Rapat Koordinasi Revitalisasi Fungsi-Fungsi Keluarga Melalui Optimalisasi Bimbingan Pra Nikah dan Sertifikasi Calon Pengantin oleh Kemenko PMK

Rapat Koordinasi Revitalisasi Fungsi-Fungsi Keluarga Melalui Optimalisasi Bimbingan Pra Nikah dan Sertifikasi Calon Pengantin oleh Kemenko PMK, Mataram.

Mataram, Semaraknews – Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenko PMK) bekerjasama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melaksanakan “Rapat Koordinasi Revitalisasi Fungsi-Fungsi Keluarga Melalui Optimalisasi Bimbingan Pra Nikah dan Sertifikasi Calon Pengantin” pada hari ini (28/3) di Hotel Grand Legi. Rapat dihadiri oleh sekitar 50 orang.
Di dalam rapatnya, Makrifuddin selaku Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi NTB mengatakan bahwa rapat koordinasi tersebut bertujuan untuk menyelaraskan kegiatan dan kebijakan, meningkatkan kepedulian seluruh pihak untuk meningkatkan usia perkawinan di NTB, yang dikhususkan bagi remaja agar menikah di usia yang tepat menurut BKKBN dengan umur 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki.

“Saya prihatin dengan banyaknya angka pernikahan anak yang menikah di bawah umur di NTB. Menurut data, NTB berada di peringkat 2 dengan pernikahan usia di bawah umur tertinggi di Indonesia setelah Gorontalo. 56,7 persen terdapat pasangan yang menikah di bawah umur 21 tahun, berarti sekitar 600 pasangan. Terdapat juga sekitar 4,5 persen anak yang menikah di bawah umur 15 tahun. Pernikahan usia muda tertinggi di NTB terdapat di daerah Lombok Timur, yang kedua Lombok Barat.”

BKKBN berharap agar setiap masyarakat yang ingin menjadi calon pengantin atau ingin menikah, harus memiliki sertifikat terlebih dahulu. “Ya jelas, masyarakat yang mau menikah harus memiliki sertifikat. Sehingga masyarakat yang akan menikah telah siap untuk menjadi calon pengantin dan berkeluarga. Selain itu, akan dilaksanakan pendidikan dan bimbingan, dapat dilakukan sendiri maupun bersama pasangan dengan diutamakan bagi pihak perempuan. Di luar negeri waktunya 1 bulan, namun di Indonesia hanya membutuhkan waktu 2 hari, sudah enak” tandasnya.
Pernikahan di bawah umur terjadi karena masyarakat menganggap bahwa hal tersebut berdasarkan cinta sejati, faktor ekonomi, dijodohkan, putus sekolah dan hamil di luar nikah. Besarnya angka pernikahan di bawah umur di NTB tidak ada kaitannya dengan tradisi Lombok yaitu melarik, karena dalam melarik memberikan kebebasan sepenuhnya kepada wanita untuk menentukan jodohnya dan tidak bisa dihalangi. Melarik yaitu melarikan pihak wanita dari rumah orang tuanya. Namun yang terpenting sekarang adalah perempuan tersebut berani mengatakan tidak apabila diajak melarik. Sehingga bukan pada tradisi yang bermasalah, namun masyarakatnya.

“Kami sudah melakukan upaya yaitu melakukan kerjasama dengan instansi terkait, Pemda, Dinas Kesehatan, Kementerian Agama, tokoh agama dan tokoh masyarakat.” tutupnya.

TINGGALKAN BALASAN