Alor, Semarak.News | KARYAWAN Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Air Kenari Kecamatan Teluk Mutiara-Alor, Nikodemus Oko diberhentikan dari kerjanya. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) tersebut kuat dugaan dilakukan sepihak oleh PT. Ombay Sukses Persada Kalabahi. PHK ini dilakukan dengan tidak membayar hak kesejahteraan lainnya oleh perusahaan milik Enthon Jodjana, pengusaha kaya raya itu.

Salmon Oko, anak kandung korban Nikodemus Oko selaku penerima mandat menyatakan, dirinya bahkan semua keluarga merasa kecewa atas peristiwa itu. “Sebagai anak dan semua keluarga kami merasa kecewa karena bapa saya di berhentikan tanpa sebab akibat oleh pihak perusahaan. Semua hak-hak kesejahteraan lainnya juga tidak dibayar oleh perusahaan,” kesalnya kepada wartawan saat Jumpa Pers di kediaman korban di Desa Lendola, (23/3/19).

Foto: Surat PHK sepihak oleh PT Ombay Sukses Persada Kalabahi

Ia mengisahkan, kronologis PHK ayahnya Nikodemus Oko, dilakukan pesan lisan oleh Direktur PT Ombay Sukses Persada Kalabahi IR Surya Wonotirto melalui salah seorang karyawan SPBU Air Kenari bernama Erwin Molina. “Pada tanggal 2 Maret 2019, direktur Surya pesan di Om Erwin Molina bilang begini; Erwin, kamu kasih tahu sama bapa Niko bilang saya kasih berhenti dia,” kisah Salmon Oko meniru.

Pada keesokan harinya, yakni tanggal 3 Maret 2019, karena Erwin Molina belum menyampaikan pesan direktur Surya kepada Nikodemus Oko, direktur Surya kembali menanyakan. “Besoknya, direktur Surya tanya lagi ke Om Erwin bilang begini; Erwin, kamu sudah kasih tahu sama bapa Niko atau belum? Kasih tahu e, bilang saya pecat dia,” ucap Salmon Oko kembali menirukan pesan direktur Surya.

“Keesokan harinya, Senin, 4 Maret 2019 pagi, bapa pigi kerja. Sampai di SPBU, bapa di telpon Om Erwin naik ke rumah guna memberitahukan pesan direktur Surya. Jadi terus terang waktu mendengar pesan direktur melalui Om Erwin, bapa langsung putus asa dan pulang ke rumah dan memberitahukan kepada kami kalau dia di pecat,” kisahnya.

Salmon Oko menceritakan, pada tanggal 8 Maret 2019 dirinya menemui direktur Surya Wonotirto guna menanyakan kebenaran informasi tersebut. “Saya ketemu direktur Surya dia bilang benar bapa saya di PHK,” ujar Salmon Oko.

Dirinya kemudian menanyakan hak-hak kesejahteraan lainnya yang belum dibayar pasca di PHK. Seperti hak pesangon, tunggakan gaji pokok dan lembur. “Saya merasa ini perilaku tidak manusiawi yang dilakukan perusahaan terhadap bapa saya. Saya juga heran, ketika saya minta surat PHK mereka kasih surat yang seolah-olah bapa saya berhenti kerja atas permintaan sendiri disertai surat peringatan terakhir, sehingga haknya itu tidak dibayar. Padahal bapa saya sudah 36 tahun kerja di SPBU Air Kenari,” kisah Salmon Oko dengan mata berkaca-kaca.

Foto: Surat pernyataan bersedia undur diri dengan tidak menuntut hak yang diduga dilakukan secara sepihak

Dia menyatakan, hak dan kewajiban karyawan perusahaan, telah diatur dalam peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan. Sehingga, jika perusahaan melakukan PHK terhadap karyawan, maka perusahaan juga wajib membayar semua haknya. Dia kemudian meminta bantuan pemerintah daerah dan pemerhati buruh sekiranya dapat membantu mengadvokasi kasus ini dengan tuntas.

Riwayat Pekerjaan Nikodemus Oko

Pada sekitar bulan Oktober 1983, Nikodemus Oko mulai bekerja sebagai karyawan Perusahaan Firma Ombay (Sekarang PT Ombay Sukses Persada Kalabahi). Pemilik perusahaan adalah Enthon Jodjana beralamat di Air Kenari Kecamatan Teluk Mutiara.

Pada saat itu, Nikodemus Oko memasukkan lamaran kerja dan diterima sebagai karyawan. Ketika itu, tidak ada kontrak kerja sama sekali dengan perusahaan tetapi hanya kesepakatan secara lisan dan bekerja sebagai karyawan menjual BBM.

Sekitar tahun 1985, Perusahaan Firma Ombay mendirikan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Ada banyak rekan kerja saat itu dan ada juga yang sudah meninggal dunia.

Kemudian pada tahun 2014, Enthon Jodjana mengambil alih kepemimpinan SPBU Air Kenari sampai tahun 2019, kepemimpinan diserahkan oleh Enthon kepada menantunya bernama IR Surya Wonotirto sebagai Direktur PT Ombay Sukses Persada Kalabahi.

Beberapa karyawan SPBU Air Kenari yang tidak ingin namanya diketahui, juga kesal terhadap direktur Surya Wonotirto dan Enthon Jodjana selaku pemilik perusahaan. Mereka menyebut, beberapa waktu lalu, ketika para karyawan SPBU sedang sibuk melakukan pengisian BBM, tiba-tiba dipanggil untuk menandatangani sebuah surat yang diduga surat pernyataan siap mengundurkan diri dengan tidak menuntut hak.

“Jadi waktu itu kami sama sekali tidak tahu hal. Kami menduga itu surat jebakan buat kami. Karena kami lagi sibuk melayani pengisian BBM, tiba-tiba dipanggil satu-satu masuk ke dalam untuk tanda-tangan. Direktur Surya suruh kami tanda-tangan surat itu secara sembunyi-sembunyi. Ternyata itu surat pernyataan bersedia undur diri dengan tidak menuntut hak,” kisah salah satu karyawan SPBU Air Kenari.

Sementara itu, hingga berita ini naik tayang, wartawan belum berhasil konfirmasi pihak perusahaan, baik Enthon Jodjana selaku pemilik perusahaan dan Direktur PT Ombay Sukses Persada Kalabahi Surya Wonotirto.**(joka)

LEAVE A REPLY