Tim Arie Untung vs Tim Ernest P

Animasi Ngobrol Santai [sumber:club.iyaa]

Semarak.news – Beberapa hari ini netizen aiji (read:instagram) dan twitter sedang ramai membicarakan komentar dua sosok public figure kenamaan tanah air. Berawal dari ‘komentar’ bernada positif Arie Untung atas kegiatan ‘syukuran’ dari warga Meleysia yang berjalan tertib meskipun diikuti oleh ratusan, ribuan, bahkan ratusan ribu orang atas belum disahkan UU ICERD yang inti dari UU-nya menginginkan persamaan hak di muka bumi ini mau China, Arab, Jawa, Melayu, Pendatang, Asing, Aseng, dan lainnya.

Nampaknya ‘komentar’ Arie Untung itu segera ditanggapi oleh Ernest dengan ‘sinis’. Ernest beranggapan bahwa Arie Untung mendukung aksi yang boleh dikata sebagai gerakan penolakan persamaan hak itu (Fyi: belakangan perkumpulan masa di Meleysia tadi disebut aksi 812 dimana mengingatkan kita pada gerakan yang sama dilakukan di Indonesia dengan nama aksi 212). Dengan premis tersebut Ernest berkonklusi bahwa Arie Untung tidak sejalan dengan semangatnya selama ini yang memperjuangkan persamaan hak di Rohingya dan Uyghur.

Belakangan Arie Untung juga telah menanggapi-tanggapan dari Ernest tersebut dengan mengatakan bahwa intinya kagum dengan kegiatan yang tertib meskipun dihadiri oleh banyak orang dan tidak menitikberatkan pada isu yang diangkat dalam aksi tersebut. Mungkin Arie Untung mengambil perspektif bahwa kalo kegiatan rame-rame selalu identik dengan semrawut dan sulit diatur (mungkin, seperti beberapa ribu orang oknum PSIM fans yang mencoba menerobos pagar pembatas antara penonton dengan lapangan hingga akhirnya mereka masuk ke lapangan pertandingan).

Stooop !

Kita Ngga Perlu Berlarut-larut ngobrolin komentar artis di media sosial. Apalagi kalo dilanjutkan sangat berpotensi menimbulkan tim Arie vs tim Ernest. Sebagai masyarakat timur alangkah lebih baik untuk menjunjung tinggi adat ketimurannya, keramahannya, kesopan-santunannya, kerendahan hatinya, bukan sebaliknya yang inginnya selalu beradu terus.

Perbincangan ini kalo ada di warung kopi akan lebih menarik karena pasti selow, sungguh selow, sangat selow, tetap selow, dan santai. Jadi berhenti membicarakan hal yang tidak seberapa penting di media yang maya ini.

Secara bahasa media sosial terdiri dari dua kata, media dan sosial. Media secara fungsi yaitu untuk memudahkan dua hal atau lebih yang keliatanya susah. Sosial ya kurang lebih ngobrol. Jadi jangan larut dengan ‘apa yang diobrolkan’ kemudian melupakan fungsi lainnya yaitu memudahkan. Kalo akhirnya media sosial diartikan sebagai piranti untuk memudahkan timbulnya pertikaian lantas dimana lagi adat ketimuran akan berteduh ? [RP]

TINGGALKAN BALASAN