Siapakah Muhammad bin Salman?

Muhammad bin Salman (MBS), Putra Mahkota Arab Saudi. [AFP]

Sedikit yang mendengar nama Pangeran Muhammad bin Salman (MBS) diluar kerajaan Saudi sebelum ayahnya menjadi raja pada 2015. Namun kemudian, pangeran berusia 32 tahun tersebut menjadi orang paling berpengaruh di negeri pengekspor minyak terbesar dunia itu.

Pada Juni 2017 MBS diangkat menjadi putra mahkota, menggantikan sepupunya Muhammad bin Nayef. MBS lahir pada 31 Agustus 1985, anak tertua dari pasangan Salman bin Abdul Aziz al Saud (saat itu masih pangeran) dan istri ketiganya, Fahdah binti Falah bin Sultan.

Pasca mendapat gelar sarjana hukum dari Universitas King Saud di Riyadh, Ia bekerja di beberapa badan pemerintahan. Pada 2009 Ia ditunjuk sebagai penasihat khusus bagi ayahnya yang ketika itu menjabat Gubernur Riyadh.

Pada 2013, Ia menjadi kepala Mahkamah Putra Mahkota (head of the Crown Prince’s Court) dengan jabatan setara menteri. Tahun berikutnya, ayahnya ditunjuk sebagai putra mahkota setelah kematian dari Nayef bin Abdul Aziz, ayah dari Muhammad bin Nayef.

Pada Junuari 2015, Raja Abdullah bin Abdul Aziz meninggal dan Pangeran Salman bin Abdul Aziz al Saud naik tahta pada usia 79 tahun. Ia kemudian mengambil 2 keputusan yang mengejutkan, yakni menjadikan anaknya (MBS) sebagai menteri pertahanan, dan Muhammad bin Nayef sebagai wakil pangeran mahkota.

Salah satu langkah yang diambil MBS sebagai menteri pertahanan adalah meluncurkan operasi militer di Yaman pada Maret 2015 bersama beberapa negara arab lain pasca President Abdrabbuh Mansour Hadi dipaksa menuju pengasingan oleh pemberontak Houthi.

Operasi militer tersebut membuat sedikit progress selama 2,5 tahun, bahkan membuat Saudi dan sekutunya terlihat seperti pelanggar HAM dan memicu krisis kemanusiaan di Yaman, negara arab paling miskin.

Pada April 2015, Raja Salman menunjuk Pangeran Muhammad bin Nayef sebagai pangeran mahkota dan anaknya sebagai wakil pangeran mahkota, wakil 2 perdana menteri, dan presiden Dewan Urusan Ekonomi dan Pembangunan.

Setahun kemudian, Pangeran MBS meluncurkan rencana ambisius untuk mengubah sosial-ekonomi Saudi, dan mengakhiri ketergantungan negara tersebut pada minyak.

Rencana tersebut, yang diberi nama Vision 2030, mematok peningkatan pendapatan dari sector non minyak menjadi 600 miliyar riyal (160 miliar USD) pada 2020 dan 1 triliyun riyal pada 2030. Pada tahun 2015, pendapatan non minyak Saudi sekitar 163,5 miliyar riyal.

MBS mengatakan bahwa Ia ingin menciptakan kedaulatan keuangan terbesar dunia senilai 3 triliyun USD, dengan uang yang dikumpulkan dari memprivatisasi perusaahan minyak negara, Aramco.

Rencana tersebut juga termasuk merubah kurikulum pendidikan, peningkatan partisipasi wanita di dunia kerja, dan investasi di sector hiburan untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi kaula muda.

Pada april 2017, Saudi mengumumkan rencana pembangunan 334km persegi kota entertainment di pinggiran Riyadh, nantinya akan menawarkan aktivitas budaya dan olahraga termasuk taman safari.

Pangeran mahkota MBS juga diduga mempelopori pemboikotan Qatar bersama Uni Emirat, Bahrain, dan Mesir atas dugaan dukungan kepada terorisme dan mencampuri urusan negara tetangga.

Qatar membantah tuduhan tersebut dan tidak bersedia menyetujui daftar permintaan untuk memperbaiki hubungan perdagangan dan diplomatik. Hingga saat ini konflik tersebut belum terselesaikan.

Pada akhir Juni, Raja Salman menggati putra mahkota dari Pangeran Muhammad bin Nayef menjadi Pangeran MBS. Pangeran Muhammad bin Nayef juga dilepas jabatannya sebagai Menteri Dalam Negeri, yang kemudian menjadikan pasukan keamanannya dibawah kendali Dewan Kerajaan dan MBS. Muhammad bin Nayef juga dikabarkan menjadi tawanan rumah.

Kemudian, MBS mengkonsolidasikan kekuasaannya dan menenkankan rencananya untuk meliberalisasi kehidupan sosial dan ekonomi.

Sebuah langkah awalnya adalah mencabut kebijakan pemotongan tunjangan, bonus, dan keuntungan bagi pegawai negeri dan personil militer yang sebelumnya diberlakukan pada 2016 akibat penurunan harga minyak dunia.

Pada September 2017, MBS memerintahkan penahanan terhadap lebih dari 20 ulama dan intelektual yang berpengaruh karena dianggap berpihak pada ‘pihak asing yang bertentangan dengan kerajaan’, pihak asing disini diyakini sebagai Qatar dan Muslim Brotherhood.

Kemudian pada bulan yang sama, Raja Salman mengumumkan pelarangan wanita untuk mengemudi akan berakhir pada Juni 2018, MBS dianggap yang menginisiasi hal ini meskipun mendapat penolakan dari pihak konservatif.

Pada Oktober, MBS mengatakan bahwa kembali kepada Islam moderat adalah kunci dari rencananya untuk memodernisasi Arab Saudi, saat itu Ia juga mengumumkan investasi sebesar 500 miliyar USD untuk membangun kota baru dan kawasan bisnis yang dinamai ‘Neom’.

Bulan berikutnya, MBS meluncurkan upaya anti korupsi yang disebut banyak pihak sebagai langkah akhir dalam mendapat kendali penuh kerajaan Saudi. Sebelas pangeran, empat menteri dan beberapa pengusaha besar adalah beberapa dari puluhan orang yang ditahan, termasuk pangeran Alwalid bin Talal dan pangeran Miteb bin Abdullah yang juga dilepas dari jabatannya sebagai kepala Pertahanan Nasional, satu-satunya security service yang tidak berada dibawah kendali MBS.

Pada Januari 2018, untuk pertama kalinya Arab Saudi memperbolehkan wanita untuk menonton pertandingan sepak bola langsung di stadion, dan pada bulan berikutnya, Saudi membuka kesempatan bagi wanita untuk bergabung dengan militer.

TINGGALKAN BALASAN