Isu Komunis Bangkit, Mahasiswa Evaluasi Kinerja Intelijen

Konferensi Pers Evaluasi Kinerja Intelijen oleh AMNUS (semaraknews)

Jakarta, semaraknews – Isu kebangkitan komunis makin bergulir kencang. Kalangan masyarakat pun sudah menyadari ada upaya-upaya dari kelompok-kelompok penganut ideologi marxisme dan leninisme untuk kembali bangkit di bumi pertiwi ini. Namun aparat yang sudah seharusnya mampu mengcounter upaya tersebut justru dipertanyakan kehadirannya. Menurut Aliansi Mahasiswa Nusantara, peristiawa Minggu (17/09/2017) di YLBHI Jakarta merupakan kelalaian aparat keamanan khususnya Badan Inteljen Negara untuk melakukan pencegahan dini, sehingga akhirnya masyarakat harus turun tangan sendiri untuk menyelesaikan hal itu.

“Hari ini negara seakan akan berdiam diri terkait isu komunis ini. Seperti kita lihat sekretaris Partai Komunis Vietnam bisa datang dan gelar kerjasama dengan pemerintah indonesia. Perlu kita pertanyakan”, kata El Hakim, Korlap Konferensi Pers Aliansi Mahasiwa Nusantara di Lantai 2 Lawson Salemba Raya Jumat (22/09/2017).

Dirinya mengusulkan agar kinerja intelijen khususnya BIN dievaluasi.

“Kami meminta dengan hormat kepada presiden jokowi ketika melakukan reshuffle nanti, tidak hanya melakukan reshuffle pada jajaran menterinya saja, melainkan kepada instansi2 lain seperti kepala BIN”, tambahnya.

Dirinya juga menilai, LBH Jakarta saat ini justru menjadi wadah bagi orang-orang komunis untuk melakukan konsolidasi membangkitkan pahampaham terlarang tersebut.

“Yang terbaru adalah acara di LBH Jakarta yang jelas bertentangan dengan TAP MPR no 25 tahun 66 untuk itu mereka telah membiarkan orang orang yang mengadakan acara yang jelas jelas mengandung unsur komunisme, ” imbuh Hakim.

“LBH adalah lembaga yang memfasilitasi orang orang berpaham komunis lbh bukan jadi lembaga bantuan hukum tapi menjadi lembaga bantuan komunis. Dalam waktu dekat kami akan melakukan aksi di Istana Negara DPR dan kantor BIN untuk meminta BG untuk mengundurkan diri atau kami yang memaksakan”, pungkasnya.

Pers Release

ALIANSI MAHASISWA NUSANTARA

Landasan pikir
TAP MPRS No XV/1966 tentang pelarangan ajaran Komunisme, Leninisme dan Marxisme sebagai bentuk keilmuan sehingga kalaupun ada acara dengan aroma berbau Komunisme maka patut negara segera megabil langkah tegas agar ajaran tersebut tidak menjadi perdebatan panjang di kalangan aktivis mahasiswa, masyarakat dan awak media. Dugaan adanya unsur pembiaran yang terjadi akhir -akhir ini patut di diskusikan dan dikaji sehingga apa yag menjadi akar dari persoalan dari cikal bakal komunis bisa di selesaikan tanpa mengganggu pikiran setiap manusia di negara kesatuan republik indonesia.

Kepolisian , BIN , serta lembaga negara lainnya yang telah di tugaskan di wilyah ketahanan negara atau keamanan untuk kemakmuran kesejahteraan masyarakat sangat begitu membingungkan kami khususnya mahasiswa. Sehingga bapak Presiden Ir Joko widodo perlu adanya ketegasan untuk mempertimbangkan kembali kerja Kepolisian dan BIN dalam mencari informasi.
Indonesia di bentuk atas dasar konsensus Pancasila dan kami merasa ancaman komunisme harus adalah masalah serius, negara seharusnya tegas dalam mengambil lagkah jagan sampai kita sebagai bangsa Pancasila di hancurkan oleh komunisme yang sedang meraba – raba Genarasi penurus bangsa indonesia.
Evaluasi mahasiswa degan kondisi saat ini perlu sehingga mahasiswa dapat memilah akar permasalahan bahaya komunisme dan juga dapat di atasi secara terperinci agar pancasila masih dapat di digunakan dan di percaya sebagai jati diri anak bangsa. Kemudian apakah negara sudah memberikan pembelajaran yang baik dengan situasi yang terjadi saat ini, inilaaah yag harus di kaji bersama – sama pula, kurangnya lembaga negara meberikan perhatian untuk penguatan ideologi pancasila . Pak presiden seharusnya menegur mereka ! ( jagan Cuma menghabiskan uang negara)
Perlu di kaji apakah Upaya pembiaran yang telah di lakukan oleh pihak kepolisian terhadap acara seminar di kantor LBH jakarta membuktikan bahwa Negara telah membiarkan faham kumunisme masuk dan menyebar di hadapan publik sehingga ada beberapa media televis/online/cetak memberikan informasi yang mengakibatkan banyak pemuda dan mahasiswa bertanya – tanya apa itu sebenarnya Komunis, dampak sosial akibat ini memberikan pertanyaa apakah upaya negara memberikan pemahaman Ideologi Pancasila sudah maksimal.Kami mahasiswa menilai bahwa kepemimpinan Ir. Joko Widodo selaku Presiden terpilih patut di kritisi. Olehnya itu inilah hasil dikusi perdana kami :

Pernyataan sikap :
1. Presiden segera panggil pimpinan badan intelejen negara tegaskan kepada pimpinan BIN agar segera tangkap aktor intelektual dari acara tersebut yang bebau komunis sehingga bisa di tangkap dan di penjara sebagai mana aturan Yang berlaku di negara indonesia.

2. Negara tidak stabil salah BIN apabila kerja kerja kerja yang di maksud pak presiden tidak di kerjakan maka kami akan mengkampanyekan segara copot pimpinan BIN.

3. Bongkar birokrasi di dalam lembaga badan intelejen negara

Demikian salam pergerakan

Hidup mahasiswa

Aliansi mahasiswa nusantara
Agung Pratama

TINGGALKAN BALASAN