KLB MALARIA KORBAN GEMPA LOMBOK

Warga Lombok ketika diguncang gempa pada Agustus 2018 lalu. Mereka berupaya mengevakuasi barang-barang yang masih bisa diselamatkan. (IVAN MARDIANSYAH/LOMBOK POST/Jawa Pos Group)

LOMBOK, Semarak. News – Pasca bencana gempa Lombok yang mengakibatkan sekitar 570 ribu rumah penduduk rusak dan lebih dari 110 ribu jiwa mengungsi, Lombok masih dalam tahapan recover dan rekonstruksi daerah Lombok. Pasca bencana gempa Lombok, saat ini maraknya penyakit malaria di sebagian besar wilayah di Kabupaten Lombok Barat.

Bupati Lombok Barat, Fauzan Khalid telah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) berdasarkan peningkatan kasus malaria pada tingkat kecamatan di Kecamatan Gunungsari. Penetapan status KLB tersebut bertujuan agar penanganan malaria lebih masif dan mendapat dukungan dari Pempov ntb dan Kemenkes. Penetapan status klb malaria di Lombok Barat telah memenuhi syarat sesuai Permenkes RI nomor 949 tahun 2014 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa. Fauzan menilai Pemkab Lombok Barat tidak akan mampu menangani KKLB malaria tersebut dikarenakan keterbatasan finansial dan tenaga medis mengingat proses recover (perbaikan ulang) pasca bencana gempa masih berlangsung.

Kepala Dinas Kesehatan Lombok Barat, Rahman Shanan Putra mengatakan bahwa lebih dari 128 orang yang terserang penyakit malaria yang termasuk bayi, balita, dan ibu hamil pada 28 dusun, 10 desa dan 4 kecamatan di Lombok Barat meliputi Kecamatan Gunungsari. Batulayar, Lingkar, dab Narmada. Pertama kali kasus malaria ditemukan pada akhir Agustus di pos pengungsian Desa Penimbung, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, NTB.

Dinas Kesehatan Lombok Barat akan memberikan bantuan sebanyak 5.000 kelambu dari PMI dan 1.500 dari Global Fund. Sampai saat ini Pemprov NTB akan terus memberikan bantuan finansial dan tenaga medis untuk para korban pasca gempa lombok. (ED)

TINGGALKAN BALASAN