Semarak.News – Kebersihan pangkal kesehatan. Manusia dapat memelihara kesehatan diri dan lingkungannya tidak harus dengan cara yang mewah. Menjalani hidup dengan sederhana dengan tetap menjaga kebersihan dimulai dari diri sendiri, area rumah, dan lingkungan sekitar menjadi tolok ukur bagi kesehatan hidup manusia dapat dipertahankan. Bebas kuman, penyakit, bahkan kehidupan yang nyaman merupakan dambaan setiap insan manusia. Menikmati lingkungan yang masih terjaga keindahan dan keasriannya tak luput jadi kebahagiaan setiap keluarga. Menyaksikan hijaunya alam yang rindang sungguh menyejukkan mata dan pikiran. Sehingga kepuasan hidup dapat terpenuhi dengan mudahnya.

Tapi, nyatanya riskan. Negara Indonesia dengan lebih dari 17 ribu pulau masih menanggung peliknya suatu kenyataan yang tak kunjung usai untuk diperbincangkan. Permasalahan sampah – hingga kata ini menjadi sebutan bahan olokan karena cenderung menjadi buah bibir dalam kehidupan sehari – hari. Sampah seolah menjadi masalah penting setiap daerah di Indonesia yang harus segera diselesaikan. Jumlahnya yang semakin menggunung, membuat elemen pemerintahan memutar otak mengendalikan berbagai kecaman masyarakat akan efek dan bahaya sampah. Pemerintah pun juga bingung akan keadaan seperti itu. Karena semua bersumber dari masyarakat itu sendiri. Perilaku membuang sampah secara sembarangan menjadikan penumpukan sampah yang harus dipilah kembali untuk diseleksi kegunaan dan manfaat setelah pemakaian.

Salah satu produk sampah yang sulit diatasi yaitu jenis sampah plastik. Plastik dapat dikatakan menjadi sampah apabila sudah tidak digunakan atau dimanfaatkan, tidak layak pakai, rusak, dan terbuang. Plastik terbuat dari senyawa kimia yang membutuhkan waktu lama bahkan cenderung sulit untuk diuraikan oleh alam. Dibakar pun akan memunculkan asap hitam berakibat pada polusi udara dan apabila kepulan asap hitam tersebut terhirup oleh pernapasan manusia, bisa berpotensi sesak napas dan kecenderungan merusak paru – paru. Hasil pembakaran sampah plastik masih menyisakan problematika. Pasalnya, tumpukan plastik yang tidak habis terbakar akan tertimbun ke dalam tanah, membuat tanah tidak subur cenderung rusak dan berakibat pada matinya tanaman disekitarnya. Sehingga tanah yang mengandung sampah plastik dipastikan akan gersang, kering, dan berefek pada daerah yang panas.

Terkait sampah plastik telah menjadi polemik bagi Indonesia. Dampak yang ditimbulkan seolah menjadi tanggung jawab bersama baik dari pemerintah maupun masyarakat sendiri. Bukan lagi soal wacana, tetapi bukti nyata. Solusi yang dimunculkan bukan soal larangan penggunaan plastik sebagai kantong maupun kemasan, namun bisa dimungkinkan mengurangi penggunaan plastik, tapi tidak bisa sampai 0 persen. Karena hal itu cenderung kurang relevan dengan kenyataan saat ini. Edukasi mengenai dampak negatif sampah plastik ke masyarakat perlu digalakkan kembali.

Penanganan yang mungkin bisa dilakukan yakni sesuai yang ada dalam Undang – Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Sampah. Dalam peraturan tersebut berisikan bahwa menjadi kewajiban pemerintah daerah untuk mengelola kembali sampah dengan baik yang dapat dimanfaatkan sebagai energi listrik, pupuk ramah lingkungan, dan kemasan daur ulang. Memang dalam realisasi dan implementasinya kurang berjalan optimal. Ditambah tidak adanya fasilitas pendukung yang mengakomodasi, membuat masyarakat malas akan pentingnya membuang sampah pada tempatnya. Perlu didukung penyediaan infrastruktur yang memadai, salah satunya dengan adanya ide pendirian Bank Sampah. Keberadaan Bank Sampah akan membuat sampah plastik (khususnya) memiliki nilai ekonomi, menghidupi banyak pihak, tak terkecuali pemulung, serta secara tidak langsung masyarakat akan terbiasa mengumpulkan sampah dan sadar akan hidup bersih dan nyaman.

Sampah plastik bukan lagi budaya. Maka, jagalah kebersihan sebagai modal hidup sehat. Timbulkan sikap peduli terhadap lingkungan sejak dini. Karena dari kepedulian, lahirlah keberanian.

V.A.L.

LEAVE A REPLY