Tuntut Keadilan, Aliansi Rakyat Melawan Tuntut Penyelesaian Kasus Anindya Surabaya!

Aksi Unjuk Rasa Aliansi Rakyat Melawan (ARM)

Surabaya, Semarak.News– Kota Surabaya dikenal sebagai salah satu kota Metropolis yang kaya akan prestasi. Namun terlepas dari itu banyak pembangunan di kota ini yang tak jarang merelakan masyrakatnya demi infrastruktur dan fasilitas kota, dalam prosesnya seringkali terjadi kekerasan ketika sedang mempertahankan tempat tinggal maupun dalam menggunakan hak demokratisnya.

Atas alasan itulah kelompok yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Melawan melakukan aksi didepan Polrestabes Kota Surabaya (10/10). Hal ini adalah bentuk solidaritas terhadap kasus pelecehan seksual yang dialami salah satu aktivis Front Mahasiswa Nasional (FMN) Surabaya oleh pihak aparat.

AWAL MULA KASUS PELECEHAN OLEH APARAT

Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) pada peringatan Hari Buruh Internasional bergabung bersama organisasi-organisasi rakyat lainnya dalam Aliansi Rakyat Melawan (ARM) diancam dan dipaksa keluar dari barisan massa aksi. Beberapa kali diskusi dan pemutaran Film yang dilakukan di Asrama Papua juga dijaga aparat keamanan, bahkan sebagian diantaranya dibubarkan paksa dengan alasan yang tak masuk akal. Seperti screening film pada tanggal 6 Juli 2018 yang didatangi ratusan aparat bersenjata lengkap, serta terjadi singgungan ketika mahasiswa ini meminta surat tugas kepada aparat namun malah mendapat cacian, ancaman dan terjadi pelecehan seksual.

Pasca hal tersebut terjadi, Aktivis Perempuan FMN Anindya Shabrina mengunggah tulisan di Facebook terkait pembubaran dan pelecehan seksual yang dialaminya. Dilansi Duta.co Piter Rumaseb (Anggota Tantrib Satpol-PP) menyatakan hal yang berkebalikan. Ain dituduh sebagai provokator dan pelecehan seksual tersebut tidak pernah terjadi.

Tanggal 15 Agustus 2018, terjadi penyerangan dan perusakan di Asrama Papua oleh ormas-ormas gabungan. Salah satu penghuni Asrama Papua yang membela diri karena dipukuli, menjadi tertuduh kasus pembacokan. Dilansir theworldnes.net, Piter Rumaseb juga menyatakan hal serupa bahwa ada empat orang provokator dari Asrama Papua yang seharusnya mereka adalah korban perusakan, penyerangan, dan pemukulan ormas gabungan.

Tanggal 21 Agustus 2018, Aktivis Anin menjadi Narasumber disalah satu perguruan tinggi Swasta Surabaya. Acara tersebut resmi dan diketahui oleh pihak universitas. Namun ada seorang aparat yang menginterogasi panitia acara. Hal ini diduga adanya pembuntutan yang dialami Anin yang dapat mengancam keselamatannya.

Oleh karena itu massa aksi ini mengajak seluruh elemen masyarakat di Surabaya maupun di Seluruh Indonesia untuk memberikan dukungan dan solidaritas terhadap Anin dan Seluruh gerakan rakyat di Surabaya yang sedang mengalami ancaman kriminalisasi, dan mendukung kampanye sosial media.

Massa aksi menyatakan beberapa tuntutan, antara lain Hentikan penyidikan terhadap kasus Anindya Shabrina, Hentika segala bentuk kriminalisasi terhadap rakyat, dan Usut tuntas pelaku pemukulan dan pelecehan seksual yang dilakukan oleh aparat.

TINGGALKAN BALASAN