Penulis: Wahyu Eka Setyawan

Setiap saat kita selalu disuguhi drama cebong dan kampret, sungguh itu membosankan sekali. Kenapa yang seharusnya kita mendengarkan visi dan misi capres-cawapres, terpaksa harus mengikuti komentar-komentar tidak jelas dari kedua pendukung fanatik mereka. Tentu ini menjengkelkan, alih-alih tertarik memilih di pemilu nanti, malah rasa untuk menjadi warga negara yang baik itu pelan-pelan hilang. Jujur, ini bukan sebuah ajakan golput, hanya ungkapan kekecewan atas statisnya dinamika politik sekarang ini.

Drama ini berawal dari upaya kampanye, guna menguatkan suara capres-cawapres yang mereka dukung. Alih-alih kampanye kreatif, ujung-ujungnya malah terjebak dalam kenyinyiran yang tidak perlu. Jujur, ini pertarungan antar pendukung capres-cawapres yang paling tidak bermutu dalam sepanjang sejarah pemilihan langsung. Tidak ada pertarungan gagasan yang benar-benar otentik, menggelitik dan menggugah otak agar tergugah memilih kedua calon. Kalau boleh membandingkan soal mutu kampanye, lebih bermutu pertarungan kedua kandidat presiden di awal keduanya bertarung. Jelas tendensinya, programnya jelas, janji manisnya pun jelas. Tidak seperti sekarang yang absurd dan terlalu ad hominem. Sampai urusan keluarga dibahas dan dijadikan kampanye.

Mengapa, para pendukung kedua calon selalu mengomentari hal-hal yang tidak substansial. Jika dikubu kampret lebih membahas terkait urusan personal seperti pelafalan Al-Fatihah menjadi Alpatehah, Zainudin Yahtirom jadi Jaeinudin Nachiro, sampai pada hal terkait ibadah mereka singgung dan perdebatkan. Setali tiga uang, kubu cebong juga sama saja, sama-sama tak berbobot komentarnya. Mereka mudah tersulut api, lalu mempersoalkan pelafalan Hulaihi Wassalam oleh capres junjungan kampret. Lantas dengan jumawa menantang capresnya para kampret untuk mengimami sholat, hingga tantangan duel baca Al-Quran. Itu apa, jujur tidak berfaedah sekali. Padahal ada yang lebih penting dari nyinyiran tak jelas tersebut.

Aneh memang, seharusnya para pendukung kedua kubu melihat persoalan yang lebih substansial, memiliki relevansi dengan problem-problem yang tengah dihadapi oleh republik ini. Misalnya, bagaimana implementasi Nawacita, apa kabar penyelesaian kasus HAM masa lalu? Lebih spesifik lagi, bagimana penyelesaian Munir? Sejauh mana rencana rekonsiliasi dan penyelesaian pelanggaran HAM berat? Dalam konteks terkini, seharusnya mereka berkomentar terkait sweeping buku oleh tentara, kenapa bisa terjadi.

Lantas, apa yang akan ditawarkan oleh kedua capres-cawapres dalam memperbaiki Indonesia. Berani tidak capres-cawapres melakukan rekonsiliasi 65, atau mengungkap problem HAM berat. Berani tidak kedua kubu menggaungkan reforma agrari dan penyusunan rencana tata ruang yang pro terhadap lingkungan hidup. Berani tidak mereka bertaubat tidak berbisnis, dan berhubungan dengan cukong-cukong korporasi ekstraktif. Itu yang seharusnya dikomentari, bukan hal-hal yang tidak penting seperti yang disebutkan di atas. Tidak perlu mengomentari yang tidak signifikan dan relevan dengan nasib republik ini di masa yang akan datang.

Perlu diketahui, seabsurd-absurdnya kampanye yang mereka produksi dan didistribusikan ke khalayak luas. Terdapat struktur yang tersusun rapi, terdapat relasi antara pendukung dan yang didukung, semacam ada garis yang terhubung. Suatu fenomena itu tidak tiba-tiba ada, namun memiliki keterkaitan dalam suatu struktur yang tersusun rapi. Misal, relasi pendukung dengan yang didukung itu bukan sekedar gerak impulsif. Mereka digerakkan oleh yang namanya keinginan, tentu itu sudah diciptakan sedemikian rupa melalui framing media, hingga berkaitan dengan arahan langsung dari tim kampanye. Ada pola-pola hubungan politik klientisme di sini.

Ini jelas menunjukan suatu pola, di mana pola-pola kampanye yang dilakukan tak lagi sekedar menggaungkan keberhasilan salah satu capres, dengan segala heroismenya atau tawaran-tawaran gagasan yang menggugah selera agar memilih. Namun juga menyerang sisi-sisi lain yang lebih personal, sehingga kehilangan substansi dari esensi politik yang cerdas itu sendiri, yakni pertarungan gagasan dan program. Kondisi demikian juga turut dipengaruhi oleh pergeseran prefrensi pemilih, seperti terkait orientasi isu dan kandidat. Tren pemilih sekarang dapat diasumsikan lebih suka membahas sosok sebagai simbol, ketimbang pemikiran ataupun sisi ideologis dari capres dan cawapres.

Secara tidak langsung, ini membuktikan jika pendidikan politik kita gagal. Partai tak lagi menjalankan fungsinya sebagai edukator, dengan turut menyebarkan gagasan politik sesuai garis ideologi. Mereka hanya menawarkan janji dan cara-cara instan yang sebenarnya membodohi. Itulah yang namanya hegemoni, dalam upaya memperteguh relasi kuasa. Simbol diciptakan guna merekonstruksi paradigma politik, tentu agar terjebak dalam hegemoni, guna melanggengkan dominasi kuasa. Simbol inilah yang menjadi paradoks, alih-alih menciptakan narasi kritis malahan yang terjadi depolitisasi laten kian masif.

Salah satu buktinya adalah gaduh kampret dan cebong. Mereka tidak melihat pada pertarungan gagasan, tapi lebih ke pertarungan siapa personal yang lebih baik. Mereka juga tidak bertarung di level narasi yang membahas terkait janji-janji kampanye dan pengimplementasiannya, mereka malahan terjebak dalam glorifikasi personal.

Tentu ini alarm gawat bagi masa depan perpolitikan dan demokrasi Indonesia. Ke depan kondisi semacam ini akan terus direproduksi, karena hanya menguntungkan segelintir orang.  Penulis meresa pesimis akan ada wajah-wajah baru yang menghiasi perpolitikan negeri, mereka yang memiliki idealisme, gagasan serta inovasi otentik. Dan rasa pesimisme ini turut bercampur dengan rasa takut, mengenai apakah para pemuda-pemudi di negeri ini akan benar-benar sadar dan melek politik, jika situasi semacam ini terus dilanggengkan. (WE)

LEAVE A REPLY