Semarak.news – Rasisme dapat diartikan sebagai rasa superioritas yang diwarisi oleh ras tertentu, menolak kesetaraan manusia, dimana hubungan sosial ditentukan pada komposisi fisik dan warisan genetik. Jargon anti rasisme akhir-akhir ini sering kita dengar melalui berbagai platform media. Berbagai kecaman terhadap perlakuan rasis terhadap mahasiswa Papua di Surabaya disuarakan masyarakat. Rasa bangga bahwa suku-suku di Indonesia tidak merasa superior satu sama lain patut disyukuri, karena yakinlah persitiwa Surabaya dilakukan oleh oknum. Oknum yang tidak merepresentasikan masyarakat Indonesia, khususnya Surabaya.

Paradigma mayoritas dan minoritas yang sering digunakan dalam berbagai ranah seperti kebudayaan, sosial, hingga politik sebenarnya muncul dan berkembang pada budaya barat untuk menciptakan kelas serta kritik terhadap budaya timur. Minoritas bukan hanya mengacu pada kuantitas jumlah, namun lebih mengacu pada perbedaan identitas budaya yang berbeda.

Ada baiknnya, istilah mayoritas dan minoritas mulai kita tinggalkan, karena bibit rasisme dan intoleran muncul pada paradigma tersebut. Namun, tidak dapat kita pungkiri bahwa terdapat penduduk dengan suku dan ras tertentu yang jumlahnya dominan dalam skala nasional, maupun jika kita lihat dalam wilayah tertentu. Untuk menghindari potensi rasisme atau intoleransi dalam kasus kuantitas etnik, etnik dengan jumlah dominan harus meninggalkan sikap superior, begitu juga sebaliknya, etnik dengan jumlah lebih sedikit tidak perlu merasa inferior.

Jika dilihat dari keanekaragaman ras, agama, hingga faktor demografi, Indonesia dapat digolongkan sebagai negara rawan rasisme. Namun modal besar telah dimiliki negeri ini untuk menangkal masalah rasisme.

Terbentuknya Nusantara dari berbagai kerajaan kuat yang mengesampingkan rasa superioritasnya, adalah modal sejarah dan bukti begitu rendah hatinya negeri ini. Pancasila sakti yang mengajarkan tidak adanya penindasaan antar manusia dan manusia, melalui sila keadilan sosialnya. Tujuan Nasional yang mencerdaskan kehidupan Bangsa, menjadi benteng berlapis untuk menghalau rasisme di Indonesia.

Perlu peran Pemerintah dalam memberikan keseimbangan untuk mendidik masyarakat tidak bersikap superior dengan segala kelebihan mereka. Serta tetap percaya diri walaupun masih terdapat beberapa kekurangan. Pemerintahan saat ini dengan berbagai program mengenai daerah terpencil, tertinggal, dan pemerataan pembangunan, saya yakini akan berdampak baik mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.CRZ

LEAVE A REPLY