Sorong, Semarak.News – Gereja Katolik Keuskupan Manokwari Sorong, tetap berkomitmen untuk membantu pemerintah dalam upaya pencegahan penyebaran Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

Setelah sebelumnya KMS ikut mengamankan instruksi pemerintah untuk tidak melibatkan umat dalam proses peribadatan di gereja, KMS juga masih menyertakan poin-poin penting terkait upaya pencegahan penyebaran Covid-19 dalam kebijakan terbarunya ‘membuka’ kembali pintu gereja untuk umat.

Uskup KMS, Mgr. Hilarion Datus Lega, telah mengeluarkan surat terbarunya mengenai kebijakan pastoral terkait pencegahan COVID 19 (lanjutan ketiga) pada tanggal 11 Juli 2020 dengan nomor  16251/A 50/VII.20.HDL.

Dalam surat yang ditujukan kepada para Pastor Paroki/Pra Paroki, Petugas Pastoral dan Pemimpin Komunitas Religius se-Keuskupan Manokwari-Sorong itu, Uskup secara tegas meminta umat Katolik sungguh bertanggungjawab sepenuhnya dan berkomitmen seutuhnya untuk terus mencegah penyebaran Covid-19.

“Menindaklanjuti kebijakan pastoral Keuskupan Manokwari-Sorong (KMS) terkait upaya pencegahan pandemi Сovid-19 melalui surat saya tertanggal 28 Mei 2020 yang lalu, bersama ini saya menghaturkan kebijakan pastoral lanjutan, masih terkait hal yang sama, agar kita umat Katolik sungguh bertanggungjawab sepenuhnya dan berkomitmen seutuhnya untuk terus mencegah Covid-19,” tulis Uskup dalam suratnya.

Masih dalam suratnya Uskup menjelaskan, setelah mencermati kerinduan umat untuk secara langsung merayakan ekaristi bersama imam sebagaimana biasanya sebelum Сovid-19, dengan masih mempertimbangkan petunjuk Kongregasi Suci untuk Ibadat Ilahi dan Tata Tertib Sakramen, serta berdasarkan kesepakatan melalui rapat khusus dan terbatas bersama sejumlah Pastor Paroki/Pastor Rekan Tim Pastoral Wilayah (TPW) Sorong dan Aimas, dengan berpegang pada amanat Kitab Hukum Kanonik (KHK) Nomor 381 ayat 1 yang memberikan kewenangan kepada Uskup untuk memutuskan kebijakan pastoral, maka disampaikan bahwa untuk wilayah Keuskupan Manokwari-Sorong (KMS) misa/perayaan ekaristi publik mulai berlaku kembali sejak Sabtu, 1 Agustus 2020 yang akan datang.

“Selanjutnya kebijakan pastoral ini wajib mengikutsertakan aneka petunjuk ataupun peraturan pemerintah, dalam hal ini terutama pihak Kementrian Kesehatan, untuk sungguh-sungguh dipatuhi. Pertama-tama harus dipastikan bahwa anda yang mengambil bagian dalam ekaristi bersama adalah seorang yang sehat,” tegas Uskup.

Kedua, lanjut Uskup harus dipastikan diukur suhu tubuhnya untuk memenuhi syarat ada bersama yang lain, lalu mencuci tangan dengan sabun dan dilanjutkan dengan menggunakan hand sanitizer dengan tetap memakai masker selama ibadat ekaristi, dan mematuhi jaga-jarak yang telah ditentukan paling kurang satu setengah meter serta menghindari kontak fisik, umpamanya hanya dengan memberikan salam namaste ketika harus bersalam damai.

“Hal-hal teknis operasional ini akan disosialisasikan dengan sebaik-baiknya oleh para petugas resmi di Paroki/Pra Paroki Anda. Petunjuk tehnis pihak yang berwenang ini tentu saja haruslah dipatuhi demi kebaikan kita bersama,” tambah Uskup.

Uskup meminta pengertian umat bahwa apa yang disebut sebagai perspektif new normal adalah sesungguhnya menjaga dan memelihara sendi-sendi kesehatan primer, sehingga tidak berdampak untuk sesuatu/seseorang yang tidak diinginkan.

“Sementara jumlah peserta/umat dibatasi untuk setiap perayaan ekaristi, para Pastor Paroki/Pra Paroki diijinkan untuk memperbanyak frekuensi misa/ekaristi sesuai kebutuhan dan kepatutan. Kemudian menyangkut hal-hal tehnis lainnya terkait cara membagi komuni kudus, banyaknya lagu dalam ibadat, banyaknya misdinar dan mungkin masih ada hal-hal tehnis/praktis lainnya, agar diatasi bersama sebaik-baiknya bersama para Pastor Paroki/Pra Paroki. Yang jelas ‘air berkat’ dan ‘penandaan berkat di dahi bagi bayi dan anak-anak belum komuni’ untuk sementara tetap ditiadakan,” Uskup menambahkan.

Diakhir suratnya, Uskup kembali menegaskan bahwasanya kita masih tetap berada dalam situasi gawat darurat menghadapi ancaman Covid-19, yang belum juga lenyap. Umat masih tetap wajib menjaga jarak aman dalam berinteraksi juga masih harus melindungi diri dengan memakai masker. “Oleh karena itu, kelonggaran yang dihaturkan melalui kebijakan pastoral ini tidak dengan serta merta merupakan harga mati yang tidak dapat dicabut kembali. Bilamana situasi mengharuskan, kebijakan pastoral ini bukan saja harus ditinjau kembali melainkan harus ditarik alias dinyatakan tidak berlaku,” pungkasnya.

Sumber: https://papuabaratpos.com/gereja-katolik-komit-dalam-pencegahan-covid-19/

LEAVE A REPLY