Terdesak di Suriah, Simpatisan ISIS Berbondong-bondong Kembali ke Negara Asal

[sumber : krjogja.com]

Jakarta, Semarak.news – Pada September 2017 lalu, wilayah-wilayah strategis di Irak dan Suriah yang sebelumnya dikuasai Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) telah berhasil dikuasai pasukan pemerintah Irak dan Suriah dibantu oleh pasukan koalisi, wilayah-wilayah tersebut meliputi Palmyra, Aleppo, dan Raqqa yang merupakan ibukota ISIS. Kekalahan ISIS di Irak dan Suriah berimplikasi pada meningkatnya ancaman terorisme global. Walaupun dalam jangka panjang, kekalahan ini merupakan hal yang baik dan akan menghilangkan kemampuan ISIS untuk merekrut, mengatur, dan merencanakan serangan. Terlebih, propaganda ISIS untuk menciptakan The Real Islamic State akan mudah dipatahkan. Tidak mengherankan, jumlah pejuang asing yang bergabung dengan kelompok tersebut turun drastis pada tahun 2016, selain itu pendapatan ISIS yang sangat bergantung pada pajak juga menurun. Namun demikian, kekalahan ISIS disisi lain meningkatkan keinginan kelompok ini untuk terus melakukan aksi terorisme di ranah internasional. ISIS sejak dahulu bertujuan mendirikan, memelihara, dan memperluas sebuah negara Islam, namun saat tujuan tersebut terlihat tidak mungkin, ISIS harus melakukan aksi terorisme tingkat tinggi untuk tetap menjaga eksistensinya. Hal tersebut menjadi salah satu faktor para militan ISIS untuk kembali ke negara asalnya masing-masing.

Kembalinya militan ISIS dari daerah konflik menuju ke negara asalnya masing-masing penting untuk mendapat perhatian khusus bagi negara yang menjadi tujuan kembali, tidak terkecuali Indonesia. Sebab individu tersebut memiliki pengalaman tempur, komitmen ideologi yang mendalam, kontak dengan jihadis internasional, sehingga mereka bisa menyegarkan kembali gerakan ekstremis yang ada di negara tersebut. Para militan ISIS yang kembali ke negara asalnya mempunyai beberapa motivasi seperti ingin berjuang sendiri melawan musuh-musuh di negara asalnya dengan bermodalkan pengalaman perang dan semangat perang yang mereka dapatkan saat mereka menjadi Foreign Terrorist Fighters (FTF) ISIS. Selain itu mereka juga bertujuan untuk menyebarkan paham-paham radikal serta merekrut anggota baru di negara asalnya. Tidak hanya itu, kembalinya militan ISIS ke negara asalnya juga karena banyak dari mereka merasa tertipu dengan janji-janji ISIS saat merekrut mereka dan ternyata kenyataan yang ada di Suriah tidak seperti apa yang mereka bayangkan sebelumnya, golongan-golongan seperti ini lah yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk bekerjasama melawan perkembangan paham radikal di negara yang bersangkutan. Namun, kurangnya penanganan khusus untuk seorang warga negara yang kembali dari negara-negara seperti Irak dan Suriah yang membuat individu-individu tersebut bergerak bebas dalam membuat rencana dan melakukan aksi teror.

Sebagai contoh, pada 13 November 2015, terjadi penembakan dan ledakan bom di beberapa titik di kota Paris yang menyebabkan 130 korban jiwa dan ratusan lain terluka. Menurut Kepala Jaksa Paris, Francois Molins, tiga regu terroris yang saling terkoordinasi diyakini melakukan aksi tersebut. Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada 22 Maret 2016 di Bandara Zaventeem dan Stasiun Metro di Brussels, Belgia terjadi serangan bom bunuh diri yang menewaskan setidaknya 32 orang dan melukai lebih dari 220 orang. Kedua serangan tersebut diklaim oleh ISIS dan pelaku masing-masing kejadian masih berada dalam sel teror yang sama dimana beberapa otak serangan merupakan warga negara asal Belgia dan Perancis yang kembali dari Suriah.

Ratusan Warga Negara Indonesia yang berada di Suriah dan bergabung dengan kelompok teror ISIS sudah mulai kembali ke Tanah Air. Namun, dari 500 orang yang dianggap teroris asing atau Foreign Terrorist Fighters (FTF) tersebut 69 diantaranya sudah meninggal dunia. Mencermati fenomena tersebut, yang harus diwaspadai adalah saat sudah tiba di Indonesia akan membawa paham radikal dan tentunya sudah mempunyai kemampuan militan.

Andaikata para jihadis dari Suriah itu mulai kembali ke tanah air, itu artinya mereka telah terpapar ideologi ekstremis. Sekalipun mereka statusnya “membelot” atau kabur dari barisan ISIS karena berbagai alasan. Seperti kecewa dengan keadaan di sana atau tidak sesuai dengan imajinasi jihad yang mereka bayangkan. Meskipun mereka kabur dari ISIS, paham yang mereka miliki tetap paham radikal yang memiliki tujuan mendirikan negara berlandaskan khilafah islamiyah dengan berbagai cara termasuk kekerasan. Paham radikal yang dibawa oleh WNI dari Irak dan Suriah tersebut tidak relevan dan bahkan bertentangan dengan ideologi yang dianut oleh Indonesia yaitu ideologi Pancasila.

Kondisi yang dihadapi Indonesia saat ini sebenarnya bukan hal yang baru. Sebelum masa reformasi, ratusan warga negara Indonesia pergi ke Afgahanistan untuk berperang membela pasukan Islam yang didukung oleh AS. Setelah perang usai, alumni Afghanistan kembali ke tanah air dan membentuk Jamaah Islamiyah (JI) bersama mujahidin dari beberapa negara di Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, dan Filipina.

Dalam kasus Bom Bali I, Imam Samudera alias Abdul Aziz menjadi otak di balik peledakan bom. Imam Samudera dibantu Amrozi, Idris, dan Dulmatin. Imam Sumudera menjadi koordinator bagi ketiganya dan mempunyai tugas masing-masing. Amrozi, bertugas membeli mobil dan bahan-bahan peledak, Dulmatin bertugas merakit bom, dan Idris bertugas menyediakan segala akomodasi dan keperluan mereka selama di Bali. Selain Amrozi, semua pelaku inti Bom Bali I adalah alumni perang Afghanistan. Selain itu baru-baru ini terjadi aksi penyerangan terhadap anggota polisi di Polda Sumatera Utara dimana pelaku bernama Syawaludin Pakpahan merupakan WNI yang pernah berada di Suriah selama enam bulan. Dengan begitu kembalinya FTF ISIS ke negara Indonesia perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah untuk mencegah terjadinya aksi teror di Indonesia. [BMN]

 

TINGGALKAN BALASAN