Kalabahi, Semarak.News | Dr. Roddialek Pollo, M.Si (Dosen Undana) Kupang menyebut menanam pohon sangat penting. Menanam pohon tidak saja untuk kehidupan kita, tetapi juga untuk orang lain bahkan seluruh makhluk hidup diatas bumi.

“Penting menanam pohon karena, setiap kita membutuhkan oksigen untuk hidup. Dengan kita menanam pohon maka tanpa sadar kita sedang menyiapkan begitu banyak oksigen yang tidak saja buat orang lain tapi juga untuk kita,” kata Doktor Roddialek saat diwawancarai wartawan di Hotel Pulo Alor Kalabahi, (28/10/19).

Pernyataan ini juga disampaikannya saat menyampaikan materi tentang Pemuda dan Tantangan Pemanfaatan Sumber Daya Alam yang Bertanggung Jawab di Era Industri 4.0 pada kegiatan seminar nasional Lingkungan Hidup Universitas Tribuana Kalabahi di Aula Convention Hall Perjuangan.

Selanjutnya, kata dia, pentingnya menanam pohon. Kalau di daerah tropis seperti kita, energi matahari itu ditampung pada tanaman. Sementara daerah subtropis seperti di Eropa, energi matahari tertampung di tanah.

“Jadi kalau kita di daerah tropis begini kita tebang pohon kita rugi karena kita kehilangan semua, baik oksigennya maupun karbondioksidanya. Kenapa kita di daerah seperti di Alor energi matahari ditampung di pohon karena kalau ditanah mudah menguap,” urainya.

Karena itu, lanjut Doktor Roddialek, dengan kita menanam pohon kita juga menyiapkan oksigen. Selain itu kita juga menyiapkan air, karena air yang mengalir bawah tanah akan tertahan di pohon yang sudah tertampung energi matahari. Air bawah tanah tidak mengalir terus sampai ke laut. “Jadi pada umumnya, tanam pohon itu banyak kepentingan tidak saja buat kita manusia tetapi segala macam makhluk hidup. Kalau daerah gersang sangat tidak nyaman jadi harus ada banyak pohon,” sambungnya.

Dia lalu berpendapat, setiap orang yang mau menikah harus tanam satu pohon sebagai bukti cinta dan harus dipelihara hingga bertumbuh kembang. Pohon tersebut tidak boleh mati.

“Bicara tentang pohon tidak saja sampai disitu. Sovenir kenapa tidak dikasih pohon supaya mereka pulang bisa ditanam. KKN setiap tahun tidak saja kerja jalan dan sebagainya tapi bisa dilakukan dengan cara penanaman pohon,” ungkapnya.

Selanjutnya, Roddialek juga menjelaskan, khusus pemanfaatan sumber daya alam, Alor sebenarnya daerah subur karena itu jika dibangun dengan baik dan benar Alor satu saat akan menjadi daerah yang lebih berkembang maju dari 22 kabupaten/kota di NTT.

Untuk wilayah kabupaten Alor, situasi iklim kedepan memang ekstrim tetapi tidak perlu kaget. Sebab Alor dengan topografi daerah kepulauan itu sudah menjadi sebuah tantangan.

“Alor sudah terbiasa dengan menghadapi masalah-masalah yang sulit. Jadi kalau bicara tentang perubahan iklim, memang terjadi perubahan iklim tetapi yang paling dikuatirkan adalah bila terjadi musim hujan yang singkat/pendek. Sebab bisa gagal juga dengan pertanian kalau tidak hati-hati. Tapi menurut saya Alor sudah siap menerima situasi apapun, sebab kalau berbicara tentang perubahan iklim tidak menjadi soal,” urainya lagi.

Ia mengatakan, yang menjadi soal adalah bagaimana kita menyadarkan peran pemuda memanfaatkan lingkungan, manfaatkan sumber daya alam yang Tuhan kasih. Sebab masih banyak daerah lain yang lebih parah dari Alor.

Seminar nasional Lingkungan Hidup di Aula Convention Hall Perjuangan Batu Nirwala

“Contoh seperti Israel. Kalau kita di NTT rata-rata tiga sampai empat bulan basah atau musim hujan. Alor masih memiliki potensi curah hujan yang tinggi. Israel yang memiliki tumbuh-tumbuhan yang hebat, padahal mereka hanya memiliki waktu hujan hanya 5 hari dalam setahun dan paling tinggi 10 hari hujan,” katanya.

Nah apa kelebihan mereka, karena walaupun hujannya sedikit, mereka memanfaatkan itu dengan mengembangkan tanaman holtikultura dengan baik. Sebab dimana radiasi suhu semakin panas disitu kualitas buah-buahan semakin bagus dan kesempatan itu mereka manfaatkan dengan baik. “Jadi kalau kita di Alor dengan kondisi curah hujan yang masih bagus saya kira kita lebih memaksimalkan menanam tanaman holtikultura,” kata Roddialek.

“Jadi siapa yang bilang kita kekurangan air, saya kira tidak, hanya kita yang kurang memahami keadaan alam yang ada untuk kita memanfaatkan dengan baik. Jumlah curah hujan kita paling banyak 1000 sampai 1.500 mm per tahun,” tandasnya.

Ia kembali menyebut, hal ini sudah harusnya didorong dengan kebijakan pemerintah. “Kampus hanya melahirkan ide-ide tapi kampus tidak bisa eksekusi, karena kampus tidak punya anggaran. Yang punya anggaran adalah pemerintah. Kalau pemerintah sudah bilang kebijakan tentu diikuti dengan keuangan. Kampus hanya melahirkan ide-ide pemerintah lah yang menyiapkan lapangan kerja,” imbuhnya sembari menyebut untuk kepentingan Alor yang maju kedepan sudah saatnya semua komponen bergandengan tangan dan bersinergi dalam membangun Alor yang lebih baik.

Sebelumnya, ketua panitia Adolfina Oualeng menjelaskan segala persiapan menuju rangkaian kegiatan ini berjalan dengan baik. Ia menyebut, untuk kegiatan seminar, selain dua narasumber nasional yang hadir, ada juga narasumber lokal dari kampus UNTRIB Kalabahi.

“Narasumber lokal dari UNTRIB itu atas nama Eunike Molebila, S.Th, M.Th selaku ketua prodi IPTH dan dua Dosen Progdi Kimia Faryda Y.L. Kolly, S.Pd, M.Sc dan Martasiana Karbeka, S.Si, M.Sc,” jelasnya.

Adolfina menyebut, konsep kegiatan seminar ini tentang bagaimana manusia memelihara lingkungan dengan baik. Minimal peran pemuda dalam melihat lingkungan sekitar bukan saja di lingkungan alam tetapi juga dalam lingkungan sosial. *(Joka)

LEAVE A REPLY