Secercah Cahaya Harapan di Desa Teluk Hiri

Petugas PLN Kalselteng saat berjibaku mengangkut material kelistrikan untuk Desa Teluk Hiri

Kapuas, semarak.news – Senja sudah tenggelam dan langit mulai gulita. Hanya sorot lampu motor membelah gelap malam yang menerangi petugas PLN menurunkan gulungan-gulungan raksasa yang berisi kabel dari kapal fery. Gulungan-gulungan kabel yang biasa disebut haspel tersebut telah melalui perjalanan panjang hingga dapat sampai ke tempat ini, Desa Teluk Hiri, Kecamatan Kapuas Barat, Kabupaten Kapuas.

Perjalanan haspel beserta kawan-kawannya seperti travers dan transformator yang penuh dengan tantangan, dimulai dari dermaga kecil di bawah Jembatan Pulau Telo. Diperlukan setidaknya tujuh orang dewasa untuk memindahkan sebuah haspel dari dermaga ke kapal fery, maupun sebaliknya.

Desa Teluk Hiri mulai terbentuk sejak tahun 1964. Namun selama lebih dari 50 tahun, desa tersebut mengandalkan lampu minyak sebagai penerangan di rumah-rumah. Baru pada tahun 2011 desa tersebut mendapat bantuan sumber penerangan berupa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Namun saat ini, PLTS sudah tidak berfungsi lagi dan warga harus kembali menggunakan lampu minyak sebagai alat penerangan di malam hari.

Terdapat 12 haspel dengan berat belasan ton yang harus diangkut ke Desa Teluk Hiri agar desa di tepi Sungai Kapuas tersebut dapat dialiri listrik. Satu per satu, haspel dan komponen jaringan lainnya berhasil dinaikkan ke kapal fery oleh petugas PLN. Pukul 13.00 WIB kapal fery tersebut mulai menyusuri sungai, mengantarkan secercah harapan bagi warga Desa Teluk Hiri.

Deddy Noveyusa sebagai Supervisor Konstruksi PLN Unit Pelaksana Pembangunan Ketenagalistrikan (UPPK) Kalimantan Tengah menjelaskan bahwa haspel dan kawan-kawannya tidak mungkin diangkut ke Desa Teluk Hiri, karena sulitnya akses jalan darat menuju kesana.

“Untuk bisa sampai ke Desa Teluk Hiri hanya bisa ditempuh menggunakan motor, sekitar 5 jam perjalanan. Jalan yang ada pun hanya jalan setapak melewati jalan yang kebanyakan menembus ladang milik masyarakat. Jika terdapat dua motor berpapasan, salah satu harus mengalah untuk menepi ke pinggir rawa,” ujar Deddy.

Empat jam kemudian, kapal fery sampai di pemberhentian pertama, yaitu Pulau Pantai. Sebanyak empat haspel dan beberapa material yang diangkut harus diturunkan. Material di Pulau Pantai akan dipasang jika jaringan di Desa Teluk Hiri selesai dikerjakan.

“Di sini adalah titik terakhir jaringan eksisting. Untuk melistriki Desa Teluk Hiri, jaringan harus ditarik dari sini yang sudah disambungkan ke Unit Listrik Desa (ULD),” kata Deddy.

Petugas PLN kembali berbondong-bondong mendorong haspel-haspel yang diameternya mencapai tinggi manusia dewasa tersebut. Perjalanan pun terus dilanjutkan dan pada pukul 19.30 WIB, kapal fery merapat di dermaga Desa Teluk Hiri. Sesaat kapal fery merapat, warga telah berdiri bersiap menyambut dengan wajah penuh harap agar listrik segera masuk ke desa mereka.

“Perasaan saya sangat bahagia mendengar adanya listrik di desa kami. Boleh dikatakan seluruh masyarakat desa teluk hiri bangga atas kedatangan listrik masuk desa,” kata Albert, Ketua RT di Desa Teluk Hiri.

Dengan wajah sumringah melihat kedatangan kapal fery, Albert dan warga Desa Teluk Hiri lainya langsung membantu petugas PLN menurunkan haspel dan peralatan lain. Malam hari ini, seluruh peralatan harus diturunkan dari kapal agar pekerjaan penarikan kabel jaringan dapat segera dikerjakan.

Antusiasme warga tidak berhenti sampai di situ, bantuan warga terus berdatangan hingga keesokan paginya saat petugas hendak membongkar haspel dan melaksanakan penarikan kabel atau biasa disebut stringing.

Setidaknya diperlukan 10 orang untuk membongkar haspel dengan kabel sepanjang satu hingga tiga kilometer tersebut. Petugas PLN harus menarik kabel untuk Jaringan Tegangan Menengah (JTM) sepanjang 7,75 Kilometer Sirkuit (Kms) dan 1,25 Kms Jaringan Tegangan Rendah (JTR) agar Desa Teluk Hiri mendapat penerangan. Tidak lupa transformator dengan kapasitas 50 kilo Volt Ampere (kVA) dipasang agar seluruh warga dapat merasakan listrik dari PLN.

Melihat petugas PLN melakukan pekerjaan membangun jaringan di desanya, Albert menjelaskan bahwa selama ini anak-anak kesulitan belajar karena karena tidak ada pasokan listrik yang membantu penerangan bagi mereka belajar sehingga mereka menjadi malas untuk belajar. Warga hanya mampu menghidupkan televisi selama satu jam menggunakan genset, itu pun jika warga memiliki rezeki lebih untuk membeli solar.

Awalnya, Albert mengadakan rapat dengan warga desa untuk mengusulkan agar listrik dapat masuk ke desa mereka. Kemudian mereka membuat proposal yang ditandatangani oleh semua masyarakat dan diketahui oleh kepala desa. Setelah proposal disampaikan ke kecamatan lalu dilanjutkan ke kabupaten, pemerintah mengusulkan permohonan tersebut ke PLN.

“Setahun kemudian permohonan untuk listrik desa disetujui oleh PLN dan sekarang sedang dibangun jaringan oleh PLN Area Kuala Kapuas. Semangat untuk Desa Teluk Hiri kalau ada listrik,” ujar Albert.

TINGGALKAN BALASAN