Kelapa Sawit di Bumi Lambung Mangkurat

Sumber: Google.com

Banjarbaru, Semaraknews – Sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Kalimantan Selatan jika mendengar kata industri kelapa sawit. Industri yang mempunyai andil cukup besar dalam pertumbuhan perekonomian Kalsel tersebut, sudah lama dijadikan ladang mencari nafkah bagi sebagian masyarakat setempat, mulai dari bekerja di perusahaan tertentu hingga menggarap lahan pribadi.

Dalam perkembangannya, industri kelapa sawit di Bumi Lambung Mangkurat (julukan Provinsi Kalimantan Selatan) tentu menghadapi kendala – kendala yang dapat menghambat majunya industri tersebut. Salah satu kendala yang ditemui adalah masalah bibit palsu yang beredar di masyarakat petani sawit.

Bibit palsu tersebut dapat menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas hasil panen kelapa sawit. Namun, masih banyak petani yang tetap memilih bibit tersebut daripada bibit resmi yang sudah disediakan pemerintah yang tentunya memiliki kualitas yang lebih baik.

Terkait bibit palsu yang beredar, Kepala Seksi Perbenihan, Peremajaan dan Perluasan Tanaman Perkebunan Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan, H. Saifuddin mengatakan, “Pemerintah menyiapkan bibit yang sudah melalui tes laboratorium, sehingga kualitasnya pasti baik, namun masyarakat masih ada yang memilih bibit palsu dengan alasan harga yang lebih murah.”

Tentu muncul pertanyaan, sebenarnya apa perbedaan kualitas antara bibit palsu dengan bibit resmi yang disediakan oleh Pemerintah. Menjawab hal tersebut, H. Saifuddin menambahkan, “Ya kalau bibit resmi bisa panen 25 ton per tahun, bibit palsu paling hanya 10 ton. Selain itu, hasil panen dari bibit palsu itu cangkangnya tebal, jadi harga jualnya nanti juga pasti rendah.”

Dalam alur industri kelapa sawit, terdapat bagian yang berperan sebagai pengumpul dan pengolah hasil panen berupa Tandan Buah segar (TBS) menjadi Crude Palm Oil (CPO). Bagian tersebut bernama Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Setiap perusahaan kelapa sawit pasti mempunyai PKS. TBS yang diolah PKS berasal dari hasil panen kebun perusahaan dan hasil panen masyarakat petani sawit.

“Selama ini distribusi CPO mayoritas dikirim ke luar Kalimantan, ada juga yang sampai ke luar negeri.” ujar H. Saifuddin.

Masyarakat Kalsel tentu sangat mengharapkan industri kelapa sawit ini dapat terus berkembang dan terus berkontribusi bagi kemajuan ekonomi Kalimantan Selatan.

H. Saifuddin menyampaikan, “Pemerintah pusat telah ada program peremajaan kelapa sawit dengan dana dari BPDP KS (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit) dengan biaya bantuan sebesar Rp25 juta per hektar. Peluang inilah yang sedang di usahakan oleh Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalsel. Dan untuk Kalsel kita fokus pada penggantian bibit kelapa sawit palsu yang ditanam petani secara swadaya.”

Langkah tersebut merupakan langkah yang tepat mengingat alasan masyarakat membeli bibit palsu adalah harganya yang lebih murah. Masyarakat harus lebih selektif dalam pemilihan bibit, jangan hanya tergiur harga murah namun rendah kualitasnya. Kualitas hasil panen dipengaruhi kualitas bibit, bibit yang bagus akan menghasilkan hasil panen yang bagus pula.

TINGGALKAN BALASAN