Menjaga Persatuan dan Tidak Terpengaruh Isu Negatif di Media Sosial

Manado, Semaraknews.com – Seperti yang kita ketahui, bahwa dalam beberapa waktu kebelakang, banyak hal yang terjadi di Indonesia yang telah mengguncang toleransi antar umat beragama, khususnya antara umat Kristiani dan umat Muslim. Hal ini terus bermunculan dimulai dengan dugaan penistaan agama oleh Gubernur Non-aktif DKI Jakarta hingga masalah taman wisata religi di Kampung Texas. Yang perlu kita sadari, bahwa sesungguhnya hal ini seharusnya tidak boleh mempengaruhi kita, karena banyak hal yang sebenarnya terjadi dibelakang layar yang menginginkan perpecahan Indonesia.

Hal ini perlu kita tanggapi secara bijaksana, bagaimana kita sebagai umat Krisiani yang diajarkan untuk saling mengasihi, tidak terpancing amarahnya dan malah ikut-ikutan memperkeruh keadaan. Tuhan Yesus dalam pengajaranNya tidak pernah mengajarkan kita untuk membenci, apalagi sampai mebeda-bedakan mana yang merupakan saudara kita dan mana yang bukan. Dalam hukum kasih yang terdapat pada Markus 12:31, Yesus memerintahkan kita untuk mengasihi “sesamamu manusia”, bukan “sesamamu umat Kristiani”, ataupun “sesamamu yang baik pada dirimu”. Yesus memerintahkan kita sebagai umatnya untuk mengasihi semua manusia yang ada dimuka bumi ini sebagai mana kita mengasihi diri kita sendiri. Begitu juga yang terdapat di Imamat 19:18, bagaimana dalam ayat tersebut kita diminta untuk tidak menaruh dendam terhadap orang-orang yang sebangsa dengan kita.

Perlu kita pahami juga adalah kita tidak bisa hidup sendiri. Kemajemukan atau keberagaman yang ada di Indonesia membuat negara ini menjadi lebih indah. Coba anda bayangkan jika negara ini hanya memiliki satu agama saja, maka kita tidak akan ada hari libur yang banyak dalam kalender kita setiap tahunnya. Namun, hal tersebut ternyata juga menjadi tantangan kita untuk menjaga kesatuan dan persatuan bangsa. Ketika banyak orang yang ingin merusak persatuan Indonesia, kita seharusnya tidak tinggal diam dan justru ikut berkontribusi untuk menjaga keutuhan negara yang kita cintai ini.

Sekarang ini, di zaman yang serba canggih, yang mana orang lebih berani menyuarakan pendapatnya di dunia maya daripada di dunia nyata, menjadikan orang-orang yang disekelilingnya juga menjadi lebih responsif. Khususnya dalam beredarnya isu-isu yang ada di media sosial. Para Netizen, sebutan untuk mereka yang menjadi penduduk dunia internet atau maya, sangat mudah terprovokasi dan memprovokasi dengan memposting berita atau opini yang mereka dapatkan di dunia maya. Hal ini seharusnya dihindari oleh kita sebagai umat yang belajar tentang Kasih. Dalam Efesus 4:26-27, kita diajarkan bahwa dalam amarah kita, iblis hadir mencari kesempatan akan tubuh dan perbuatan kita. Jika kita terprovokasi, maka otomatis kita akan menjadi marah dan berusaha untuk melawan kembali, namun Tuhan ajarkan bahwa dalam kemarahan kita yang paling dalam sekalipun, jangan sampai kita lengah dan membiarkan iblis mempengaruhi diri kita.

Jadi, ketika kita telah mengetahui bahwa provokasi adalah salah satu langkah iblis dalam mencari kesempatan menguasai kita, kita seharusnya menjadi lebih bijaksana dalam melihat isu-isu yang beredar dan bijaksana dalam membagikan tautan isu di media sosial. Dalam Mazmur 34:14-15 memberikan arahan kepada kita untuk menjauhi  yang jahat dan melakukan yang baik, carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya!

Khusus masalah proses hukum di Jakarta kita harus menerima dan mengawal proses selanjutnya serta tetap mendorong Polri bertindak profesional, independent, tanpa ada intervensi dari kekuasaan dan komponen bangsa tertentu. Seperti yang kita ketahui, bahwa dalam beberapa waktu kebelakang, banyak hal yang terjadi di Indonesia yang telah mengguncang toleransi antar umat beragama, khususnya antara umat Kristiani dan umat Muslim. Hal ini terus bermunculan dimulai dengan dugaan penistaan agama oleh Gubernur Non-aktif DKI Jakarta hingga masalah taman wisata religi di Kampung Texas. Yang perlu kita sadari, bahwa sesungguhnya hal ini seharusnya tidak boleh mempengaruhi kita, karena banyak hal yang sebenarnya terjadi dibelakang layar yang menginginkan perpecahan Indonesia.

Hal ini perlu kita tanggapi secara bijaksana, bagaimana kita sebagai umat Krisiani yang diajarkan untuk saling mengasihi, tidak terpancing amarahnya dan malah ikut-ikutan memperkeruh keadaan. Tuhan Yesus dalam pengajaranNya tidak pernah mengajarkan kita untuk membenci, apalagi sampai mebeda-bedakan mana yang merupakan saudara kita dan mana yang bukan. Dalam hukum kasih yang terdapat pada Markus 12:31, Yesus memerintahkan kita untuk mengasihi “sesamamu manusia”, bukan “sesamamu umat Kristiani”, ataupun “sesamamu yang baik pada dirimu”. Yesus memerintahkan kita sebagai umatnya untuk mengasihi semua manusia yang ada dimuka bumi ini sebagai mana kita mengasihi diri kita sendiri. Begitu juga yang terdapat di Imamat 19:18, bagaimana dalam ayat tersebut kita diminta untuk tidak menaruh dendam terhadap orang-orang yang sebangsa dengan kita.

Yang perlu kita pahami juga adalah kita tidak bisa hidup sendiri. Kemajemukan atau keberagaman yang ada di Indonesia membuat negara ini menjadi lebih indah. Coba anda bayangkan jika negara ini hanya memiliki satu agama saja, maka kita tidak akan ada hari libur yang banyak dalam kalender kita setiap tahunnya. Namun, hal tersebut ternyata juga menjadi tantangan kita untuk menjaga kesatuan dan persatuan bangsa. Ketika banyak orang yang ingin merusak persatuan Indonesia, kita seharusnya tidak tinggal diam dan justru ikut berkontribusi untuk menjaga keutuhan negara yang kita cintai ini.

Sekarang ini, di zaman yang serba canggih, yang mana orang lebih berani menyuarakan pendapatnya di dunia maya daripada di dunia nyata, menjadikan orang-orang yang disekelilingnya juga menjadi lebih responsif. Khususnya dalam beredarnya isu-isu yang ada di media sosial. Para Netizen, sebutan untuk mereka yang menjadi penduduk dunia internet atau maya, sangat mudah terprovokasi dan memprovokasi dengan memposting berita atau opini yang mereka dapatkan di dunia maya. Hal ini seharusnya dihindari oleh kita sebagai umat yang belajar tentang Kasih. Dalam Efesus 4:26-27, kita diajarkan bahwa dalam amarah kita, iblis hadir mencari kesempatan akan tubuh dan perbuatan kita.

Jika kita terprovokasi, maka otomatis kita akan menjadi marah dan berusaha untuk melawan kembali, namun Tuhan ajarkan bahwa dalam kemarahan kita yang paling dalam sekalipun, jangan sampai kita lengah dan membiarkan iblis mempengaruhi diri kita. Jadi, ketika kita telah mengetahui bahwa provokasi adalah salah satu langkah iblis dalam mencari kesempatan menguasai kita, kita seharusnya menjadi lebih bijaksana dalam melihat isu-isu yang beredar dan bijaksana dalam membagikan tautan isu di media sosial. Dalam Mazmur 34:14-15 memberikan arahan kepada kita untuk menjauhi  yang jahat dan melakukan yang baik, carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya!

Khusus masalah proses hukum di Jakarta kita harus menerima dan mengawal proses selanjutnya serta tetap mendorong Polri bertindak profesional, independent, tanpa ada intervensi dari kekuasaan dan komponen bangsa tertentu.

Oleh: Pnt. Herwyn Malonda, Sekretaris Komisi P/KB Sinode GMIM

TINGGALKAN BALASAN