PUPR Lobar Telah Membangun 30 Daerah Irigasi

Irigasi [Sumber: kroniktotabuan.com]

Giri Menang, Semarak.news – Irigasi merupakan saran apenting bagi para petani agar lahan-lahan pertaniannya dapat teraliri air dengan baik dan memetik panen melimpah. Namun, tidak semua wilayah memiliki kesediaan air yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari ataupun untuk pengairan lahan pertanian.

Kab. Lombok Barat dibagi menjadi dua wilayah, yaitu Kab. Lobar bagian utara dan Kab. Lobar bagian selatan. Kab. Lobar bagian utara merupakan daerah dengan pengairan dan ketersediaan air yang cukup yaitu di Kec. Narmada, Kec. Lingsar, dan Kec. Gunung Sari. Sedangkan Kab. Lobar bagian selatan merupakan daerah dengan mayoritas kekurangan air seperti di Kec. Sekotong. Kec. Sekotong merupakan daerah tadah hujan dan diatasi dengan dibangunnya embung-embung. Saat ini ada sebanyak lima embung di Kec. Sekotong yang pengelolaannya berada di bawah Pemkab. Lobar.

“Komisi Irigasi Dinas PUPR bertugas untuk mengalokasikan dana guna pengairan di wilayah Kab. Lobar, pengelolaan irigasi yang sudah ada, dan membangun irigasi di wilayah-wilayah yang belum memiliki pengairan yang baik. Saat ini telah terbangun sebanyak 25 Daerah Irigasi di wilayah Kab. Lobar yang terdiri dari 2 Daerah Irigasi yang dibangun oleh Pemprov NTB masing-masing luasnya diatas 1.000 hektar; 2 Daerah Irigasi yang dibangun oleh APBN Pemerintah Pusat masing-masing luasnya diatas 3.000 hektar; 20 Daerah Irigasi yang dibangun oleh Pemkab. Lobar masing-masing luasnya dibawah 1.000 hektar; dan 1 Daerah Irigasi berbentuk Suplesi untuk mengarahkan air. Selain itu, ada juga 30 Daerah Irigasi yang dibangun oleh Pemerintah Desa yang menyebar di seluruh wilayah Kab. Lobar.” jelas Kasieops Pembangunan Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kab. Lobar, Lalu Karyadi, S.T kepada Semarak.news di ruangannya (24/04/2018).

Terkait kekeringan yang terjadi saat musim kemarau, penanganan yang dilakukan Dinas PUPR adalah dengan mengelola sistem pendistribusian air yang direncanakan dari awal. Diperlukan pengelolaan yang baik antara jumlah daerah irigasi yang akan dialiri, jenis tanaman, dan stok air yang ada agar para petani dapat menanam setahun penuh, yaitu tiga kali panen. Distribusi pada daerah yang memiliki bendungan adalah dengan memanfaatkan musim tanam tiap daerah secara bergantian. Sedangkan sistem distribusi pada daerah minim air menggunakan embung dilakukan dengan menyimpan stok air yang ada dan hanya menggunakan air berlebih saat ketersediaan air masih ada agar nanti saat musim kemarau, air di embung dapat dimanfaatkan dengan membuka keran air secara bertahap disesuaikan dengan kebutuhan dan jenis tanaman dengan dikombinasikan dengan teknologi pertanian.

TINGGALKAN BALASAN