tempat kediaman Ular Naga itu. Disekeliling puncak itu tumbuh pohon-pohon besar dan tinggi. Batang pohon-pohon itu terlihat jenis – jenis tali hutan dan rotan yang batang dan daun-daunya tajam bergerigi seperti ekor baja bagaikan benteng pertahanan Ular Naga itu. Lereng-lereng gunung itu tumbuh alang-alang dan tebu-tebu hutan. Tidak ada margasatwa yang hidup disitu. Rupanya semua takut Ular Naga itu. Ada juga kali-kali kering yang menjolok dari puncak gunung sampai ke pantai laut. Bila musim hujan kali-kali itu penuh air dan menjadi banjir dan turun ke pantai laut, pinggir kali kering itu tumbuh batang aur (bulu) hutan lebat, rotan hutan, bamboo hutan, kayu putih dan sebagainya. Disitulah tempat penduduk meramu ramuan rumah, memotong batang aur, ritan untuk anyaman bubuh. Pada kesmpatan itulah raksasa menjelma menjadi ular dan memangsa manusia. Jika sepuluh orang ke gunung untuk memotong batang aur dan rotan dilulurnya sembilan orang dan seorang dibiarkan lari kembali ke kampung. Begitulah setiap waktu dibuatnya, sebagian penduduk Pantar Timur (Songgeti) di telan, tinggal perempuan saja yang tidak ditelan karena mereka tidak pernah mendaki gunung untuk memotong batang aur.

Mengungsi ke Pulau Lain

Pada suatu hari semua kepala suku berunding. Dalam perundingan itu mereka sepakat untuk mengungsi. Tinggalkan kampung halaman mereka. Maksud pengungsian ialah meluputkan diri dari luluran ular naga itu. Setelah gong berbunyi dari tiap-tiap kampung, mereka mulai bergegas-gegas turun ke pantai untuk menyebrang laut. Sedang barang-barang yang kurang berharga mereka tinggalkan kecuali gong, moko, kain-kain watola mereka bawa mengungsi. Sedang saya ibumu mengandung sarat tidak mungkin cepat turun ke pantai untuk ikut pengungsian. Tak ada orang yang menolong apalagi ayahmu juga ditelan ular naga itu, justru itulah saya terlambat tiba di pantai dan ketinggalan dari pengungsian. Saya berteriak memanggil mereka tetapi mereka tak ada yang kembali mengambil saya untuk menyeberang. Karena itu saya ambil keputusan untuk tinggal sendirian di ‘WERGET ERES’ dan kemudian tiga hari saya melahirkan.

Menjelma Menjadi Manusia

Ular naga itu sewaktu-waktu berubah menjadi manusia biasa, ia juga hadir dalam pesta-pesta adat, berpasar dan lain-lain. Ia memiliki rahasia-rahasia pribadi yang tidak diketahui oleh manusia-manusia umum, kecuali orang-orang yang seimbang dengan dia.

Ke Pasar ‘SUL’ di Gunung

Tepat tiga hari SAKH RAUNG berangkat ke pantai timur tanjung ‘LEGING’ sesuai janji orang tua itu. Dalam perjalanannya ia panah berjenis-jenis ikan. Setelah bertemu dengan orangtua itu mereka berangkat ke Pasar SUL ikut kali yir gabat (Bama), dengan masing-masing memikul ikan mereka setelah mereka tiba di SUL mereka bertemu dengan dua orang tua berbadan besar dan tinggi. Mereka membawa pisang, ubi, tebu dan tuak dari pohon aren (Enau). Diatas sebuah mesba dari batu mereka mulai berpasar, sebagian ubi sudah dibakar separuhnya masih mentah diatas tungku api. Kawan-kawan seperjalanan SAKH RAUNG, orangtua dari pantai menyuruh membakar sejumlah ikan untuk mereka makan minum bersama dengan dua orangtua dari gunung itu. Setelah ikan masak, mereka mulai makan minum sampai tidak sadar (mabuk). Sedang anak SAKH RAUNG hanya makan pisang dan umbi-umbian yang telah masak dan ikan saja. Ia menolak minuman tuak aren karena ia tidak pernah minum apalagi ia merasa semuanya itu hal-hal baru bagi dia.

Membuka Rahasia Masing-masing

Oleh karena mereka minum tuak aren sampai tidak sadar (mabuk), mereka masing-masing mulai membuka rahasia kematian mereka. Seorang dari antara mereka, yaitu orangtua dari gunung itu bertanya kepada orang tua dari pantai ‘TOUBUR LEMA’ dengan alat apa orang dapat membunuh engkau? TOUBUR LEMA menjawab dengan tunas ilalang muda yang sedang duduk diatas ini, caranya: tunas ilalang yang tajam seperti jarum ini tusukan diujung lidah saya, maka saya akan lemah dan mati, namun jika saya mau hidup kembali, maka air manis dari ilalang muda ini kedalam mulut saya, maka saya akan hidup kembali lamanya 100 tahun. Kemudian Toubur Lema bertanya kepada orangtua kedua dari gunung tadi GONG TAKHAMUNG dengan cara/alat apa orang dapat membunuh engkau? GONG TAKHAMUNG mejawab dengan pohon kemiri yang sedang saya sandar dan duduk ini, caranya kemiri delapan buah ditanam pada bundaran tanah yang telah diberi garis tambah (+) ditengah lingkaran sebuah ditanam, sedangkan 7 buah ditanam keliling garis tambah itu, kemudian berdiri ditengah–tengah lingkaran itu dan memanah ke gunung, dimana apabila saya berada, bila saya melompat lewat lingkaran dari kemiri itu maka saya jatuh lemah dan juga dapat dibunuh. Akan tetapi apabila saya dihidupkan kembali, maka minyak dari buah kemiri tersebut dimasukan kedalam mulut saya, maka saya akan hidup 100 lamanya.

Kemudian Gong Takhamung bertanya kepada orangtua ketiga dari gunung bersong dengan alat apa orang dapat membunuh engkau? Bersong menjawab dengan kulit pohon lilin yang saya duduk sandar ini, caranya:
1. Kulit pohon ini dikupas dari bawah ke atas, kemudian dicampur dengan tuak aren, bila diberi minum kepada saya, maka saya akan mati.
2. Untuk menghidupkan saya kembali, kulit pohon lilin ini dikupas dari atas kebawah kemudian dicampur dengan tuak aren, dan bila saya minum maka saya akan hidup 200 tahun lamanya.

Semua rahasia kekuatan, kelemahan dan kematian tiga orangtua itu didengar bak-baik oleh Sakh Raung, lebih tenang dan konsentrasi wawasan alam pikirannya sangat tertuju kepada rahasia Gong Takhamung. Setelah hari mulai petang, masing-masing pulang ketempatnya. Gong Takhamung pergi ke Gong Takhamung. Bersong pergi ke Wenarsuluwali dan Toubur Lema pergi ke pantai daging tupa, kemudian Sakh Raung pegi ke Abang Iwang Rimba Surya.

Persiapan-persiapan Membunuh Gong Takhamung

Tiga hari kemudian, Sakh Raung mengajak ibunya ke kampung songgeti. Akan tetapi ibunya tidak mau mengikuti ajakan anaknya, malahan ibunya mencerita bahwa Naga itu sedang mencari manusia dari kampung ke kampong untuk dilulurnya. Sakh Raung tetap mengajak ibunya dengan sesuatu kekerasan yang mengandung keberanian. Ia menceritakan kepada ibunya bahwa ia mampu membunuh ular naga itu. Ia merasa mampu karena ia sudah mengetahui rahasia Gong Takhamung, ia menceritakan rahasia kematiannya kepada ibunya dan merasa yakin bahwa anaknya mampu dengan cara itu ular naga dapat dikalahkan dan dibunuh.

Beng Tal Er (Para-para Diatas Pohon Kapok)

Ibu dan anaknya sebelum pajar menyingsing, berangkat kekampung yang namanya Songgeti. Setelah tiba dikampung, ibunya mempersiapkan makanan berupa padi, jagung yang selama itu mereka tinggalkan dalam gudang dikampung tersebut, sedang Sakh Raung sibuk membongkar sebuah rumah dan ramuannya dibuat sebuah para-para diatas pohon kapok. Sesudah makan minum, mereka menyambung pekerjaan itu sampai selesai, petang hari mereka kembali kepantai Rimba Surya, paginya mereka sibuk mengumpulkan batu hitam licin dan memikulnya ke Beng Tal Er, pekerjaan yang berat itu mereka selesaikan selama 3 hari, mulailah mereka memanaskan batu-batu itu diatas para-para dipohon kapok itu, kemudian mereka mengumpulkan kayu-kayu kering dan dinaikan diatas para-para yang sudah disiapkan. Setelah itu, ibu dan anak kembali kepantai dengan membawa busur dan anak panah dari ayahnya yang sudah ditelan ular naga, semua anak panah dilicinkan atau ditajamkan ujungnya dengan batu apung, kemudian ia simpan kembali dalam tarkas (tempat anak panah).

Membunuh Gong Takhamung

Tepat 3 hari, pagi-pagi mereka sudah berada di kampong songgeti, ibunya menyalakan api diatas para-para Beng Tal Er. Sakh Raung mempersiapkan diri dengan menghiasi dirinya dengan pakaian adat peperangan. Ia mengambil satu selimut adat dipakai sebagai pengganti kain, dua helai kain watola untuk salempang bahu kiri dan kanan, sehelai kain watola sedang (moropah) dijadikan putuh (selimut kecil) untuk ikat kepala, tiga tangkai bulu ayam jantan merah, hitam dan putih ditusukan diatas
kepala kedua tangan dihiasi dengan gelang adat dari pasola (gelang besar), sepasang giring-giring diikatkan dikaki, sebilah pedang adat, sepasang busur dan
sebuah tarkas penuh anak panah serta sebuah tempat siri dari ayahnya. Ia menyuruh ibunya memakar batu-batu hitam licin itu sampai merah membara dan ia berangkat menuju ke Ur Anggom (Padangsul), sampai di Watbirtang, ia memilih sejumlah buah kemiri dan dimasukan dalam sokhit (tempat siri) ayahnya, lalu ia melanjutkan perjalanannya. Setibanya di Ur Anggom berhadapan dengan Gong Takhamung buku, ia mulai membuat lingkaran diatas tanah dan membuat garis tambah (+) dan menanam buah-buah kemiri dalam lingkaran sesuai keterangan diwaktu mereka bersama-sama di pasar sul itu.
Ia berdiri di tengah lingkaran itu dengan kedua telapak kaki menginjak buah kemiri, setelah merasa bahwa posisi berdirinya kuat, ia mulai mengambil sebatang anak panah dan memanah ke puncak gunung, sasaran anak panah itu tepat mengenai sebatang pohon besar dan merubuhkan ranting dengan daun-daunnya. Gong Takhamung terkejut dan bertanya kepada anak cucunya yang sedang bermain dibawah pohon besar itu ‘Wakhal Nang, Nadeng Libeng Khrapi Gu’ (bhs Abari) yang artinya: ‘anak-anak apa yang bunyi itu?’ anak cucu delapan cabang menjawab ‘o, nidat…tey takhata be salu ga’ (oh nenek ranting-ranting kayu kering yang gugur, kemudian sunyi senyap. Dalam kesunyian itu, Sakh Raung mengambil anak panah kedua dari tarkasnya lalu melepaskan kesasaran dan anak panah itu tertancap tepat pada ambang pintu Mahligai Ular Naga raksasa itu. Gong Takhamung dalam keadaan panik, ‘haiiiii wakhal nang sa piali gu’, yang artinya ‘anak-anak ada orang panah kita itu’. Tempat kediaman Gong Takhamung dalam keadaan hiruk-pikuk dan kacau balau. Dalam keadaan itu suara panggilan Sakh Raung menggema: “Huo ooooo, Ang now wado, namam wado, opokharisi angyat nangmi parga wangmuko, moy ga wang muko, dan Gong takahmung menjawab: ‘Iyoooo.., nokhal, ang nading nang yat ang mi tey beng muku, war beng muku, yang artinya (Hu wo ooo, engkau mama besar, bapak besar, kalau engkau berani, datang telan saya dengan pulau ini dan benua ini, dan Gong Takhamung menjawab, Iyo, anak engkau tunggu saya, saya akan datang telan engkau dengan kayu dan batu.

Setelah ia mendengar suara Gong Takhamung itu Sakh Raung berlari-lari ketempat kedua di Belgeti, ia memberi garis bundaran pada tanah dan tanam lagi empat buah kemiri, kemudian ia memanggil Gong Takhamung dengan melepaskan sebuah panah lagi, pada panggilan itu dilakukan berturut-turut lima kali seperti panggilan pertama dan kedua. Persyaratan yang dilakukan oleh Sakh Raung agar dapat membunuh Gong Takhamung sang ular naga itu adalah sebagai berikut:
1. Menanam buah kemiri dan panggilan pertama di Ur Anggomi
2. Menanam buah kemiri dan panggilan kedua di Belgeti
3. Menanam buah kemiri dan panggilan ketiga di Leg Tasing
4. Menanam buah kemiri dan panggilan keempat di Salay Klaping Bir
5. Menanam buah kemiri dan panggilan kelima di Beng Tal Er.

Setiap kali menanam buah kemiri dalam bundaran dan paggilan, Sakh Raung melepaskan anak panahnya berturut-turut lima kali. Tiap-tiap bundaran tempat menanam buah kemiri mempunyai gaya tarik (magnet) yang sangat kuat sehingga bila Gong Takhamung terbang di udara melewati lingkaran itu, maka buah kemiri itu menariknya kebumi, kemudian jatuh dan lemas ditengah-tengah lingkaran yang berisi buah kemiri itu. Tempat–tempat jatuhnya Gong Takhamung tanahnya terpecah dan terbelah merah tanpa tumbuh pepohonan. Kemudian Gong Takhamung sang ular naga itu melayang-layang di udara dan jatuh menyambar pohon kapok sehingga akar-akar pohon yang menghadap ke gunung putus dan terbongkar dari dalam tanah sehingga hampir tumbang. Pohon kapok itu tidak berdiri tegak lagi melainkan miring, tergoyang dan hampir tumbang.

Dalam kaedaan darurat itu, Sakh Raung tidak panik, takut dan gentar melainkan tetap memberi komentar kepada ibunya untuk menyalakan api diatas panggung lebih besar lagi agar batu-batu hitam itu lebih merah lagi. Kepala-kepala ular naga itu mebelit pohon kapok dengan membuka mulut lebar-lebar hendak melulurkan Sakh Raung dengan ibunya. Kepala pertama yang membuka mulut lebar-lebar adalah kepala nomor delapan, maka Sakh Raung mengguling batu merah kedalam mulutnya dan tembus masuk kedalam perut, maka kepala nomor delapan layu tergantung dibadan ular naga itu dan tidak berdaya. Melihat keadaan seperti itu kepala besar berkata:
‘oh, ang nuku ba gemeya e, ang titu ba gemeya’ (bhs Abari) artinya: oh engkau sudah bunuh satu, apakah engkau mau bunuh tujuh juga.

Kemudian kepala nomor tujuh mebelit batang pohon itu dan hendak melulur Sakh Raung dan ibunya, dan Sakh Raung menggulingkan sebuah batu merah lagi dan melepaskan kedalam mulut nomor tujuh, maka kepala nomor tujuh pun layu dan kering tergantung. Begitu juga dilakukan bertrut-turut pada kepala nomor enam, lima, empat, tiga dan nomor dua sehingga semuanya layu dan tergantung pada badan ular naga itu. Sedangkan kepala nomor satu yang sangat besar itu berkata ‘Ang titu ba gemeya e, ang nuku ba gemeya (bhs.Abari) artinya: oh engkau sudah bunuh tujuh, apakah engkau mau bunuh yang satu ini? sambil berkata demikian kepala besar nomor satu mulai membuka mulut lebar-lebar hendak menelan Sakh Raung dengan ibunya, namun Sakh Raung bersama dengan ibunya menggulingkan batu-batu merah menyala dan melepaskan kedalam mulut ular naga itu, namun kepala ular naga itu tidak mati, melainkan tetap membelit batang pohon itu menyorongkan kepala ke atas panggung dengan membuka mulut lebar-lebar.

Giginya bergerigi tajam dan menakutkan, maka puluhan batu batu merah dan abu panas mata dan mulut, tetapi ular naga itu tidak mati. Sedangkan tinggal bara api yang masih menyala ditengah-tenga tiga tungku biasa dalam kadaan panik, Sakh Raung mengambil sejumlah anak panah dan dimasukan kedalam api sampai merah membara lalu ia mengambil sebiji dan memanah kedalam mulut besar itu, panah itu mengenai tepat pada jantung ular naga itu dan tembus sampai kepusaran maka seluruh badan ular naga itu mulai layu, kering dan jatuh turun dibawah pohon kapok dan tidak berdaya atau bergerak lagi. Sakh Raung pun turun keatas badan ular naga itu dan melompat-lompat diatasnya dan ternyata ular naga itu sudah tak bernyawa lagi. Sakh Raung kembali kepohon kapok dan menurunkan ibunya ketanah dengan seutas tali dan ia mulai membongkar panggung itu dan ditumpukan diatas badan ular naga itu untuk membakar bangkai ular naga tersebut, serta mengajak ibunya ke Abang Iwang dan berdiam di rimba surya. Lima hari kemudian Sakh Raung kembali mengajak ibunya ke kampung Songgeti untuk mengambil bekal (padi dan jagung), mereka mendaki sampai disuatu tempat yang namanya Solai Buku. Dari tempat itu mereka memandang ke Beng Tal Er, terjadi hal yang aneh bahwa sepanjang belukar dilokasi tersebut berwarna
putih berkilau bergerak dan melompat kian kemari. Dalam kondisi yang aneh membuat mereka lebih cepat melangkah ke kampung Songgeti dan ternyata tempat dimana sang ular naga dibakar ada banyak kambing, semuanya berbuluh putih mengkilat berkilau-kilauan sedang mencari makan didataran dan dilereng-lereng sampai didalam kampung. Mereka bertanya diantara mereka dari mana datangnya kambing-kambing itu? Dalam pikiran mereka mungkin kambing-kambing itu dari ulat bangkai/mikro organisme dari ular naga itu.

Pakaian Emas (Celana Langsung Baju Emas)

Diantara kambing-kambing itu, ada seekor jantan besar berbuluh emas, lehernya berbuluh intan dan permata, kambing itu tidak dapat bergerak karena tanduknya tersangkut pada kayu –kayu hutan. Sakh Raung menangkap kambing jantan tersebut lalu dipotong dan dikupas kulitnya, kemudian dibawa kepantai. Ia menguliti kambing itu dengan hati-hati agar modelnya seperti celana panjang dan kemeja tangan panjang.

Setelah itu dijemur sampai kering lalu ia memakai kulit kambing itu dan ia sangat senang dengan pakaian emas itu. Setiap hari ia memakainya dan melompat dari batu ke batu, dari teluk ke teluk, tanjung ke tanjung sepanjang pantai selatan.

Sakh Raung Dibunuh

Selang beberapa hari ia melihat ada sebuah kapal layar Portugis berlayar antara tanjung Margeta dan Pulau Tereweng. Tujuan kapal layar itu menuju Pantai Abang Iwang, kapal layar itu tiba di pantai Khanawadi dan membuang sauh, dengan pakaian emas tadi Sakh Raung pergi menjenguk kapal layar itu. Nahkoda kapal memerintahkan anak buah kapal menurunkan sikoci dan mendarat untuk bertemu dengan Sakh Raung. ABK menyampaikan amanat Nahkoda bahwa Sakh Raung dipanggil Nahkoda untuk bertemu di kapal. Ia menuruti amanat tersebut lalu pergi ke kapal. Setiba di kapal Sakh Raung dijamu dengan makanan dan minuman. Sambil makan dan minum Nahkoda menawar pakaian Sakh Raung tetapi ia tidak menjualnya.

Puluhan uang portugis, barang-barang dan pakaian untuk ditukar dengan pakaian emas Sakh Raung, tetapi ia tetap tidak mau. Akhirnya ia dijamu lagi satu botol minuman yang namanya ‘ANIS’ sampai mabuk dan tidak sadarkan diri lalu dibunuh dan pakaiannya diambil dan jenasahnya mereka bawa kedarat untuk dikubur dalam sebuah hutan yang namanya Mirikang Gimim (tanjung). Sebelum dikuburkan, atas perintah nahkoda kapal maka aurat (kemaluannya) dipotong dan dibawa ke kapal. Setelah itu mereka membuka layar, menarik sauh dan berlayar mengikuti laut antara Pulau Tereweng dan Alor. Akan tetapi apa yang terjadi? Sesudah berlayar malam, pagi dan petang, mereka bukan tiba di pelabuhan tujuan melainkan tetap berlabuh di pelabuhan Abang Iwang (hari pertama). Lalu mereka turun membawa uang, barang-barang dan pakaian kepada ibu almarhum Sakh Raung yang sedang berada di Rimba Surya, tetapi ibunya menolak pemberian itu, malahan ia tetap meratapi anaknya yang telah hilang dan tidak kembali lagi. ABK tinggalkan barang-barang itu di Rimba Surya lalu kembali kekapal dan meneruskan perjalanan tetapi apa yang terjadi?

Setelah berlayar malam, pagi dan siang mereka tetap berada di Mirikang Gimim hari kedua. Lalu turunlah mereka dengan membawa rempah-rempah dan wangi-wangian dan menghaburkan diatas kuburan Sakh Raung. Setelah itu mereka meneruskan perjalanan, tetapi hal yang sama terjadi bahwa mereka tetap berada di pantai Mirikang Gimim. Pada hari ketiga, lalu mereka kembali kedarat dan mengangkat sejumlah batu untuk membuat kubur Sakh Raung serta menghamburkan sejumlah uang dan pakaian. Lalu merek melanjutkan kembali perjalanan mereka dengan merubah haluan antara Tanjung Beang dan Pulau Tereweng. Mereka cepat menghilang antara Tanjung Beang dan Pulau Tereweng karena mengikuti arus dan angin dari belakang dan mereka berlayar antara Pulau Pantar dengan Tereweng. Sepertinya hilang dipandangan mata, akan tetapi pada malam, pagi dan siang mereka tetap berada di pantai Mirikang Gimim.

Pada hari keempat, namun mereka berupaya melepaskan diri dari keadaan yang aneh itu tetapi tidak berhasil. Akhirnya Nahkoda bersama ABK kembali ke darat dan duduk berformai bundaran diatas pasir lalu membuang undi. Setelah membuang undi maka undian mengenai aurat Sakh Raung. Lalu mereka mengambil aurat Sakh Raung dari dalam kapal dan ditanam diatas kuburan Sakh Raung seperti batu nisan. Lalu mereka menyiram dengan rempah-rempah dan wangi-wangian diatas kuburan Sakh Raung. Lalu mereka kembali ke kapal dan melanjutkan perjalanan dan paginya mereka tiba dipelabuhan tujuan.

Hutan Keramat (Puyui Geti)

Aurat Sakh Raung (bhs.daerah=puyui). Oleh karena aurat dan jenasahnya dikubur dalam sebuah hutan di Mirikang Gimim, maka hutan tersebut diberi nama Sakh Raung sesuai dengan namanya dan dianggap keramat atau famali (bhs daerah=Puyui Geti). Aurat itu berubah menjadi batu nisan berbentuk aurat dan bernilai: batang aurat jadi emas tulen biji aurat kiri jadi intan biji aurat kanan jadi permata.

Aslinya batu nisan itu telah dibuang ke laut oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Setelah tiga hari kemudian batu nisan aurat itu kembali dan berada diatas kuburan Sakh Raung tetapi tidak seperti yang asli (emas, intan dan permata) tetapi seperti batu biasa sampai hari ini.

Catatan : Analisa Nenek Moyang dulu;
Peristiwa pembunuhan Gong Takhamung oleh Sakh Raung telah merembes keluar dan didengar oleh orang-orang yang mengunsi di Alor dan juga didengar oleh kedua sahabat Gong Takhamung, yaitu Toubur Lema dan Bersong. Maka Toubur Lema menjelma Naga Laut (Harimo: berdiam di alam laut) dan Bersong menjelma menjadi Naga di udara (bhs.Olananga ) dan kedua-duanya disebut Harimo Holananga.

Harimo melingkari alam laut dan Holananga melingkari alam langit. Model pakaian celana dan baju dari orang barat hampir sama dengan model pakaian emas Sakh Raung. Gong Takhamung buku (gunung berkepala cabang ) adalah tempat sumber emas, intan dan permata.

Saat ini Pemerintah Desa Bunga Bali melakukan pemugaran makam Sakh Raung untuk tujuan wisata(*)

Editor by Joka

Sumber Resmi

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY