Pembebasan Lahan Masih Menjadi Masalah Krusial Pembangunan LRT Palembang

Progres Pembangunan LRT Palembang. Dok: Sriwijayapos

Jakarta, Semarak.News – Hingga saat ini, pembangunan light rail transit (LRT) Palembang masih menghadapi kendala. Moda transportasi masal yang ditargetkan untuk diuji coba pada bulan Februari 2018 mendatang mengalami kendala pembebasan lahan. lahan Tujuh dari 13 stasiun yang rencananya akan dibangun, belum mendapatkan titik temu pembebasan lahan.

Apabila kendala pembebasan lahan itu tidak segera diselesaikan, maka rencana penggunaan LRT untuk moda transportasi atlet Asian Games 2018 akan dibatalkan, sehingga upaya pemerintah untuk memperkenalkan moda transportasi masal LRT agar dapat menggurangi penggunaan kendaraan pribadi akan mengalami kemunduran dari jadwal yang telah ditentukan.

Kondisi itu diungkapkan pejabat pembuat komitmen (PPK) LRT Palembang dari Kementerian Perhubungan Suranto. “Pengerjaan LRT ini berpacu dengan waktu yang diproyeksi selesai pada Juni mendatang,” ujar Suranto setelah rapat penyelesaian permasalahan akses stasiun di Hotel Batiqa.

Saat ini waktu yang tersisa untuk menuntaskan proyek tersebut tidak lebih dari lima bulan. Sementara, berdasarkan Perpres 116/2015 jaringan LRT terdiri atas lintas pelayanan Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II – Masjid Agung Palembang – Jakabaring Sport City dengan jalur sepanjang 23,4 kilometer.

Kepala Proyek LRT Palembang dari PT Waskita Karya Masudi Jauhari mengapresiasi upaya percepatan pembebasan lahan dengan bantuan pemda. Pihaknya berharap bisa terus bekerja sambil dilakukan pembebasan lahan. “Lahan dikerjakan dan dibayar kepada pemilik lahan setelah ada anggaran,” ujarnya.

Pembangunan proyek LRT Palembang sendiri telah direncanakan sejak Oktober 2015 lalu dengan PT. Waskita Karya sebagai kontraktornya. Sementara itu, untuk pembiayaannya didukung oleh enam lembaga keuangan dengan nilai Rp 4,59 triliun. Adapun keenam lembaga tersebut antara lain PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ, Ltd. (BTMU), PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), Bank Pembangunan Daerah Sumsel-Babel, dan Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten (BJB). Sedangkan nilai total kontrak proyek tersebut mencapai Rp 12,59 triliun.

TINGGALKAN BALASAN