Earth Festival 2018 di Living World Alam Sutera, 17-20 November 2018

Perubahan iklim global telah memiliki efek yang dapat diamati pada lingkungan kita. Gletser telah menyusut, di negara-negara dengan 4 musim, es di sungai dan danau rusak lebih awal, rentang tanaman dan hewan telah bergeser dan pohon berbunga lebih cepat.

Efek yang telah diramalkan para ilmuwan di masa lalu yang akan dihasilkan dari perubahan iklim global, sekarang ini telah terjadi: menyusutnya lapisa es di antartika, percepatan kenaikan permukaan laut dan gelombang panas yang lebih intens.

Para ilmuwan memiliki keyakinan tinggi bahwa suhu global akan terus meningkat selama beberapa dekade ke depan, sebagian besar disebabkan oleh gas rumah kaca yang dihasilkan oleh aktivitas manusia. Panel Antar Negara tentang Perubahan Iklim (IPCC), yang mencakup lebih dari 1.300 ilmuwan dari Amerika Serikat dan negara-negara lain, memperkirakan kenaikan suhu 2,5 hingga 10 derajat Fahrenheit selama abad berikutnya.

Menurut IPCC, tingkat dampak perubahan iklim pada masing-masing wilayah akan bervariasi dari waktu ke waktu dan dengan kemampuan sistem sosial dan lingkungan yang berbeda untuk mengurangi atau beradaptasi terhadap perubahan.

DIET VEGAN DAPAT MENYELAMATKAN DUNIA

Dalam laporan terbaru di tahun 2015 yang dikeluarkan oleh PBB disebutkan bahwa ‘pergeseran global menuju pola makan vegan sangat penting untuk menyelamatkan dunia dari kelaparan, menipisnya cadangan bahan bakar fosil, dan dampak terburuk dari perubahan iklim.’ Laporan tersebut mencatat bahwa preferensi Barat untuk makanan berat daging dan susu adalah “tidak berkelanjutan (un-sustainable),” terutama karena populasi manusia diperkirakan akan tumbuh menjadi 9,1 miliar pada tahun 2050, sementara luas lahan di bumi adalah statis.

Berikut adalah data-data dan fakta yang perlu kita ketahui, terkait dengan industri peternakan:

  • Dibutuhkan 16 kg padi-padian & palawija untuk memproduksi 1 kg daging sapi. Begitu banyak lahan yang dibutuhkan untuk pertanian, yang ironisnya hasil panennya dijadikan pakan ternak, bukan untuk makanan manusia.
  • Di satu pihak, orang-orang di negara maju mengonsumsi daging dalam jumlah berlebih dan menderita obesitas, kolesterol tinggi, diabetes dan gangguan penyakit yang berkaitan dengan ‘kelebihan makan’, sementara di pihak lain orang-orang di negara dunia ketiga, negara miskin tidak mempunyai cukup makanan untuk dikonsumsi.
  • Di Amerika Serikat, terdapat lebih dari 80% jagung dan 95% gandum dijadikan pakan ternak, bukan diberi makan kepada orang yang kelaparan. Jumlah padi-padian dan kacang kedelai yang dijadikan pakan ternak di Amerika Serikat dapat memberi makan 1,3 Miliar manusia.
  • Hewan ternak membuang kotoran yang banyaknya lebih dari 130 kali kotoran manusia, dimana Emisi gas Metana dari kotoran hewan ternak memberikan kontribusi secara besar-besaran terhadap efek rumah kaca dan pemanasan global dengan efek 25 kali lebih kuat daripada gas karbondioksida.
  • Industri daging adalah penyebab utama (terbesar) polusi pada air yang sangat kita butuhkan. Kontaminasi air dan penyakit telah dan sedang terjadi di tempat-tempat dimana peternakan beroperasi dan terkonsentrasi.
  • Dibutuhkan air 200 kali lebih banyak untuk memproduksi 1 kg daging sapi daripada 1 kg kentang.
  • 30% lahan tanah di Amerika Serikat digunakan sebagai lahan merumput bagi hewan ternak
  • 75% lapisan atas tanah di Amerika Serikat telah hilang / rusak dikarenakan erosi, dan industri daging bertanggung jawab secara langsung sebanyak 85% terhadap kehilangan / kerusakan ini.

PBB MEMPROMOSIKAN MANFAAT GIZI DAN MANFAAT LINGKUNGAN DARI LENTIL, KACANG-KACANGAN, DAN BIJI-BIJIAN KERING LAINNYA

Majelis Umum PBB telah mendeklarasikan Tahun 2016 sebagai Tahun Internasional Kacang-kacangan, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang manfaat gizi kacang-kacangan sebagai bagian dari produksi pangan yang berkelanjutan yang bertujuan untuk mewujudkan ketahanan pangan dan gizi.

“Kacang-kacangan adalah biji yang siap dimakan dari tanaman legum tahunan, varietas yang paling akrab yaitu lentil, kacang, kacang polong, dan kacang buncis. Tinggi protein dan asam amino, makanan pokok ini dapat membantu mengatasi kekurangan gizi global, di samping itu juga dapat mencegah masalah kesehatan seperti obesitas, diabetes, dan kanker. Secara Ekologis, sifat nitrogen tanaman kacang-kacangan dapat meningkatkan kesuburan tanah, sedangkan emisi gas rumah kaca mereka relatif rendah.

Bak bola salju, Trend Vegetarian dan Vegan semakin hari semakin membesar. Di tingkat Global, ada Gerakan ‘Meat Free Monday’ (Senin Tanpa Daging), ‘Green Monday’, ‘Green Eating’, ‘Clean Eating’, dan lain-lain, yang semuanya itu menandakan kebangkitan dan hadirnya ‘Revolusi Vegan berbasis Nabati’.

Eric Schmidt, Executive Chairman perusahaan induk Google – Alphabet, memprediksi sebuah revolusi berbasis nabati telah datang. “Mengganti daging dengan nabati akan mengurangi emisi gas rumah kaca dan melawan perubahan iklim”, katanya. Dia menamai tren ‘game-changing’ nomor satu di masa depan sebagai konsumsi protein nabati dan bukan daging. Penggantian daging dengan protein nabati juga akan menurunkan biaya makanan di negara-negara berkembang dimana makanan daging terkadang langka. Menghasilkan satu pon daging (0.5 kg) ke toko bahan makanan, melewati proses penggembalaan, penyembelihan, dan pengiriman adalah proses yang sangat tidak efisien dan mahal dibandingkan dengan memberi satu pon protein berbasis nabati. Singkatnya, populasi kita yang terus bertambah dapat diberi makan lebih efisien dan lebih murah dengan menggunakan protein nabati.

Mari datang dan bergabung bersama kami, di dalam ‘Earth Festival 2018’, pada tanggal 17-20 November 2018, di Living World Alam Sutera.

Salam

Vegan                                                                                                

 

TINGGALKAN BALASAN