Indonesia dan Ancaman Perang Masa Kini

Ilustrasi: Iswandi Syahputra

Perkembangan internet dan teknologi informasi yang sangat pesat mempengaruhi secara langsung kebutuhan pokok akan informasi dalam kehidupan manusia saat ini. Karena informasi yang didapat secara cepat, tepat dan akurat memainkan peranan sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia, seperti sebagai alat bantu dalam proses pengambilan keputusan penentuan sebuah kebijaksanaan atau bahkan sebagai tren atau gaya hidup manusia modern. Saat ini semakin banyak kalangan pemerintah baik sipil maupun militer, bisnis, organisasi nirlaba, hingga individu yang menjadi sangat ketergantungan dengan fenomena di zaman informasi ini. Sehingga muncullah istilah yang sering dikenal dengan sebutan information age atau abad informasi.

Namun kenyamanan serta kemudahan yang ditawarkan di abad informasi tersebut sekaligus mengundang terjadinya tindakan kejahatan atau kriminalitas di dunia maya atau dunia siber yang kita sebut dengan cyber crimes oleh para pelaku yang ingin mengambil kesempatan dan keuntungan dalam dunia maya tersebut. Sebagai contoh misalnya: serangan-serangan dan pencurian data terhadap berbagai situs baik milik pemerintah maupun situs-situs komersial dan perbankan tidak terkecuali kemungkinan serangan terhadap situs-situs milik institusi strategis di Indonesia, seperti situs-situs milik sejumlah lembaga strategis tertentu.

Hal ini tentunya sangat  berbahaya bagi setiap negara di dunia, khususnya di negara Indonesia. Mengingat sampai saat ini Indoneisa belum memiliki tingkat keamanan yang dinilai cukup untuk menghadapi ancaman cyber. Namun demikian, karena tuntutan zaman kita telah memiliki berbagai bentuk kebijakan yang berbasis Teknologi Informasi (TI) diantaranya e-KTP, samsat online, BPJS online, bahkan saat akan membeli tiket dan membayar tagihan secara real-time.

Melihat Potensi Indonesia Lebih Jauh

Dengan populasi sekitar 255 juta penduduk, hal ini bisa menjadi pisau bermata dua bagi Indonesia. Di satu sisi jumlah populasi sebesar itu setidaknya mampu memberikan efek menggetarkan musuh, memberikan bangsa ini daya tawar yang tinggi di mata dunia selain itu jika berkaca pada sejarah bangsa ini dimana bisa dibilang Indonesia merupakan negara dengan kekuatan perang gerilya terbaik yang sudah membuktikan kualitasnya ketika menghadapi agresi militer I dan II dari Belanda.

Di sisi lain dengan jumlah populasi sebesar itu ternyata kualitas SDM di Indonesia masih terbilang rendah , hal ini dibuktikan dari data dari Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa 3,7 % masyarakat Indonesia (sekitar 5,7 juta jiwa) masih buta huruf.BPS juga mencatat bahwa tingkat partisipasi pendidikan masyarakat kita masih tergolong rendah, hanya sekitar 20% masyarakat Indonesia yang mengenyam bangku pendidikan sampai tingkat Diploma maupun Starata-1 (sumber: bps.go.id).Hal inilah yang menjadikan cambuk bagi kita semua agar menjadikan indonesia lebih baik ke depannya, meskipun Indonesia pada dasarnya sangat kaya akan sumber daya alam namun jika tidak diimbangi dengan SDM yang memadai maka kita akan menjadi pengemis di negeri sendiri.

Dari data yang ditampilkan diatas dapat diketahui juga bahwa daftar pengguna internet Indonesia sebanyak 83,6 juta jiwa namun demikian seperti yang sudah saya katakan di awal tulisan bahwa Indonesia masih belum memiliki keamanan yang memadai terkait ancaman cyber yang kian mengkhawatirkan. Jika Amerika punya National Security Agency(NSA), China memiliki Cyberspace Administration of China (CAC), Indonesia masih belum memiliki suatu badan atau organisasi khusus yang mengatur mengenai keamanan cyber nasional. Indonesia dirasa kurang untuk memantau dan memberikan pengamanan cyber masyarakat Indonesia seperti dilansir Kompas.com, serangan cyber di Indonesia tersebut sebagian besar merupakan aktivitas malware sebanyak 12.007.808 kasus; celah keamanan 24.168 kasus, kebocoran rekam jejak atau record leakage 5.970 kasus.

Ada juga serangan melalui password harvesting atau phising sebanyak 1.730 kasus dan serangan akibat kebocoran domain sebanyak 215 kasus. Dari angka tersebut, laman pemerintah atau beralamat go.id paling banyak diserang peretas. Untuk itu sangat penting dibentuk suatu badan khusus yang menangani masalah cyber di Indonesia. Sempat muncul wacana pembentukan Badan Cyber Nasional (BCN) namun kemudian gagasan tersebut ditolak oleh DPR dengan berbagai alasan politis hal ini tak ayal membuat kita semakin rentan akan ancaman cyber, sedikit saja kita lengah maka dengan mudah kita akan ditaklukan oleh penjahat cyber.

 Perang: Dulu Vs Kini

Era Perang Dingin (1945 – 1990), aktor dan isu global sangat diwarnai oleh “suasana kebatinan” perang ideologi antara Blok Barat (Amerika Serikat dan sekutunya yang berideologikan liberalisme kapitalisme) dengan Blok Timur (Uni Soviet dengan ideologi sosialisme komunisme). Kedua blok dunia tersebut saling serang dan saling berebut hegemoni di berbagai belahan dunia sehingga membuat negara-negara di dunia terbelah antara mendukung Blok Barat atau Blok Timur. Penentuan kawan atau lawan di masa Perang Dingin ditentukan oleh aspek ideologi. Ancaman berat yang dihadapi saat itu adalah ideologi.

Pada masa pasca Perang Dingin (1990–2001), konstelasi politik internasional diwarnai oleh isu global berupa hak asasi manusia, demokrasi dan lingkungan hidup. Penentuan kawan atau lawan dalam politik internasional sangat ditentukan oleh apakah suatu negara menjunjung tinggi nilai-nilai HAM dan demokrasi atau tidak. Isu-isu negara berbasis HAM, negara demokratis, dan negara-negara yang anti demokrasi dan anti HAM mengemuka ke permukaan sehingga menimbulkan polemik yang mewarnai tata internasional di dunia.

Pada masa pasca tragedi WTC dan Pentagon, 11 September 2001, sampai dengan sekarang ini, dunia diwarnai oleh perang global melawan terorisme (Global War on Terror, GWOT) yang dicanangkan oleh Amerika Serikat dan didukung oleh negara-negara Barat lainnya. Isu terorisme mulai menyeruak ke permukaan sehingga membelah dunia menjadi dunia teroris dan dunia anti teroris. Amerika Serikat menjadikan terorisme sebagai kampanye global untuk diperangi dan penentuan kawan atau lawan sangat didominasi oleh “apakah anda mendukung teroris atau anda anti teroris”. Terorisme menjadi aktor dan isu global abad ke-21 sehingga menempatkan Al Qaeda, ISIS, Boko Haram, Al Shabab, Jamaah Islamiyah, dan lain-lain sebagai actor utama dalam hubungan internasional.

Dinamika politik dunia semakin kompleks dan beragam sehingga mempengaruhi konstelasi politik domestik masing-masing negara. Setiap negara  di dunia sekarang ini meningkatkan kewaspadaan akan adanya berbagai ancaman berupa konflik antar negara dan konflik domestik intra negara yang membahayakan keamanan nasional masing-masing negara. Ditambah lagi dengan adanya globalisasi telah mendorong perkembangan teknologi sehingga berbagai ancaman konflik dan perang antar milisi dengan pemerintah maupun antara negara besar dengan negara kecil makin kompleks sarana-prasarananya.Hal ini terjadi karena penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, khususnya dunia maya, yang kemudian mengarah pada ancaman perang cyber (Cyber Warfare).

 Bagaimana Persiapan Indonesia ?

Sejauh ini kita belum siap, “belum” bukan berarti “tidak” namun sebenarnya kita masih dalam proses pembentukan kesiapan dan ketahanan cyber .Dalam menghadapi ancaman Cyber Warfare, maka diperlukan sinergitas dari berbagai pihak untuk bersatu padu, saling sinergi, saling komunikasi dan saling koordinasi. Cyber Warfare merupakan ancaman serius di era global sekarang ini sehingga diperlukan kesatuan pandangan dan satu persepsi untuk mensinergikan satu tindakan, satu kebijakan dan satu rencana aksi yang utuh. Ancaman Cyber Warfare harus memerlukan partisipasi dari berbagai pihak untuk menanganinya dan tidak mungkin hanya bisa dihadapi oleh satu instansi semata. Ancaman serangan cyber tidak bisa dilakukan secara parsial semata, melainkan memerlukan langkah penanganan yang dilakukan secara komprehensif, integral dan terpadu. Dalam menghadapi serangan cyber, diperlukan analisis terhadap eskalasi ancaman dan gradasi dalam menghadapi serangan cyber.

Kesimpulan

 Abad informasi dan perkembangan globalisasi sekarang ini, potensi ancaman terhadap kedaulatan negara sudah menjadi hal yang lumrah dan disadari setiap negara. Ancaman tersebut bukan hanya ancaman fisik semata namun dewasa ini berkembang menjadi ancaman non fisik yaitu ancaman cyber, yang mengarah pada aktivitas cyber crime dan berpotensi menimbulkan cyber warfare . Ancaman cyber sejatinya sulit dirasakan namun dampaknya sangat berbahaya dan mematikan karena langsung menyerang ke pusat pertahanan setiap negara.

Ancaman cyber tidak cukup dihadapi dengan persenjataan, alutsista dan jumlah tentara yang banyak dan canggih, melainkan diperlukan tentara cyber yang memahami teknologi informasi, komunikasi, komputer, internet, dan media sosial.

Penulis: M. Singgih Fadli

TINGGALKAN BALASAN