Potensi Ancaman Kejahatan Siber Internasional Harus Menjadi Perhatian

Jakarta, Semarak.News – Direktur Eksekutif Monitor Indonesia, Ngasiman Djoyonegoro, mengatakan bahwa ancaman siber internasional terhadap kedaulatan Indonesia masih sangat tinggi. Ia menyarankan agar pemerintah terus berhati-hati dalam menangkal pergerakan siber internasional tersebut.

“Mereka mudah bersembunyi dan berpindah-pindah tempat untuk mengelabui para pihak kepolisian dan imigrasi,” terang Ngasiman Djoyonegoro yang juga menjabat sebagai peneliti senior di Center of Intelligence an Strategic Studies (CISS) tersebut di Jakarta Selatan, Rabu (9/8/2017).

Indonesia yang memiliki ribuan gugusan pulau dengan luas wilayah 1.905 kilometer persegi, dikatakan Simon–panggilan akrab Ngasiman Djoyonegoro–berpotensi menjadi sasaran sindikat kejahatan siber internasional. Untuk itu, Simon meminta pemerintah lebih mengoptimalkan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dalam memantau pergerakan kejahatan siber internasional tersebut.

“Indonesia perlu memaksimalkan peran BSSN (Badan Siber dan Sandi Negara) untuk mendeteksi dini ancaman kejahatan siber mengingat besarnya potensi ancaman yang menjadikan Indonesia sebagai tempat kejahatan sindikat internasional,” terang mantan aktivis PMII itu.

Lebih lanjut, Simon mencontohkan kasus yang baru-baru ini terjadi seperti virus wannacry, dikatakannya merupakan ancaman nyata kejahatan siber terhadap pemerintah dan dunia bisnis di Indonesia.

“Para peretas selalu memiliki cara mencari kelemahan pada suatu sistem jaringan komputer, itulah yang kemudian menjadi jargon penjahat siber “No System is Safe” (tidak ada satupun sistem yang aman),” imbuhnya.

Ia dalam kesempatan yang sama juga menghimbau pemerintah untuk berhati-hati terhadap ancaman terorisme dan radikalisme di media sosial.

“Harus ada kontrol dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) terhadap segala bentuk ancaman mulai dari serangan terhadap jaringan komputer sampai pada propaganda terorisme dan radikalisme melalui dunia maya,” tambah Simon yang dalam waktu dekat akan melaunching buku terbarunya berjudul Intelijen di Era Digital: Prospek dan Tantangan Membangun Ketahanan Nasional tersebut.

Sementara itu, ia mengingatkan tentang betapa pentingnya membangun etika bangsa Indonesia dalam berselancar di era digital seperti sekarang ini.

“Dunia digital merupakan ekosistem yang harus dipelihara kelestariannya seperti alam yang bebas namun tetap beretika dan diatur secara hukum,” tandasnya. (AS)

TINGGALKAN BALASAN