Unit 8.200 Israel, Pasukan Cyber Israel

Unit 8.200 Israel, Pasukan Cyber Israel

0
24

Beberapa waktu lalu dunia internasional dibuat geger dengan terbunuhnya Jamal Khashoggi di Kedutaan Besar Arab Saudi di Turki. Jamal Khashoggi merupakan warga negara Saudi dan bekerja sebagai wartawan untuk The Washington Post, Amerika Serikat. Namun ternyata, ada teknologi Israel yang berperan melacak posisi Jamal Khashoggi selama ini, yang bentuknya berupa aplikasi spyware.
Perangkat lunak khusus itu ternyata dibuat oleh perusahaan keamanan cyber Israel yang digunakan untuk melacak Jamal Khashoggi, mantan kontraktor Badan Keamanan Nasional AS dan whistleblower. Menurut konferensi di Tel Aviv, Israel, lewat video call dari Rusia, Edward Snowden mengatakan spyware Pegasus dijual kepada pemerintah oleh NSO Group Technologies yang digunakan untuk melacak lawan.

Seperti yang sudah diketahui, Jamal Khashoggi merupakan seorang kolumnis dan warga negara Saudi untuk The Washington Post. Ia terbunuh pada 2 Oktober 2018 setelah memasuki Konsulat Saudi di Istanbul. Menurut kantor Kejaksaan Istanbul, begitu berada di dalam, dia segera dicekik dan kemudian dipotong-potong. Usai umumkan Jashoggi terbunuh, Arab Saudi belum mengungkapkan lokasi tubuh Khashoggi. Edward Snowden mengatakan smartphone salah satu teman Khashoggi, yang tinggal sebagai pengasingan di Kanada, telah terinfeksi spyware Pegasus milik NSO.

Pegasus ini, memungkinkan pengawasan tak terbatas terhadap ponsel. Pegasus menjadi alat spionase yang bisa dipakai oleh institusi sebuah negara untuk memata-matai orang tertentu, misalnya untuk alasan keamanan nasional atau politik. Bahkan Pegasus ini disebut sebagai aplikasi spyware seluler paling kuat di dunia.

Menurut informasi dari perusahaan intelijen keamanan Lookout, aplikasi spyware Pegasus Android memiliki beberapa fitur canggih, di antaranya :
– Pegasus mampu mengambil data dalam jumlah besar
– Pegasus mampu mencuri pesan dan catatan panggilan dari WhatsApp, Facebook, Twitter, Skype dan Gmail
– Pegasus juga bisa mengontrol kamera ponsel dan mikrofon, serta melakukan keylogging dan mengambil screenshot layar hape
– Pegasus bisa dikontrol melalui SMS dan merusak diri sendiri jika diperlukan

Selain Android, NSO Grup Technologies sedikit menunjukkan kehebatan pegasus di ponsel iPhone. Peggasus mampu mengcopy seluruh ikon di iPhone ke layar proyektor, sehingga seluruh informasi dalam ponsel dapat terbaca.
Pertunjukan produk NSO itu membuktikan bahwa ponsel kita, semahal iPhone sekalipun, tak kebal dari penyadapan. NSO Group adalah perusahaan ‘jasa keamanan’ yang didirikan oleh Niv Carmi, Omri Lavie, and Shalev Hulio. Perusahaan ini berkantor di Herzliya Pituah, Israel. Di brosur yang dibagikan oleh NSO, seperti dikutip Foreign Policy, NSO menawarkan “a powerful and unique monitoring tool, called Pegasus, which allows remote and stealth monitoring and full data extraction from remote targeted devices via untraceable commands”.

Di profil NSO Group yang ada di situs SIBAT Kementerian Pertahanan Israel, perusahaan itu ditulis sebagai ‘leader in the field of cyber warfare’. Singkat kata, NSO ini menawarkan spyware Pegasus yang bisa dipakai memata-matai orang lewat ponsel yang dikantonginya. NSO sendiri di pimpin oleh Shalev Hulio dan Omri Lavie.

Selain menjabat bos di NSO, Shalev dan Omrie merangkap jabatan di Kaymera Technologies dan Orchestra. Berlawanan dengan NSO, yang menjual jasa ‘mata-mata’, Kaymera justru menjual jasa kepada pemerintah dan perusahaan-perusahaan bagaimana menghindari ancaman keamanan di internet, salah satunya dari intipan mata-mata. Para pimpinan NSO adalah alumni Unit 8200, yaitu unit intelijen
Menurut penelusuran CitizenLab, ada 45 negara di dunia yang memakai Pegasus milik NSO Group, dari Meksiko, Arab Saudi, Panama, sampai Botswana. Sebagai perusahaan yang terdaftar di Kementerian Pertahanan Israel, semua transaksi pembelian Pegasus harus mendapatkan izin dari pemerintah Israel.

Untuk menjual produknya di daerah eropa, Isael mengalami kesusahan, sehingga mereka perlu perusahaan-perusahaan yang terdaftar di luar Israel. Verint System mungkin salah satunya. Meski didirikan oleh warga Israel dan sekitar separuh dari karyawannya berkantor di Israel, perusahaan ini menjual sahamnya di bursa saham Amerika dan berkantor pusat di Melville, New York. Menurut penelusuran Haaretz, ada produk Verint yang dijual ke salah satu lembaga pemerintah di Indonesia.

Uni Emirat Arab sudah memakai jasa NSO sejak Agustus 2013. Target-target penyadapan Emirat Arab yang dipesan kepada NSO Group bukan hanya aktivis yang sering mengkritik pemerintah seperti Mansoor, tapi juga para pemimpin di negara tetangga. Di antaranya Emir Qatar beserta 159 anggota keluarganya dan Pangeran Mutaib bin Abdullah, salah satu pesaing dari Pangeran Mohammad bin Salman dalam memperebutkan kursi putra mahkota Arab Saudi. Arab sendiri membeli pegasus pada 2017 seharga US$ 55 juta atau sekitar Rp 800 miliar. (S)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY