Ramallah, Semarak.news-Tiga tahun sudah Radio Sanabel mengudara, tetapi suara itu kini semakin lirih. Perjuangan mereka usai dan stagnan diumur tiga tahun. Agustus lalu, tentara Israel menjemput paksa dan memenjarakan pendiri Sanabel. Padalah dibutuhkan keberanian sedikitnya 10 jurnalis Palestina, uang pinjaman dari bank, dan kerja keras untuk membangung pemancar radio.

Seorang jurnalis yang diamankan oleh tentara Isreal. [Foto: Reuters]
Seorang jurnalis yang diamankan oleh tentara Isreal. [Foto: Reuters]

Minggu kemarin, Hamed al-Namoura, (25), Ahmad Darwish (23), Muntaser Nassar (23), Nidal Omar (23), dan Mohammad Omran (23). Mereka adalah lima dari 40 jurnalis Palestina yang menikmati hotel prodeo milik tentara Israel. Sebanyak 26 jurnalis adalah anggota dari Sindikat Jurnalis Palestina yang bernaung di bawah Federasi Jurnalis Internasional.

“Hampir semua dari 26 jurnalis dipenjarakan tanpa ada persidangan,” tutur Komunitas Penjara Palestina cabang Bethlehem, Khalid Al-Araj. Ia menimpali bahwa penjeblosan tersebut bertujuan untuk “menjinakkan” dan “membisukan” kelompok pers.

Tak mau berputus asa, Araj dan pengacaranya berusaha mencari sebuah keadilan. Tak banyak yang didapat hanya alibi “hasutan terhadap Israel”yang mereka temui. “Radio Sababel menjelek-jelekkan Israel melalui penyiaran yang berkonten fitnah dan himbauan untuk membenci dan menyerang Israel.” Tutur seorang juru bicara yang mewakili militer Israel.

“Kami hanya membela para wartawan yang dipermasalahakan dalam pekerjaan mereka. Kebijakan Israel kebanyakan hanya menyulitkan tugas para wartawan di lapangan.” Tegas Alexandra el-Khazen, pimpinan Reporters Without Borders cabang Timur Tengah.

Khazen menambahkan, adanya adanya kasus ini telah terjadi semenjak tahun lalu dan membuat banyak media gulung tikar. Israel pun sengaja melakukan hal ini untuk menyumpal suara yang keluar dari mulut para jurnalis.

Aqeel Awawadi,seorang pimpinan teknisi audio di Radiao Sanabel enam bulan lalu mengatakan bahwa Isreal hanya “menutup” kantor berita dengan budget kecil dan membiarkan media yang berkocek lebih banyak. “Sanabel awalnya berdiri dengan anggota tertua hanya 25 tahun dan pastinya Sanabel sulit untuk bangkit kembali meski lima anggota mereka dilepas.” Tambahnya.

Hidup di Palestina, pena para jurnalis kandas dibanding senjata para tentara. Hal ini menjadikan pekerjaan wartawan adalah pekerjaan yang rawan untuk digeluti. Meskipun berita yang dimuat atau disiarkan tidak ada tendensi untuk menghina Israel, tetap saja hidup para wartawan di tanah para nabi tidak bisa dijamin aman.

 Gas air mata dan kekerasan menjadi bumbu hidup yang harus dihadapi oleh wartawan di tanah para nabi. Mereka bukanlah politisi atau musuh yang perlu ditakuti. Jurnalis hidup untuk meyuarakan fakta dan kebajikan di dunia. Adapun wartawan yang bertugas di Gaza dan Tepi Barat Palestina menjadi adalah wartawan yang rentan akan kekerasan.

Merujuk kepada data Reporter Without Border 2016, Israel berdiri pada peringkat 101 dari 180 negara di mana urutan kekebasan pers anjlok dari 60 lengser ke 160.

 

TINGGALKAN BALASAN