Polemik Pemberian Vaksin Rubella

Jakarta, Semarak.news – Beberapa bulan belakangan ini, wabah virus Rubella semakin marak di Indonesia. Terkhusus untuk daerah seperti banjarmasin dan Aceh, yang mendominasi dampak serangan virus ini.

Virus Rubella atau campak jerman merupakan serangan infeksi virus yang ditandai dengan ruam merah di kulit. Virus ini memiliki masa inkubasi 14-21 hari.

Pada 2016, WHO mencatat di Indonesia terdapat lebih 800 kasus virus rubella yang telah terkonfirmasi melalui pemerikasaan laboratorium. Umumnya, virus ini menyerang anak-anak dan remaja.

Virus Rubella lebih ringan dibandingkan dengan campak, namun apabila menyerang wanita hamil, virus rubella akan menyebabkan sindrom rubella kongenital atau bahkan kematian bayi didalam kandungan.

Sindrom ini dapat menyebabkan kecacatan bagi bayi yang berhasil lahir dengan selamat. Cacat yang diderita seperti tuli, katarak, penyakit jantung bawaan, dll.

Dilansir dari WHO, diperkirakan tiap tahunnya terdapat sekitar 100.000 bayi di dunia yang terlahir dengan sindrom ini.

Untuk itu, pemberian vaksin rubella terhadap anak anak serta ibu hamil harus digalakkan. Namun, timbul polemik baru dikalangan masyarakat terkait pemberian vaksin tersebut.

MUI berfatwa bahwa, Vaksin Rubella yang diproduksi Serum Institute of India (SII) yang digunakan untuk imunisasi di Indonesia, “haram karena mengandung babi”. Hal tersebut dikarenakan belum ditemukannya Vaksin Rubella yang Halal. Namun karena alasan medis, tetap diperbolehkan.

Tentunya, bagi sebagian masyarakat masih menolak pemberian vaksin Rubella yang mengandung babi tersebut. Dan tidak memperbolehkan anaknya untuk menerima vaksin tersebut.

Padahal pemerintah memiliki target Imunisasi yang ditujukan pada bayi berusia 9 bulan sampai dengan anak berusia 15 tahun. Targetnya adalah sekitar 32 juta anak di 28 provinsi Indonesia.

Apabila hal tersebut terus berlanjut, kemungkinan besar upaya pemerintah dalam meminimalisir dampak virus tersebut semakin kecil.

Terkait dengan hal tersebut, masyarakat masih terus menanti tindakan pemerintah untuk menjamin ketersedian vaksin halal. Selain itu, perlu juga pemahaman berupa sosialisasi yang dilakukan pemerintah melalui berbagai media untuk meyakinkan masyarakat akan pentingnya pemberian Vaksin Rubella sejak dini. (RP)

TINGGALKAN BALASAN