Prologue

Ale tidak pernah menyangka sebelumnya sahabat yang setiap hari selalu bersahaja itu yang bahkan selalu menceritakan hal yang sangat tidak penting kepadanya, hingga terkadang membuat Ale lelah sendiri dan menguap hanya karena mendengarkan segala ceritanya ternyata menyimpan hal sebesar ini sendirian. Orang lain mungkin akan berpikir ini adalah hal yang lumrah dan biasa saja toh itu hanya sekedar pacaran. Lalu apa masalahnya ? Apa remaja yang sedang berpacaran adalah suatu masalah ? Tapi tidak untuk Ale. Mengetahui fakta bahwa sekarang Syifa tengah dekat dengan seseorang yang bahkan telah berlangsung selama setahun benar-benar menamparnya telak. Beribu kali otaknya berpikir apa saja yang telah ia lewatkan hingga hal sebesar ini tidak ia sadari dan baru saja tahu setahun kemudian. Ia merasa sangat terkejut sekaligus kecewa, orang tua Syifa menitipkan Syifa kepadanya setahun yang lalu saat pendaftaran sekolah menengah atas mereka. Dan sekarang ia bagaikan orang bodoh yang tidak mengerti apapun. Ale hanya terdiam sekaku patung ditempatnya berdiri sekarang, berbagai macam spekulasi silih berganti merasuk kedalam kepalanya bagaikan kaset rusak yang tak bisa berhenti diputar. Bangun kan Ale sekarang, katakan padanya kalau ini hanya mimpi buruknya dan ini semua tidak nyata.

17 July 2013

Hari itu suasana aula salah satu SMA RSBI itu riuh akan sahut sahutan panitia pendaftaran siswa baru dengan peserta. Di antrian yang begitu panjang di ruangan yang tak mampu menampung keseluruhan peserta itu nampak seorang gadis berkerudung  panjang yang terus saja terlihat gugup di samping ayahnya. Ya, itu Syifa yang begitu lugu dan polos tanpa tahu apa-apa. Berdiri gugup sambil mencuri-curi pandang ke arah Ale. Sesekali gadis itu berjinjit memperhatikan deretan antrian bak ulat bulu di depannya. Menanti dengan penuh harap kapan kiranya namanya akan dipanggil. Ayahnya sesekali tersenyum melihat Syifa begitu antusias memperhatikan para peserta lainnya. Pandangan Syifa seketika terhenti melihat seorang gadis di sebelahnya yang berdiri congkak dengan malas menanti antiran.

Hari itu entah bagaimana mulanya ayah Ale berbincang hangat dan akrab dengan ayah Syifa. Entah sejak kapan orang tua mereka mulai akrab saat pendaftaran berlangsung, dengan ramahnya ayah Syifa mengenalkan anaknya yang begitu bersaja itu kepada Ale dan orang tua. Panjang lebar ia menceritakan tentang anaknya yang baru saja tamat dari Madrasah itu kepada Ale dan orang tua. Hingga sampai kata-kata mengejutkan keluar dari ayah Syifa ia dengan yakinnya mempercayakan kepada Ale sang gadis licik berwajah polos itu anak semata wayangnya, ayahnya tidak mungkin bisa menjaga Syifa setiap saat karena jarak antara rumah Syifa dan sekolah yang sangat jauh. Kerudung merah yang menjuntai panjang menutupi bahu Syifa terlihat sangat anggun, ia mengenakan rok panjang yang hingga menutupi kedua kakinya. Dia tidak mengenakan riasan sedikitpun seperti layaknya anak muda labil kebanyakan tapi saat pertama kali melihat Syifa Ale begitu terkagum-kagum akan kecantikannya.

Dia benar-benar hal yang seratus delapan puluh derajat berbeda dengan Ale yang saat itu datang dengan menggunakan sepasang sepatu sneakers dengan jeans dan permen karet. Ale mendekat perlahan menatap kagum kesholehan Syifa dari sorot matanya.

Salam pembuka telah diberikan untuk Ale sang bedebah

“Assalamualaikum”

Terdengar pelan namun jelas dan bersahaja di ucapkan dengan senyuman yang sangat tulus dari seorang anak lulusan madrasah ibtidaiyah, seorang Syifa …

Inilah kisahnya …

Kisah yang Ale masuki yang tak pernah lagi membiarkan Ale keluar lagi …

.

Kedua obsidian itu terpejam begitu rapat lalu dengan tiba-tiba tersentak dengan cepat, kedua bola matanya terbelalak. Yah, Ale mulai ingat …

“Aku Ingat semuanya sekarang …”

To Be Continued

TINGGALKAN BALASAN