Dosen STAIN Majene Jelaskan Kerjasaman Mahasiswa dan Dosen Diperlukan untuk Mencegah Radikalisme

Dosen STAIN Majene Jelaskan Kerjasaman Mahasiswa dan Dosen Diperlukan untuk Mencegah Radikalisme

0
14

Majene, Semarak.News — Isu berkembangnya radikalisme di kalangan pemuda menarik untuk dibahas. Karena itu, Perhimpunan Pelajar Mahasiswa Mamuju (Permaju) yang berada di Kab. Majene tertarik mengangkat diskusi dengan tema Peran Pemuda dan Mahasiswa dalam Menangkal Radikalisme di Dunia Kampus pada Sabtu malam, (29/2) di Godwill 17 Cafe Majene.

Acara yang dihadiri para Mahasiswa dari berbagai Organisasi Kepemudaan di Majene itu mengundang beberapa ahli terkait radikalisme. Salah satunya Akademisi dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Majene sekaligus Tokoh Agama di Majene, Ustadz Said.

Ia mengatakan, untuk mencegah radikalisme di tingkat Kampus tidak hanya menitikberatkan pada mahasiswa semata, namun diperlukan peran Dosen dan civitas akademika dalam memerangi paham tersebut.

“Para Dosen diminta dapat meningkatkan kepedulian kepada mahasiswa dan aktif mengingatkan Mahasiswa untuk menghadiri kegiatan kampus yang positif”, jelas Ustadz Said. Tenaga pendidik diharapkan aktif berkomunikasi dengan mahasiswa serta aktif memberikan kegiatan positif seperti olahraga dan diskusi untuk mengisi waktu luang mahasiswa. Ia beranggapan waktu luang yang dimanfaatkan dengan kurang tepat mengakibatkan mahasiswa berpeluang masuk dalam pemahaman agama yang salah.

Selain itu radikalisme juga dapat dicegah oleh mahasiswa itu sendiri dengan cara meningkatkan rasa nasionalisme di tingkat mahasiswa. Memberikan pemahaman moderat terbuka dan toleran serta selalu mewaspadai provokasi, hasutan dan pola rekrutmen yang menyesatkan. “Mahasiswa juga diminta selalu membangun jejaring offline dan online untuk menambah pengetahuan,” kata Said di hadapan Mahasiswa.

Ketua Umum Permaju Majene Masdaud mengatakan, Gerakan radikalisme ditengarai sudah menyusup kekalangan akademisi, sehingga mahasiswa harus melakukan langkah pencegahan dan mengetahui ciri dari paham tersebut.

Menurutnya, salah satu lahirnya gerakan terorisme dimulai dari adanya pemikiran yang sangat mudah mengkafirkan orang lain, mudah membi’dahkan amalia seseorang atau kelompok tertentu dan mudah mencap seseorang akan masuk neraka jika tidak sepaham dengan mereka.

“Secara umum baik pimpinan pusat sampai cabang sangat prihatin dengan kondisi ini. Sehingga kami menginisiasi kegiatan ini untuk membuka ruang komunikasi dan bersosialisasi khususnya mahasiswa untuk menghindari kajian radikal,” ujarnya.

Mahasiswa sebagai kalangan intelektual yang nalurinya sedang mencari jati dirinya boleh saja mempelajari berbagai paham dan kajian Ilmu pengetahuan. Namun dia berharap agar mahasiswa dapat menelaah dan mencari kebenaran suatu pendapat melalui berbagai sumber terpercaya. (MAS)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY