Semarak Kegiatan Women’s March Surabaya 2018

Peserta Women's March Surabaya 2018 Melakukan Long March (Sumber: Semarak.news)

Surabaya, Semarak.news — Pagi ini (4/2/2018) pada Car Free Day (CFD) Taman Bungkul berlangsung kegiatan Women’s March Surabaya 2018. Kegiatan ini menjadi kegiatan Women’s March pertama yang dilangsungkan di Surabaya dalam rangka menyambut Hari Wanita Internasional (International Women’s Day) yang diperingati setiap 8 Maret.

“Animo masyarakatnya di luar ekspektasi. Kita perkirakan hanya 100 orang. Partisipan yang individu saja sampai lebih dari 100 orang, dari komunitas-komunitas lebih dari 75 orang, dan ditambah dari panitianya juga. Jadi total sekitar 200 orang.” ujar Rinta (28), Koordinator bidang perlengkapan Women’s March Surabaya 2018.

Semangat masyarakat surabaya dalam mendukung kegiatan Women’s March ini terlihat dari ramainya partisipan yang membawa berbagai poster berisi pesan-pesan mengenai kesetaraan gender dan penolakan terhadap aturan hukum yang diskriminatif terhadap kelompok marjinal.

Kegiatan dimulai sejak pukul 06.30 WIB berlokasi di depan Loop Station depan Taman Bungkul. Selanjutnya seluruh peserta bersama penyelenggara berjalan dengan rute dari Loop Station, Taman Bungkul ke arah Jl. Urip Sumohardjo dan berputar di depan Hotel Grand Mercure hingga kembali lagi ke Loop Station, Taman Bungkul.

Kegiatan long march tersebut juga diwarnai dengan nyayian yang dipimpin pihak penyelenggara berisi penolakan terhadap RKUHP yang dianggap diskriminatif terhadap perempuan dan kelompok marjinal. Selain itu, beberapa kali juga diperdengarkan orasi oleh perwakilan komunitas yang berfokus pada isu diskriminasi pada kaum perempuan, pernikahan usia dini dan perlindungan terhadap anak.

Usai long march, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan self defense yang dipandu langsung oleh Poedjiati Tan. Pelatihan self defense dilakukan untuk memberikan edukasi mengenai pertahanan diri oleh perempuan yang mengalami kejahatan seksual.

Berbagai kalangan memuji kegiatan Women’s March Surabaya 2018, salah satunya adalah Dede Oetomo (64), Pembina GAYa Nusantara.

“Bagus, Surabaya bergerak di isu perempuan. Acara seperti ini menimbulkan semangat kembali dan mengingatkan kita kembali untuk menyuarakan kesetaraan.”

Beliau juga menilai RKUHP yang akan disahkan merupakan langkah yang terlalu terburu-buru karena masih terdapat beberapa pasal yang bermasalah dan menyalahi semangat demokrasi.

Pujian untuk kegiatan Women’s March Surabaya 2018 juga disampaikan oleh peserta dari kalangan mahasiswa yang menilai bahwa kegiatan tersebut dapat menjadi ajang dalam mengajak masyarakat untuk memperhatikan kesetaraan gender.

“Yang paling kami perhatikan itu di antaranya pasal di RKUHP yang mengatur perzinahan karena akan memudahkan aksi persekusi bagi pasangan-pasangan yang belum memiliki surat nikah.” tutur Anida (18), mahasiswa Fakultas Hukum UNAIR.

Komentar lain disampaikan oleh Nunuk (34), Direktur LSM Koalisi Perempuan Ronggolawe yang berfokus pada permasalahan perempuan dan anak juga menolak disahkannya RUKHP karena sangat diskriminatif.

Diskriminasi tersebut terlihat pada pasal yang menjelaskan bahwa pasangan yang menikah sirih dapat diproses secara hukum. Padahal kondisi di Indonesia khususnya di lokasi-lokasi pedalaman yang sulit untuk dapat akses ke pengadilan agama sehingga tidak dapat mengurus surat nikah dan menikah sesuai tata cara adat yang berlaku. [AG]

TINGGALKAN BALASAN