Tak terasa waktu sudah membawaku hanyut dalam naungan langit sore

Ku berjalan menyusuri bangunan tua yang masih kokoh berdiri meskipun catnya mulai lapuk

Langkah kaki seakan tau kemana ia harus melangkah

Terus Ku tarik jemari di sepanjang dinding hingga langkahku terhenti diam dan mematung

Biru…..warna yang tak asing dalam ingatan Ku

Ada sebuah ruangan yang tak asing dengan warna itu

Ku cermati tiap sudut ruangan, perabotan dan bahkan sampah daun yang berserakan

Ku temukan tulisan tangan yang sudah terselimuti oleh kerak lumut

Ku kedutkan kedua mataku terpusatkan pada tulisan itu

Ku baca dan ku lafalkan kalimat itu

Bagai aroma bawang yang menusuk mata

Yang tak pernah mengundang air mata untuk keluar.

Sebuah pesan dari sekumpulan remaja malas yang tak tau akan kemana mereka nantinya

Yang tak ada harganya

Namun diliputi sebuah harapan kecil

Harapan yang memaksa penulisnya untuk kembali dengan mereka yang pernah berjuang bersama

“Bau busuk keringat kita pada hari ini akan menjadi wangi semerbak di pertemuan kita selanjutnya”

LEAVE A REPLY