Sedikitnya 18.500 muslim Rohingya, tidak sedikit yang merintih terluka dan pesakitan, serta harus mengungsi ke Bangladesh untuk mempertahankan hidup. Insiden ini terjadi menyusul terjadinya penyerangan terhadap pos-pos polisi dan militer di Provinsi Rakhine. Penyerangan pada 5 Agustus yang menewaskan 110 sipil itu diklaim sebagai ulah Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA).

Menurut International Crisis Group (ICG) ARSA dibentuk oleh muslim Rohingya yang tinggal di Arab Saudi dan telah melakukan tindak kekerasan pada 2012. Lebih dari 400 ribu warga muslim Rohingya telah ditampung oleh pemerintah Bangladesh, namun tidak semua terdaftar. Hal ini disebabkan atas tidak terkendalinya gelombang pengungsi dan panjangnya perbatasan darat yang mencapai 271 km.

“Mereka mengalami trauma berat” ungkap Sanjukta Sahany, salah seorang anggota International Organization for Migration (IOM) yang berkantor di selatan kota Cox’s Bazar, dan ia meneruskan, “saat ini mereka membutuhkan bantuan makanan, medis untuk menyembuhkan luka, dan tempat tinggal sementara. Seminimalnya mereka mereka bisa menutup kepala.

Peta Konflik Rohingya [Al Jazeera]
Sejarah

Bibit permasalahan ini sudah berkecambah semenjak kedatangan Inggris di Myanmar. Pemerintah di Myanmar cenderung mendiskriminasikan masyarakat Budha di Provinsi Rakhine, Myanmar bagian barat. Ditambah dengan Muslim Rohingya yang mulanya adalah perantau asal India yang bisa terbilang sukses di Myanmar Barat. Alhasil, masyarakat lokal yang merasa terdeskriminasi ditambah kalah saing dalam hal ekonomi mulai memojokkan mereka. Konlfik ini pecah lima tahun yang lalu (2012), sekelompok Rohingya dituduh memerkosa dan membunuh seorang wanita beragama Budha. Pada akhirnya konflik ini melebar dan belum terselesaikan hingga sekarang.

Bilateral

Hubungan antara Bangladesh-Myanmar cukup baik dalam bidang ekonomi meskipun tidak terlalu signifikan. Komoditi ekspor Bangladesh diantaranya adalah makanan beku, produk olahan agrikultur, produk kimia olahan, garmen, dsb. Sedangkan Myanmar mengekspor binatang ternak, sayur-mayur, tembakau mentah serta barang jadi, kayu, dsb. Hubungan politik antara Myanmar dan Bangladesh pun terjahit dengan erat.

Pasalnya Perdana Menteri Sheikh Hasina adalah orang pertama yang memberi ucapan selamat kepada Suu Kyi untuk memimpin Myanmar. Bangladesh juga punya intrik tersendiri untuk menerima pengungsi Rohingya, pasalnya Myanmar memiliki letak strategis yang dan potensi alam seperti gas alam untuk meningkatkan perekonomian Bangladesh. Lalu Bangladesh menggunakan trik kesamaan kultur untuk menggait simpati Rohingya dan pemerintah Myanmar sembari mereka bergelut menyelesaikan konflik ini.

Ancaman bagi Indonesia

Kemerdekaan adalah hak segala bangsa, namun kemerdekaan tersebut tidak boleh menciderai kedaulatan negara lain. Rohingya bisa saja diterima di Indonesia, namun banyak pertimbangan yang perlu dilakukan.

Pertama, tidak menutup kemungkinan mereka membawa paham radikal, khususnya mereka yang berasal dari kelompok ARSA. Di Indonesia sudah banyak teroris, bila mereka berakumulasi, tidak menutup kemungkinan aksi teror akan meningkat.

Kedua, tidak sedikit kasus imigran gelap dari negara selain Myanmar menikah dengan warga lokal.Bila amalgamasi telah terjadi dan sah secara agama, hal ini akan susah untuk dikendalikan. Pasalnya, masyarakat sekitar akan berprasangka bila pemerintah mendeportasi mereka, akan timbul persepsi menghargai kesakralan pernikahan agama (nikah siri).

Padahal dengan ikatan pernikahan tersebut, mereka akan menarik Rohingnya lainnya untuk datang ke Indonesia dan melakukan hal yang sama. Lebih ekstrem, bilamana pernikahan tersebut hanya menjadi kedok untuk pembiayaan pelarian Rohingya lain ke Indonesia, bangsa ini seakan dilecehkan.

Resolusi

Namun hingga saat ini pemerintah Myanmar belum bertindak secara tegas. Pasalnya banyak dari mereka yang tidak memiliki kewarganegaraan atau bisa dibilang ilegal. Pola konflik ini mirip seperti pengalaman pahit suku Madura dengan Sampit dan Sambas. Polanya adalah pendatang yang dianggap mengalahkan masyarakat lokal dan tidak menghormati kebudayaan lokal. Maka solusi yang bisa ditawarkan adalah resolusi konflik seperti kasus tersebut. Selanjutnya, Indonesia bisa menerima mereka asal semua permasalahan yang akan muncul bisa diminimalisir.

TINGGALKAN BALASAN