Kabupaten Asmat Dengan Sulitnya Kondisi Wilayah

Anak Suku Asmat

Jakarta, Semarak.news – Suku Asmat sedang dilanda duka dengan warganya yang mengalami gizi buruk. Pemerintah sudah turun tangan menanggulangi kasus kejadian luar biasa (KLB) gizi buruk dan campak di Kabupaten Asmat, Papua. Setidaknya sudah 13 ribu warga Asmat yang dilayani. Selain itu, terdapat lebih dari 170 warga yang dirawat di rumah sakit dan 71 orang meninggal akibat KLB gizi buruk dan campak di Asmat

Perlu diketahui sebelumnya, krisis kesehatan gizi buruk dan campak di Asmat ini menjadi sorotan media lokal maupun internasional. Penyebab utama gizi buruk dan wabah campak di Kabupaten Asmat ini adalah kondisi geografis dan lingkungan yang tidak sehat. Keseluruhan daerah Asmat terutama distrik yang terkena wabah merupakan rawa-rawa dan sungai. Air pasang terus terjadi dan merendam pemukiman warga, ketika air mulai surut maka akan meninggalkan kotoran di dalam rumah.

“Rumah dan sekolah di atas rawa, kantor pun di atas rawa semua, semuanya di rawa, poinnya kondisi lingkungannya sangat tidak sehat untuk kehidupan,” ungkap Mensos Idrus Marham

Kondisi ini juga semakin parah karena harga bahan bakar minyak (BBM) yang relatif lebih mahal akibat suplai BBM yang tidak lancar di wilayah itu.

Sulitnya moda transportasi untuk mencapai Kabupaten Asmat, Papua membuat siapa pun yang akan berkunjung ke Asmat harus mempertimbangkan dua kali. Ditambah lagi dengan cuaca di Papua yang selalu berubah-ubah tidak bisa diprediksi.

Agats, merupakan ibukota Kabupaten Asmat yang merupakan pintu utama mengenali Suku Asmat. Jalur transportasi yang akan digunakan untuk sampai di kota Agast harus dihadapkan dengan dua plihan, yaitu jalur udara dan jalur laut. Kondisi ini disebabkan belum adanya infrastruktur jalan darat yang menghubungkan Kabupaten Asmat dengan Kabupaten-kabupaten lainnya. Itu pun harus dibayar dengan harga yang mahal dan cukup memakan tenaga dan waktu.

Dari Agats, perjalanan menuju kampung-kampung pun masih harus ditempuh dengan perjalanan berjam-jam. Selain menggunakan speedboat, juga bisa menggunakan perahu dayung milik nelayan.

Kepala Kantor SAR Mimika, Monce Brury, menyarankan bagi yang hendak ke Agast agar menggunakan kapal besar. Sebab saat ini memasuki musim yang ekstrim. Ombak dan gelombang tinggi masih terjadi di perairan Arafura dan muara-muara di wilayah pesisir selatan

“Saya sarankan, kalau mau ke Asmat lebih bagus pakai kapal besar, karena ombak dan gelombang di perairan pesisir lagi ekstrim,” jelas Monce. [AR]

TINGGALKAN BALASAN