Sorong, Semarak.News – Pandemi Covid-19 secara tidak langsung telah memaksa seluruh stakeholder untuk lebih meningkatkan lagi saling koordinasi dan menanggalkan ego institusi. Sinergitas antara institusi untuk bersama melawan penyebaran Covid-19 di wilayah Pelabuhan dan Bandara semakin terjalin erat.

Kepala  Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kls III Sorong, Umar Fahmi, S.KM.,MKES tidak sepenuhnya sependapat dengan pernyataan diatas. Dimana menurutnya, kerjasama dan sinergitas antar instansi terkait sudah terjalin baik sebelum adanya wabah Covid-19.

Pihak Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Domeni Eduard Osok (DEO) dan Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Sorong telah menyediakan tempat bagi semua instansi untuk bisa melaksanakan tugas pokoknya secara maksimal. “Bahkan sebelum Covid-19, kami KKP Sorong telah diberikan tempat yang startegis buat menempatkan Thermoscan untuk memindai suhu tubuh setiap penumpang yang baru tiba di terminal kedatangan bandara. “Alat Thermoscan kami diletakkan pada posisi yang sangat strategis , sehingga semua orang yang masuk ke Sorong melalui bandara  tentu akan melewati alat tersebut. Bila suhu panas tubuhnya terdeteksi lebih dari batas normal, orang tersebut langsung kita masukkan ke klinik di bandara. Karena yang kita kwatirkan orang yang suhu tubuhnya tinggi ini, rentan membawa penyakit menular,” ungkap Umar Fahmi saat ditemui Papua barat Pos di Ruang kerjanya, Senin (6/7).

Kantor Kesehatan Pelabuhan tidak hanya berdiri sendiri, tetapi didukung oleh semua pihak dan saling berkolabaorasi bersama untuk sedini mungkin dapat mencegah masuknya penyakit berbahaya ke wilayah Sorong Raya. “Kami bukan merasa di depan, tetapi kami tetap dibantu oleh pihak bandara, kemudian dinas kesehatan Kota dan Kabupaten Sorong. Kami hanya melakukan kewjiban kami itu saja,” kata Umar Fahmi.

Orang terinfeksi itu, kata dia, pasti suhu tubuhnya naik. Makanya Thermoscan pihaknya tempatkan pada posisi yang sangat strategis. “Jadi semua orang yang masuk ke Sorong Raya melalui bandara  sudah bisa kami scaning suhu tubuhnya, selain kami lakukan pula pemeriksaan dokumen kesehatan lainnya. Dimana masyarakat yang hendak masuk harus memiliki surat Rapid Test dan PCR,” tuturnya.

Selain itu, sambung dia, KKP Sorong turut mengawasi setiap orang dengan system informasi kesehatan pelabuhan (Sinkarkes) atau yang dikenal masyarakat sebagai kartu kuning. “Masyarakat bisa mengunakan system secara elektronik dengan mendownload aplikasinya melalui Playstore. Kalau pun yang tidak bisa mengunakan aplikasi handphone kami juga tetap layani dengan system manual,” kata Umar Fahmi.

Menurutnya dengan mengunakan system ini, dapat memudahkan penelusuran kasus bisa terjadi. “Dengan system ini, kami mudah melakukan penelusuran kasus dan dapat langsung mengetahui orang itu dari mana dan datang mengunakan apa. Karena memang beberapa kasus ada ditemukan orang tanpa gejala, tetapi orang tersebut membawa penyakit menular seperti Covid-19 saat ini,” papar Umar Fahmi sembari menambahkan untuk seluruh armada sesuai International Health Regulations dan Undang-Undang nomor 6 Tahun 2018 tentang Karantina Kesehatan wajib harus mengantogi dokumen Clearance In dan Clearance Out dari KKP.

Sumber: https://papuabaratpos.com/sebelum-covid-19-sinergitas-institusi-sudah-terbangun/

LEAVE A REPLY