Tolak Neoliberalisme Aliansi Buruh Dan Mahasiswa Unjuk Rasa

aksi bakar ban (source: istimewa)

Makassar, Semarak.news – Memperingati Hari Tani Nasional saat ini sepertinya tidak di rayakan layaknya hari-hari jadi lainya. Bukan dengan dihadiri pejabat penting, bukan dengan akrobatik pesawat, ataupun pawai.

Hari Tani Nasional saat ini mengingatkan pilu saudara kita yang ada di seluruh Indonesia. Saudara yang memeras keringat untuk mencukupi pangan sehari-hari rakyat Indonesia. Bahan makanan pokok yang selalu di impor dari negara lain.

Negara agraris yang mengimpor hasil kekayaan agraris dari negara non-agraris. Sebutan yang dilontarkan oleh aliansi buruh dan mahasiswa ialah “Indonesia Darurat Agraria”.

Mengingat banyak nya ladang padi maupun ladang pertanian yang sudah banyak tergusur oleh kepentingan lain.

New Yogyakarta International Airport contohnya, untuk membangun bandara ini membutuhkan luas tanah 587 hektar tanah. Luas tanah ratusan hektar ini berpotensi menggusur banyak lahan pertanian. Pasalnya, banyak masyarakat Kulon Progo yang berprofesi sebagai petani.

Berhubungan dengan hal itu, gabungan buruh dan mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa di pertigaan Adipura Tello (24/09/2018), pertigaan yang menghubungkan Jalan Urip Sumohardjo dan Jalan Dr Hermina.

pengunjuk rasa membentangkan poster dan spanduk (sumber: istimewa)

Buruh dan mahasiswa melakukan aksi membuat lingkaran di tengah pertigaan. Ditengah lingkaran para pengunjuk rasa melakukan orasi bergantian dan membakar ban bekas.

Mereka merasa sangat susah menjadi petani saat ini. Banyak kasus penggusuran maupun tindakan represif dari aparat yang tidak terekspos. Mahasiswa yang orang tuanya petani sekarang susah membayar kuliah dan makan sehari-hari.

Kebijakan impor beras yang masif di duga menjadi anjlok nya rupiah saat ini. Para pengunjuk rasa meminta ketegasan dan profesionalitas para pemangku jabatan, agar bisa membenahi Indonesia kedepanya.

Ada beberapa Universitas yang tergabung dalam aksi tersebut, seperti, Unismuh, UMI, Unhas, dsb. Aksi di pimpin oleh Anjas dari Universitas Muhammadiyah Makassar.

pengunjuk rasa melakukan orasi bergantian (source: istimewa)
Tidak ada aksi anarkis maupun gesekan dalam aksi unjuk rasa tolak neoliberalisme ini. Aksi terhenti karena adanya iring-iringan orang meninggal dan membubarkan massa aksi. (ABP)

 

TINGGALKAN BALASAN