Peristiwa AMARAH Kembali di Peringati Oleh Ratusan Mahasiswa UMI Makassar

Aksi Unjuk Rasa Mahasiswa UMI dalam memperingati hari Amarah

Makassar, Semarak.news – Peristiwa April Makassar Berdarah (AMARAH) yang terjadi di kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar pada 24 April 1996 lalu kembali di peringati pada hari ini (24/04/2018).

Amarah menjadi peristiwa bersejarah bagi mahasiswa UMI dan masyarakat Makassar. Peristiwa 22 tahun lalu itu awalnya adalah bentuk unjuk rasa dari mahasiswa UMI Makassar yang menolak adanya kenaikan tarif angkutan umum pada saat itu. Naas, aksi yang berlangung selama beberapa hari pada April 1996 itu merenggut korban jiwa dari pihak mahasiswa UMI akibat tindakan dari pihak TNI – POLRI. Menurut berbagai sumber, pada peristiwa itu oknum TNI-POLRI melakukan tindak pelanggaran HAM kepada mahasiswa dengan penangkapan, penelanjangan kepada mahasiswa laki-laki, pemukulan hingga menghilangkan nyawa mahasiswa pada saat itu.

Aktivitas kampus UMI saat ini diliburkan selama dua hari sejak hari senin (23/04/2018) kemarini hingga hari selasa ini. Namun, ratusan mahasiswa UMI dari berbagai organisasi kampus UMI tetap memperingati hari Amarah ini dengan ziarah kubur dan aksi demonstrasi di bebebapa titik aksi antara lain TMP Panaikang, TPU Dadi, M0numen Mandala, dan di depan Kampus UMI.

Beberapa tuntutan dalam peringatan Amarah ini yaitu, menolak pihak birokrasi kampus untuk meniadakan peringatan Amarah, meminta klarifikasi pihak birokrasi kampusl mengapa diliburkannya Mahasiswa UMI pada saat momentum Amarah, menolak birokrasi kampus yang sewenang-wenang dalam mengambil keputusan sanksi mahasiswa yang terlibat dalam aksi memperingati Amarah, dan Usut tuntas kasus Amarah kepada pihak hukum kota Makassar.

WR III UMI saat menemui massa aksi unjuk rasa.

Wakil Rektor III UMI Prof. Ahmad Gani yang menemui massa saat di depan kampus UMI mengatakan tidak bisa memberi keterangan dan jawaban terkait sanksi bagi yang melakukan aksi unjuk rasa karena dirinya hanya wakil rektor.

“Saya apresiasi dan terimakasih karena peringatan Amarah ini berlangsung dengan aman. Tapi seharusnya peringatan Amarah ini bukan dengan pawai melainkan zikir bersama mendoakan para almarhum yang menjadi korban. Untuk masalah sanksi Saya tidak bisa menjawab, karena posisi saya hanya sebagai wakil rektor”, tutur WR III UMI kepada demonstran.

Setelah ditemui oleh WR III UMI, demonstran membubarkan diri dan beberapa demonstran dari HMI Forkom UMI melakukan ziarah ke makam korban Amarah. Dew.

TINGGALKAN BALASAN