Kehidupan dan Pergumulan Seorang Hamba Tuhan

Kehidupan dan Pergumulan Seorang Hamba Tuhan

0
19

Yeremia 15: 10 – 21

“Kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras diantara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan menegor kamu; dan supaya kamu sungguh-sungguh menjunjung mereka dalam kasih karena pekerjaan mereka. Hiduplah selalu dalam damai seorang dengan yang lain.” (I Tesalonika 5:12-13)

Ada ungkapan yang mencoba menggambarkan kehidupan dan pergumulan seorang hamba Tuhan. Jika ia berusia muda, ia dianggap kurang pengalaman. Jika rambutnya telah putih, ia dianggap terlalu tua untuk kaun muda.

Jika ia berkhotbah dengan catatan, khotbahnya dicap kering dan kurang kuasa Roh Kudus. Jika ia berkhotbah tanpa catatan, ia dianggap kurang persiapan. Jika ia melayani orang-orang miskin di gereja ia dianggap sok pamer.

Jika ia menaruh perhatian pada orang-orang kaya ia dianggap berusaha menjadi orang yang pilih kasih. Jika ia berusaha melakukan pembaharuan ia dituduh sewenang-wenang. Jika ia melanjutkan saja apa yang ada ia dianggap boneka. Jika ia memakai terlalu banyak ilustrasi dalam khotbahnya, ia dianggap mengabaikan Alkitab

Jika ia tidak menggunakan ilustrasi dalam khotbahnya, khotbahnya dianggap tidak jelas. Jika ia mencela kesalahan ia dianggap cepat marah

Jika ia tidak berkhotbah menentang dosa ia dianggap melakukan kompromi. Jika ia gagal menyenangkan setiap orang ia dianggap melukai gereja dan harus pergi. Jika ia membuat semua orang bahagia ia dianggap tidak berpendirian

Jika ia mengendarai mobil yang jelek ia dianggap mempermalukan jemaat. Jika ia mendapat mobil yang baru ia dianggap menunjukkan kecintaannya kepada harta duniawi. Jika istrinya aktif dituduh mau menonjolkan diri. Jika istrinya tidak aktif dianggap tidak mendukung pelayanan suani. Jika ia menerima gaji yang besar ia dianggap mata duitan.

Jika ia menerima gaji yang kecil dan hidup di dalam kekurangan mereka mengatakan bahwa ia memang layak mendapat segitu.

Saudara, ungkapan ini mungkin terlalu berlebihan menggambarkan kehidupan dan pergumulan seorang hamba Tuhan atau Pendeta. Tetapi. Ungkapan-ungkapan tersebut mencerminkan sikap umum yang terjadi di tengah-tengah jemaat di banyak tempat. Meskipun seorang Pendeta menunaikan tugas pelayanan dan panggilannya dengan setia dan sebaik-baiknya akan selalu saja ada orang yang mencari-cari kesalahannya, menentang di belakang dirinya atau mencela tindakannya di muka umum.

Hal seperti ini seringkali mengakibatkan pergumulan yang sangat berat di hati seorang hamba Tuhan atau Pendeta; bahkan juga bagi anggota keluarga si Pendeta itu sendiri, entah itu istri atau anak-anaknya.

Sewaktu di sekolah Teologia saya mempunyai seorang teman yang lulus dengan predikat Cum Laude dan anak seorang Pendeta; tetapi ia tidak ingin masuk ke jemaat dan menjadi seorang Pendeta. Ia beralasan bahwa ia tidak ingin menjadi Pendeta karena ia melihat begitu banyak sikap dan tindakan anggota jemaat yang diterima orangtuanya atau Pendeta lainnya yang kurang berkenan di hatinya. Ia lebih suka menjadi pembina rohani tanpa terikat dalam kehidupan jemaat. Ini contoh konkret bahwa pergumulan seorang Pendeta dapat mempengaruhi kehidupan anggota keluarganya.

Contoh yang lain. Ada seorang hmba Tuhan yang lebih rela menanggalkan jabatannya sebagai Pendeta dan memulai usaha atau kerja yang lain. Sebab ia merasa bahwa beban dan pergumulan yang dihadapi dirinya dan keluarganya sudah demikian berat. Ia sudah tidak sanggup. Lebih baik menanggalkan jabatan kependetaannya daripada terus-menerus berada di dalam ketertekanan.

Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, memang tidak salah kalau dikatakan bahwa kehidupan seorang hamba Tuhan, Pendeta, Pengerja; penuh dengan tantangan yang berat. Bacaan kita Yeremia 15: 10-21 memperlihatkan betapa beratnya pergumulan seorang hamba Tuhan. Ia menderita karena kesetiaannya pada tugas panggilannya sebagai seorang hamba Tuhan.

Pada ayat 10 dikatakan bahwa ia mengutuki hari kelahirannya. Ia menyesali kenapa ia dilahirkan. Coba Saudara bayangkan jika suatu hari anak Saudara datang dan mengatakan bahwa ia menyesal kenapa ia dilahirkan. Ia mengutuki hari dimana ibunya melahirkannya. Saudara pasti marah dan kecewa. Yeremia mengatakan hal seperti itu karena ia merasa kecewa. Ia menjawab panggilan Tuhan untuk menjadi hambaNya tetapi yang ia terima adalah hujatan, kritikan pedas yang menyakitkan dan menjatuhkan bahkan tidak jarang ia menderita fisik karena perlakuan kasar umat Israel saat itu. Di saat ia membutuhkan dukungan dan pertolongan ia tidak menemukan seorang pun yang dapat dipercayainya yang dapat menolongnya. Sebagai nabi yang mempunyai pergumulan berat bahkan sangat berat tetapi tetap berusaha setia kepada Allah yang memanggilnya, ia mempertanyakan Tuhan mengapa ia mengalami hal seperti itu.

Saudara, sebagai seorang hamba Tuhan, seorang Pendeta pun, tidak jarang ketika ia tidak lagi dapat menemukan seorang anggota jemaat atau anggota Majelis Jemaat yang dapat dipercaya menolong dirinya, maka ia menyadari bahwa hanya tinggal Tuhan sajalah satu-satunya yang menjadi lawan bicara, sandaran kekuatan dan penghiburannya. Ketika ia merasa sendirian ia tetap merasakan kekuatan dan kasih Tuhan menolongnya. Ia mengadukan semua pergumulan dan kesulitannya kepada Tuhan.

Apa jawaban Tuhan bagi setiap hambaNya yang setia? Ayat 19 – 21 menggambarkan jawaban Tuhan bagi setiap hamba Tuhan atau Pendeta yang setia kepadaNya. Tuhan akan menolongnya. Tuhan tidak akan tinggal diam. Tuhan akan menjauhkannya dari segala macam bahaya yang mengancam jiwa dan kehidupannya.

Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, dari bahan bacaan kita ini yang menggambarkan kehidupan Yeremia kita dapat melihat dua segi kehidupan seorang hamba Tuhan atau Pendeta.

1. Seorang hamba Tuhan, Pendeta, adalah seorang manusia (ayat 10, perhatikan ada kata ‘seorang’). Sebagai seorang manusia ia tidak sempurna. Ia bisa saja melakukan kesalahan. Ia mempunyai keterbatasan. Ia tidak mungkin pandai dan terampil dalam semua hal. Sebagai manusia ia pasti pernah gagal dan membuat kesalahan. Oleh sebab itu, sebagai seorang manusia, seorang hamba Tuhan, seorang Pendeta, memerlukan dukungan jemaat bagi pelayanannya, yaitu dukungan doa serta kritikan atau saran yang membangun dan bukannya celaan yang menjatuhkan.

Kritikan tidak sama dengan celaan. Kritik berarti kita secara kritis melihat kelebihan dan kekurangan seorang Pendeta. Setelah melihat kekurangannya kita kemudian memberikan masukan bagaimana ia dapat mengatasi kelemahannya itu. Sedangkan celaan berhenti pada saat kita hanya melihat kekurangan dan mengomentari bahkan menjatuhkannya tanpa pernah mau memberikan masukan bagaimana mengatasi kelemahan tersebut.

Saudara, sehebat atau seterkenal apapun seorang hamba Tuhan, Pendeta, ia tetap membutuhkan dukungan positif dari jemaatnya. Tidak pernah ada seorang hamba Tuhan yang berhasil tanpa dukungan jemaatnya. Tidak ada seorang pun hamba Tuhan, Pendeta, yang sukses dalam pelayanannya tanpa dukungan doa serta kritikan dan saran dari Penatua dan warga jemaat.

Apabila jemaat hanya melihat dan mencari-cari kelemahannya maka ia pasti gagal. Bahkan seorang pengkhotbah atau Pendeta yang terkenal pun jika diperlakukan seperti itu ia pasti jatuh dan gagal dalam pelayanannya.

Tetapi jika Saudara tidak dapat menahan diri melihat kesalahan seorang hamba Tuhan yang tidak mau menerima kritik dan saran warga jemat yang menyayanginya; sampaikan secara pribadi atau melalui orang lain yang dianggap tepat dan bijak menyampaikannya. Apabila tidak mau berubah juga sampaikan itu secara aturan gerejawi agar masalahnya dapat diproses lebih lanjut.

2. Seorang hamba Tuhan, Pendeta, adalah manusia yang terpanggil untuk memberitakan kebenaran Firman Tuhan dan kebaikan bagi warga jemaat dan sesama manusia (ayat 19)

Seorang hamba Tuhan- Pendeta – adalah penyambung lidah Tuhan. Sebagai penyambung lidah Tuhan tugas utama seorang hamba Tuhan ialah memberitakan firman Tuhan entah itu melalui khotbah, PA, pelawatan dan sebagainya. Tugas seorang hamba Tuhan ialah menghadirkan Kristus, sang Firman Kehidupan, yang dinyatakan dalam pelayanan firman.

Seorang hamba Tuhan yang setia, seperti Yeremia, tentu saja isi pemberitaannya harus membangun pertumbuhan jemaat. Ia harus kritis melihat kehidupan umatnya. Apabila perlu ia harus menyampaikan khotbah yang pedas tetapi membangun seperti yang dilakukan Yeremia. Untuk membangun jemaat tidak jarang isi pemberitaannya berupa kritikan yang tajam atas perilaku kehidupan jemaat yang tidak sesuai dengan isi firman Tuhan. Harus diakui bahwa tidak semua warga jemaat mau ditegur oleh seorang hamba Tuhan. Ia bisa saja dicaci maki atau dimusuhi warga jemaatnya; sama seperti yang dialami oleh Yeremia ketika ia menyampaikan kritik pedasnya atas hidup umat Israel saat itu, Yeremia dicaci maki bahkan dianiaya.

Oleh sebab itu, sebagai seorang hamba Tuhan, Pendeta, selain hubungannya dengan Tuhan yang akan menguatkan dan memampukannya bertahan pada tugas panggilannya, ia juga membutuhkan bantuan dan pertolongan jemaat, dukungan moral dan kerja sama yang saling membangun dalam pelayanan. Untuk hal ini ada seorang hamba Tuhan yang berkata, “Kapan terakhir kali Saudara menggenggam tangannya dengan jabatan tangan yang hangat untuk menyatakan terima kasih anda atas pelayanannya? Anda akan terkejut bahkan kaget jika tahu betapa banyak hamba Tuhan yang telah melayani berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan tanpa dukungan seperti itu. Kalaupun ada jumlahnya sangat sedikit. Seorang Pendeta-pun membutuhkan dukungan moral anda. Bukan berupa pujian yang dapat membuatnya sombong atau lupa diri. Tetapi ucapan yang tulus atas kesetiaannya pada pelayanan dan pemberitaan firman yang dilakukannya. (*)

Oleh : Pdt Jhon Johannes, M.Th

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY