Tito Karnavian, Jenderal dengan Kilau Prestasi, Tak Ada Alasan untuk Diganti

Catatan Ngasiman Djoyonegoro/Direktur Eksekutif Center of Intelligence and Strategic Studies (CISS)

Isu tidak sedap menerpa Jenderal (Pol) Tito Karnavian beberapa hari terakhir. Sejumlah kalangan—khusus beberapa politisi Senayan—mendesak Jenderal Tito mundur dari jabatannya. Salah satu alasan yang dijadikan argumentasi untuk mendesak Tito diganti adalah karena dianggap gagal menjalankan tugas sebagai Kepala Polri seiring terjadinya insiden di Mako Brimob Depok, tragedi bom di Surabaya dan beberapa tragedi lainnya.

Sebagai orang yang selama ini mengamati perkembangan dunia keamanan dan isu-isu strategis, saya merasa desakan kepada Jenderal Tito untuk mundur dari jabatan Kapolri terlalu berlebihan. Desakan itu sesungguhnya salah alamat dan terlampau politis. Ada enam dasar argumentasi mengapa Jenderal Tito layak dipertahankan.

1) Insiden di Mako Brimob Depok dan tragedi bom di Surabaya memang peristiwa memilukan. Namun menjadikan Jenderal Tito sebagai kambing hitam tidaklah tepat. Sebagai bom bunuh diri, peristiwa di Surabaya tidak gampang dicegah.Begitu pula insiden di Mako Brimob yang awalnya dipicu oleh masalah sepele. Secara tegas Jenderal Tito mengatakan bahwa sebenarnya Polri sudah mengetahui infomasi terkait rencana aksi bom bunuh diri tersebut. Namun pihak kepolisian tidak bisa bertindak apa-apa sebelum ada kejadian atau barang bukti. Ini mengingat belum tersedianya perangkat undang-undang/payung hukum bagi aparat untuk melakukan tinadakan (pencegahan) sebelum ada kejadian atau barang bukti.

2) Selama ini Jenderal Tito merupakan Kapolri yang sangat sigap dan cekatan ketika terjadi peristiwa apapun yang menyangkut soal keamanan. Begitu sebuah peristiwa terjadi, Jenderal Tito langsung sigap mengatasinya dan memberikan informasi (kronologi) secara amat detail kepada publik dan media. Pengalaman saya mengamati sejumlah Kapolri sebelumnya dalam bemberikan keterangan kepada publik dan media terkait sebuah peristiwa, Jenderal Tito lebih detail dan komprehensif.

3) Harus diakui bahwa di bawah kepemimpinan Tito Karnavian, jaringan sel terorisme banyak diungkap dan dibongkar. Beberapa pencegahan sukses dilakukan. Misalnya penangkapan terduga teroris di Tambun Bekasi ataupun penembakan mati empat terduga teroris di Cianjur, Jawa Barat, sebelum peledakan bom di Surabaya. Ini mengingat semasa berkiprah di kepolisian, Tito berpengalaman di bidang terorisme. Saat memimpin Densus 88 Polda Metro Jaya tahun 2005, Jenderal Tito mampu menagkap buronan kakap teroris bernama Azahari Husin dan kelompoknya di Batu, Malang, Jawa Timur. Azahari merupakan seorang insinyur Malaysia yang diduga kuat menjadi otak di balik bom Bali 2002 dan bom Bali 2005 serta serangan-serangan lainnya yang dilakukan Jemaah Islamiyah. Tak hanya itu, pencapaian besar lain yang Tito dapatkan semasa di Densus 88 ialah membongkar orang-orang di balik konflik Poso. Ia dan timnya berhasil menangkap puluhan tersangka yang masuk dalam daftar pencarian orang pada 2007. Atas prestasinya itu, pangkat Tito kembali dinaikkan menjadi Komisaris Besar. Ia dan satuannya juga mendapat penghargaan dari Kapolri.

4) Prestasi Jenderal Tito lainnya adalah saat memimpin Tim Kobra dan berhasil menangkap Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto, putra Presiden pertama RI Soeharto, pada 2001. Tommy ditangkap dalam kasus pembunuhan hakim agung Syafiudin. Saat itu, Tito merupakan Kepala Satuan Serse Umum Reserse Polda Metro Jaya. Kesuksesannya menangkap Tommy diganjar dengan kenaikan pangkat luar biasa Mayor menjadi Ajun Komisaris Besar.

5) Jenderal Tito pernah menjabat sebagai Kepala  Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Kepala Densus 88 Antiteror dengan segudang prestasi. Tak heran jika Tito Karnavian menyalip jenderal bintang tiga lain yang usianya terpaut bertahun-tahun di atasnya dalam bursa calon kepala Polri. Usia Tito masih muda namun sudah meraih kepercayaan Presiden Jokowi sebagai Kapolri.

6) Jenderal Tito merupakan satu-satunya kapolri yang bergelar profesor. Ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Kepolisian Studi Strategis Kajian Kontra Terorisme oleh Irjen Pol Iza Fadri, selaku perwakilan guru besar senat akademik Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). Karena itu, banyak yang menyebut Tito Karnavian merupakan Jenderal Polisi yang intelektual.  Bahkan ia pernah menulis buku berjudul “Indonesian Top Secret: Membongkar Konflik Poso” yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Sebuah buku penting yang laris manis dan menjadi rujukan banyak kalangan dalam membongkar sebuah konflik.

 

Jakarta, 23 Mei 2018

TINGGALKAN BALASAN