penerapan hukum baru untuk kelompok LGBT di Brunei

Bogor, Semarak.news – setelah memberlakukan hukuman mati bagi kaum Lesbian Gay Biseksual Transgender (LGBT) dan tindak perzinaan pada hari Rabu (3/4), Brunei Darussalam menjadi trnding trending topik bagi kalangan pejuang Hak Asasi Manusia (HAM) internaasional.

semenjak dari pennetapannya, tidak sedikit respon negatif yang didapatkan oleh Brunei tentang hukum yang menyangkut kelompok LGBT itu.

salah satunya Uni Eropa yang mengecam penerapan hukuman cambuk dan rajam kepada kaum LGBT di Brunei. Mereka beranggapan bahwa sanksi seperti itu suatu pelanggaran terhadap HAM

“Sejumlah hukuman itu termasuk dalam penyiksaan, kekejaman, dan tidak manusiawi,” demikian pernyataan Uni Eropa, seperti dilansir AFP, Kamis (4/4).

mereka menyayangkan bahwa pemerintaj Brunei mengubah hukum sebelumnya yang berupa hukuman cambuk 40 kali dan penjara paling tinggi sepuluh tahun atas delik penyuka sesama jenis.

Bukan hanya dari Uni Eropa, kritik juga datang dari Sekretaris Jendral Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres. Dia mengklaim peraturan baru Brunei itu sama saja melanggar HAM.

“Hak asasi manusia dijunjung oleh semua orang di manapun tanpa membedakan. Peraturan itu sangat jelas melanggar prinsip tersebut,” demikian pernyataan Guterres yang dibacakan oleh Juru Bicara PBB, Stephane Dujarric, seperti dilansir AFP, Kamis (4/4).

Banyak yang beranggapan penerapan hukum kontroversional ini sama saja seperti melanggar konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa terhadap HAM. Padahal, Brunei sudah menyetujui konvensi iitu dengan turut mendatanganinya pada 2015 lalu.

“Hak asasi manusia dijunjung oleh semua orang di manapun tanpa membedakan. Peraturan itu sangat jelas melanggar prinsip tersebut,” demikian pernyataan Guterres yang dibacakan oleh Juru Bicara PBB, Stephane Dujarric.

Menurut Dujarric, Guterres menentang segala bentuk hukuman yang kejam.

“Dia (Guterres) membela hak-hak manusia untuk bisa bersama dengan siapa saja dan mencintai siapa yang ingin mereka kasihi,” ujar Dujarric.

Di lain pihak, Sultan Brunei, Hasslan Bolkiah, beranggapan aturan itu diterapkan demi melindungi dan mendidik warganya untuk memperkuat ajaraan islam.

Selain peraturan cambuk sampai mati untuk kalangan LGBT, pemerintah Brunei juga menghukum denda hingga penjara warganya yang tidak salat jumat dan hamil di luar nikah

LEAVE A REPLY