Jakarta, Semarak.news – Indeks harga konsumen pada Februari 2019 telah diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Tercatat bahwa pada Februari 2019 mengalami deflasi sebesar 0,08%. Dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 135,72. Sementara itu untuk secara tahunan, tingkat inflasi (Januari – Februari) 2019 tercatat 0,24%. Sedangkan untuk tahun ke tahun (Februari 2019 terhadap Februari 2018) tingkat inflasi mencapai 2,57%.

Hal tersebut dinyatakan oleh Yunita Rustanti (Deputi Kepala BPS) dalam konferensi persnya di Gedung BPS, Jumat (01/03/2019).

BPS menyebut, hal tersebut terjadi karena harga barang bahan pokok terkendali, bukan karena daya beli yang cenderung menurun. Adanya penurunan harga, ditunjukkan oleh turunnya beberapa indeks kelompok pengeluaran, seperti : kelompok bahan makanan sebesar 1,11%.

“Dari deflasi 0,08%, kelompok bahan makanan menyumbang deflasi -1,11%. Komoditasnya daging ayam, cabe merah, telur ayam ras, cabe rawit, jeruk, wortel dan sebagainya” kata Yunita.

Yunita menyatakan “Kalau kita lihat perkembangan tingkat infasi sejak 2017, Februari 2018 deflasi dibandingkan bulan Desember yang inflasi, 2017 sebelumnya inflasi dan sementara sekarang deflasi,”.

Selanjutnya Yunita menjelaskan, dari 82 kota cakupan data perhitungan IHK, terdapat 69 kota mengalami deflasi dan 13 kota mengalami inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Merauke yakni sebesar 2,11%, sementara inflasi tertinggi terjadi di Tual sebesar 2,98%. Bahan makanan mengalami deflasi sebesar 1,11% dan ini memberikan nilai deflasi sebesar 0,24% terhadap deflasi Februari. “Ini satu-satunya dari beberapa kelompok yang mengalami deflasi, yang lainnya inflasi,” kata Yunita.

Sementara, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau mengalami inflasi sebesar 0,31% dengan nilai inflasi 0,06. Perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar mengalami inflasi 0,25% dengan nilai inflasi 0,06%. Sandang mengalami inflasi 0,27% dengan andil inflasi 0,01%.

Untuk Sektor kesehatan mengalami inflasi 0,36% dengan nilai inflasi 0,01%, pendidikan, rekreasi dan Olahraga mengalami inflasi 0,11% dengan nilai inflasi 0,01% Lalu transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami inflasi 0,05% dengan nilai inflasi Februari 0,01%.

“Komoditas yang memberikan andil deflasi pada transportasi adalah bensin khususnya untuk yang non subsidi. ini mengalami penurunan harga di Februari. Sementar tarif angkutan udara memberikan andil 0,03%,” kata Yunita.

Source : Badan Pusat Statistik

Penyebab terjadinya deflasi kali ini yang paling menonjol adalah komponen energi dengan nilai deflasi sebesar 0,28% MtM, andil sebesar 0,03%. Karena adanya penurunan sejumlah komoditas Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi, antara lain Pertamax dan Pertamax Turbo.

Ditetapkannya Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM nomor 19K/10/MEM/2019 tentang formula harga jual eceran untuk jenis Bahan Bakar Minyak Umum jenis Bensin dan Minyak Solar yang mulai berlaku pada tanggal 10 Februari 2019. Hal tersebut mempengaruhi turunnya harga BBM pada bulan Februari tersebut 2019. Harga Pertamax turun Rp 350/liter, sedangkan Pertamax Turbo seharga Rp 800/liter. Harga BBM memang kalah dari bahan makanan, dan memiliki bobot yang tinggi dalam perhitungan inflasi.

Sementara itu, Darmin Nasution (Menteri Koordinator Bidang Perekonomian) menilai hal tersebut wajar. Karena harga bahan pokok memang tidak stabil dalam kurun waktu 2018 lalu hingga Januari 2019. Namun masalah ini sudah semakin membaik karena sudah memasuki waktu panen, sehingga ketersediaan bahan pokok kembali normal.

“Misalnya ini kan (harga) cabai naik karena paceklik musim hujan orang tidak panen cabai. Kemudian mulai panen lalu turun harganya itu bagus,” kata Darmin kepada wartawan usai rapat koordinasi implementasi mandatori B20 di Gedung Menko Perekonomian pada Jumat (1/3/2019).

Darmin mengatakan, deflasi pada kasus ini tidak perlu dikhawatirkan.  Meskipun dalam konteks perekonomian, deflasi bisa saja berpengaruh buruk pada perekonomian. (LIA)

LEAVE A REPLY