Jakarta, Semarak.news – Presiden Iran Hassan Rouhani menuding Amerika Serikat (AS) sebagai biang keladi atas situasi ekonomi negaranya saat ini dalam kurun waktu 40 tahun terakhir.

AS memberlakukan kembali sanksi-sanksi yang membidik sektor perminyakan, perbankan dan transportasi Iran. AS juga mengancam akan mengambil tindakan tambahan untuk menghentikan kebijakan-kebijakan Iran yang tak sah.

AS juga mengancam akan mengambil tindakan tambahan untuk menghentikan kebijakan-kebijakan Iran yang tak sah.Diketahui Presiden AS Donald Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir internasional dengan Iran pada tahun lalu, sekaligus menjatuhkan sanksi.

Akibatnya, para pekerja, pengemudi truk, petani, dan pedagang di Iran melancarkan aksi protes sporadis terhadap pemerintahan Rouhani.

Langkah-langkah yang dituding Iran sebagai perang ekonomi dan berjanji akan menentangnya itu merupakan bagian dari usaha lebih luas Presiden AS Donald Trump untuk mengekang program-program nuklir dan peluru kendali Teheran. Selain juga ditujukan untuk menghapus pengaruh Iran di Timur Tengah, terutama dukungannya terhadap kelompok-kelompok sekutunya di Suriah, Yaman dan Libanon.

Langkah-langkah Trump itu menyasar sumber utama penghasilan Iran, yakni ekspor minyaknya dan juga sektor keuangannya. Dengan diberlakukannya sanksi baru ini maka 50 bank Iran dan anak-anak perusahaannya terlarang untuk melakukan transaksi dengan bank-bank asing yang memiliki akses kepada sistem keuangan AS.

“Hari ini, negara ini menghadapi tekanan terbesar dan sanksi ekonomi dalam 40 tahun terakhir,” tulis Rouhanis dalam situs kepresidenan.

“Hari ini, masalah kami terutama karena tekanan dari Amerika dan para pengikutnya. Dan, pemerintah yang patuh dan menjalankan sistem Islam tidak boleh disalahkan,” tambahnya.

 

Ali Paphi, pekerja konstruksi menggambarkan buruknya situasi ekonomi Iran. “Saya merasa kehidupan saya dihancurkan. Dengan situasi ekonomi seperti ini, tampaknya kelas buruh harus mati,” ujarnya.

Sebagian besar tekanan ekonomi Iran ini sudah dirasakan beberapa pekan sebelum sanksi resmi diumumkan Trump pada November 2018 lalu. Sikap Trump membuat investor di Iran ketakutan dan mengguncang mata uang Riyal. (S)
null

LEAVE A REPLY