Pasca pemilu dan menjelang keputusan sidang MK, Komunitas Jurnalisme Warga Kebhinnekaan menggelar diskusi publik guna mengimbau masyarakat dan elite politik bersatu pasca-Pemilu 2019.
Acara yang digelar di Fatmawati, Jakarta Selatan, Selasa (25/6). Mengusung tema “Pemberdayaan Media Massa dan Masyarakat dalam Rangka Memelihara Persatuan dan Keamanan Pasca Pemilu 2019”.
Diskusi dihadiri oleh Domuara D. Ambarita (Dewan Redaksi Tribun Network), Adi Prayitno (Dosen FISIP UIN Jakarta), serta Muhammad Rafsanjani (Tokoh Muda NU/Aktivis PB PMII).
Salah satu pembicara, Adi Prayitno yang juga merupakan dosen FISIP UIN Jakarta, mengajak seluruh masyarakat untuk berdamai dan bersikap biasa saja dalam menerima hasil pemilu.
“Sudah ada yang cerai gara-gara pemilu, ada makam yang dibongkar. Kita ribut seolah-olah pemilu ini seperti jalan menuju surga, seperti perang salib, tapi padahal di level elit mereka sudah selesai. Jadi ya kita biasa-biasa saja lah.” Tutur Adi Prayitno.
Domuara mengingatkan audiens agar selalu memperkuat literasi serta melakukan pengecekan terhadap informasi yang diterima dengan membandingkan dari berbagai perspektif. Diharapkan dengan langkah tersebut dapat mencegah dampak negatif yang ditimbulkan dari berita negatif dan provokatif.
Selain itu, Muhammad Rafsanjani mengingatkan bahwa politisasi agama merupakan isu lama yang sudah selesai pada abad pertengahan. Isu tersebut dimanfaatkan oleh kelompok tertentu pada momentum kontestasi politik karena masyarakat Indonesia dianggap memiliki fanatisme yang tinggi terhadap agama.
Dengan diadakannya diskusi publik ini, kedepannya media massa sangat diharapkan memberikan informasi yang edukatif dan dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini juga merupakan bentuk perlawanan terhadap informasi palsu atau hoax.

LEAVE A REPLY