Ternate, Semarak.news—Maluku Utara perlu meningkatkan ekspor non tambang khususnya hasil laut terang Kepala Seksi Humas Bea Cukai Ternate Soma Baskoro saat diwawancarai wartawan Semarak, Senin (15/10/2018) di kantornya.

“Maluku Utara merupakan lumbung ikan nasional, tetapi menjadi ironi saat ekspor hasil lautnya rendah,” terang Soma.

Selama dua tahun belakangan, Bea Cukai Ternate telah bekerja keras untuk mengembalikan kejayaan perekonomian Malut di perdagangan internasional. Soma bersama rekan-rekannya telah melaukan upaya jemput bola dengan berkoordinasi lembaga pemerintah lainnya seperti Bank Indonesia perwakilan Malut, Dinas Perindustrian Malut, Dinas Perikanan Malut, dan Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM). Sayang, para eksportir masih enggan untuk melakukan ekpor dari Ternate dan lebih memilih dari daerah lain.

“Para eksportir memilih melakukan ekspor dari provinsi lain karena dirasa lebih mudah ketimbang serta tidak mau repot. Padahal ekspor tersebut tidak dihitung sebagai pendapatan daerah karena tercatat di Bea Cukai provinsi lain.” Tambah orang berdarah Purworejo ini.

Kurangnya cold storage, terang Soma, juga menjadi salah satu alasan sedikitnya ekspor hasil ikan di Malut. Pengiriman tuna segara harus menggunakan kontainer khusus yang dapat menjaga kondisi ikan tetap segar. Sedangkan dari sisi Bea Cukai juga mengalami kesulitan dalam mendata  dan menjaring para pelaku usaha yang memiliki potensi ekspor baik akan melakukan ekspor atau sudah melakukan ekspor di provinsi lain maupun menggunakan pihak ke 3 di provinsi lain.

Selain itu, menurut dapat BPS Malut, ekspor Maluku Utara pada Juli 2018 didonimasi oleh sektor tambang. Komoditas tersebut diantaranya besi dan baja (HS 72) dan bijih, kerak, dan abu logam (HS 26) dengan tujuan ekspor Tiongkok, Taiwan, Korea Selatan, dan Ukraina.

Melihat hal tersebut, Bea Cukai Ternate telah melakuan inisiasi penjaringan dan pendataan pelaku usaha. Tujuannya agar potensi ekspor non tambang Malut lainnya dapat terangkat. Potensi komoditas ekspor yang berpotensi antara lain  rempah-rempah seperti cengkeh, fuli (biji pala yang sudah dikeringkan). Lalu pada sektor perikanan darat dan perkebunan yaitu udang vaname dan kopra.

Peran pemerintah daerah juga diperlukan untuk menggenjot ekspor non tambang. Kesadaran ekspor masyarakat juga perlu ditingkatkan agar mau melakukan ekspor melalui Bea Cukai di daerah teresebut agar perekonomian daerah terangkat. (MDZ)

LEAVE A REPLY