Pilkada Jabar Akan Berlangsung Aman, Ini Analisanya

sumber: rilisid

Jakarta, Semarak.news – Dengan melihat pilkada DKI Jakarta yang sangat panas dan kontensius, wajar rasanya bila mengkhawatirkan hal yang sama dapat terulang di daerah lain, terlebih tahun 2018 ini merupakan tahun politik dimana terdapat 171 daerah yang terdiri atas 17 provinsi, 115 kabupaten, dan 39 kota yang melakukan pemilihan kepala daerah secara bersamaan.

Apabila ‘panas’nya Pilkada Jakarta terjadi di 10% dari jumlah itu saja, maka hampir dapat dipastikan persatuan dan kesatuan Bangsa terpecah belah. Sebagai langkah antisipasi penanganan potensi konflik dan sarana pemetaan Pilkada Serentak, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) mengeluarkan Indeks Kerawanan Pemilu (IKP). Dalam mengeluarkan IKP, Bawaslu menilai suatu daerah dari tiga aspek, yakni penyelenggaraan, kontesasi, dan partisipasi.

Provinsi Aceh, Maluku, Papua, dan Kalimantan Barat adalah provinsi yang mendapat Indeks diatas 3, dengan kata lain, rawan terjadi konflik akibat pilkada. Sedangkan provinsi yang bertetangga langsung dengan DKI Jakarta, yakni Jawa Barat, mendapat Indeks 2,52 sehingga tergolong tidak terlalu rawan.

Terlepas dari IKP Bawaslu tersebut, nampaknya Pilkada Jawa Barat tahun ini memang akan aman dan berjalan tertib. Provinsi dengan lebih dari 45 juta orang yang 31 juta orang diantaranya memiliki hak pilih ini memiliki empat pasang calon Gubernur. Pada 12 Februari lalu, sudah ditetapkan Ridwan Kamil-UU Ruzhanul Ulum (Rindu), Tb. Hasanuddin-Anton Charliyan (Hasanah), Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik), dan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (2DM).

Berikut alasan mengapa Pilkada Jabar diperkirakan akan berlangsung aman dan tidak se-menegangkan pilkada Jakarta.

  1. Pembagian parpol pendukung masing-masing calon Gubernur Jawa Barat sangat beragam. Tidak seperti Jakarta yang berpusat pada dua kekuatan –Gerindra dan PDIP, dukungan parpol di Jabar terpecah cukup merata, bahkan calon yang diusung oleh PDIP (Hasanah) dan koalisi pimpinan Gerindra (Asyik) memperoleh dukungan yang sangat kecil ketimbang dua kandidat lain. Dalam hasil survey Indo Barometer yang dirilis pertengahan Februari lalu, paslon Rindu memiliki elektabilitas sebesar 44,8%, disusul paslon 2DM dengan 27,9%, sedangkan paslon Hasanah dan Asyik masing-masing mendapat 1% dan 0,9%. Dengan kecilnya elektabilitas paslon Hasanah dan Asyik, maka kemungkinan besar pilkada Jabar hanya akan menjadi adu kuat antara paslon Rindu (Nasdem, PPP, Hanura, dan PKB) dan 2DM (Golkar dan Demokrat).
  2. Hampir tidak ada tempat bagi isu SARA di pilkada Jabar. Tidak dapat dipungkiri bahwa isu SARA menjadi dagangan politik yang sangat laris di pilkada Jakarta. Ahok yang keturunan Tinghoa dan beragama Kristen mendapat serangan secara massif dari kelompok-kelompok Islam, terlebih setelah pidatonya di pulau Seribu menyebar luas. Hal ini sangat berbeda dengan Jabar, dimana semua paslon merupakan orang Islam dan semuanya berpasangan dengan putra asli Jawa Barat, sehingga isu SARA sangat tidak mungkin dan apabila ada, masyarakat pasti menyadari bahwa itu merupakan hal yang sangat dipaksakan.
  3. Masyarakat Jabar secara umum tidak fanatik kepada parpol. Hal ini terlihat dari tiga pilkada Jabar sebelumnya, yakni tahun 2003 yang dimenangkan oleh koalisi Golkar, 2008 dan 2013 oleh koalisi PKS, dengan melihat pada hasil survey Indo Barometer, dimana paslon yang didukung oleh PKS memperoleh elektabilitas yang sangat kecil, maka dapat disimpulkan bahwa masyarakat Jabar memilih tokoh, bukan partai pengusungnya.

Meskipun diperkirakan berlangsung aman, namun masih harus diwaspadai isu-isu eksternal yang dapat mempengaruhi stabilitas keamanan dan politik di Jabar. Salah satu permasalahan yang saat ini sedang trending adalah kasus penyerangan terhadap tokoh agama yang dilakukan oleh orang gila, kasus pertama menimpa Kyai Umar Bisri di Cicalengka, dan yang kedua menimpa Komanda Brigde Persis, Pratowo.

Setelah dilakukan pemeriksaan, Kepolisian menyimpulkan bahwa kedua serangan tersebut murni dilakukan oleh orang yang memiliki gangguan jiwa, namun rumor sudah menyebar di media sosial bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) yang telah lama hilang dari peradaban di Indonesia, merupakan otak dibalik kedua serangan tersebut. Terlebih saat ini banyak menyebar berita-berita serupa di media sosial yang sulit di-cross check di media mainstream.

Selain aparat keamanan dan Intelijen, peran masyarakat Jabar juga sangat vital dalam mengamankan jalannya pilkada di Tanah Sunda. Masyarkat harus dapat memilah dan memilih berita dengan melakukan check, re-check, dan cross-check sehingga tidak terprovokasi isu yang tidak benar.

TINGGALKAN BALASAN