Aksi SMI saat berorasi dan memblokade Jalan Lintas Sumbawa-Bima.

Bima, Semarak.news – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam barisan Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI) Cabang Bima menggelar aksi untuk memperingati International Women’s Day  di depan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Taman Siswa, Senin (12/03/2018) sekitar pukul 09.00 WIB. Aksi tersebut bertujuan untuk melakukan kritisasi Rezim Jokowi-JK yang dinilai telah gagal mewujudkan kesejahteraan rakyat dan kesetaraan hak rakyat.

“Aksi ini adalah untuk menolak rezim Jokowi-JK yang kami nilai masih belum mampu memberikan kesejahteraan dan kesetaraan gender bagi masyarakat, kami juga menolak pemilu borjuis ” ujar Faruq, Sekjen SMI Cabang Bima.

“Menajamnya Krisis Ekonomi-Politik Krisis perempuan Indonesia saat ini diciptakan oleh rezim pasar bebas yang menata dunia melalui Peraturan-peraturan (regulasi) untuk kepemimpan liberailisasi perdagangan, liberalisasi investas, dan liberalisasi tenaga kerja. Sejumlah kebiiakan anti rakyat sepanjang Rezim Jokowi-JK dalam Paket Kebijakan Ekonomi termanifestasi datam bentuk penghapusan subsidi untuk kelangsungan hajat hidup masyarakat, privatisasi sektor publik dan peningkatan devisa negara melalui perdagangan dan eksploitasi buruh migran.” ujarnya saat melakukan orasi.

Puluhan mahasiswa ini tampak berdiri di tengah Jalan Lintas Sumbawa-Bima, sembari menenteng spanduk kepada para pengguna jalan yang melintas.

Dalam Aksi ini, terdapat beberapa tuntuntan yang disampaikan Faruq pada saat melakukan orasi penutupan, yakni sebagai berikut :

  1. SMI Kab. Bima melawan Sistem Kapitalisme dan Pasar Bebas, karena dinilai bahwa itu adalah akar dari munculnya diskriminasi jenis kelamin, Suku, Agama, Ras, dan Bangsa.
  2. Menolak Pencabutan Subsidi di sektor publik ! (TDL, BBM, Kesehatan, Pendidikan, Transportasi)
  3. Menuntut pemerintah untuk menghentikan Segala bentuk pengekangan demokrasi (KriminaIisasi Gerakan Rakyat, Drop Out, Pembubaran Ormas Demokratik, Dll).
  4. Lawan Kapitalisasi Pendidikan !
  5. Menuntut pemerintah Kab. Bima untuk memberikan Upah Iayak bagi para pekerja di Bima dan segera mencabut Peraturan Perundang-Undangan (PP) No. 78 Tahun 2015.
  6. Pemerintah jangan sepihak dalam menggunakan lahan atau merampas lahan rakyat hanya untuk kepentingan Korporasi.
  7.  Gerakan Rakyat Bersatu untuk membangun Alat Politik Alternative !

“Hancurkan Kapitalis, Musnahkan Liberalis, Jokowi Antek Kapitalis, Turunkan rezim Jokowi, dan kita bela kaum sosialis” teriak Koordinator Aksi,  Imam Syafi’i untuk menutup aksi dengan melakukan blokade jalan selama 5 menit dan menyanyikan lagu “Darah Juang” oleh peserta aksi. (HA)

 

 

TINGGALKAN BALASAN