Perbedaan Bukan Kelemahan, tapi Kekuatan untuk Mempersatukan

Manado, Semarak.News – Hotel JLE’S Kota Manado menjadi saksi Dialog Publik yang kembali digelar oleh DPD Garda NKRI Sulut (25/4). Dengan penuh semangat, DPD Garda NKRI Sulut menghadirkan berbagai narasumber yang handal di Sulut seperti Kasat Binmas Polresta Manado Adi Wianto, Ketua GP Ansor Manado Rusli Umar, Pengamat Sosial dan Akademisi Unsrat Mikael Mamonto serta Ketua Umum LSM FORPAKANTIK Pierson Rambing.

Dengan tema “Mencegah Terjadinya Konflik yang Diakibatkan oleh Perbedaan Ditengah Masyarakat” Nurul Halimah membuka Dialog Publik dalam hal Konflik Sosial dan berharap semua peserta menerima ilmu dan menjadi generasi penerus bangsa. Hal tersebut juga didukung oleh pernyataan Sekjen DPP GARDA NKRI Sulut Vino Mongkau “sebagai orang Indonesia dan ditengah perbedaan justru itulah yang seharusnya menjadi kekuatan bagi kita untuk tetap meningkatkan rasa persaudaraan kita, jangan sampai menjadi faktor utama yang memecah belah kita” tambah Fino Mongkau.

Menurut Mikael Mamonto terdapat 3 tahapan munculnya konflik, yakni isu, tendensi, dan fakta, yang dimana menurut teori michele ada 3 hal yang harus di cermati, yang pertama isu nya, yakni harus diketahui sebab akibatnya, harus mengetahui langkah – langkah tepat penanggulangannya, jangan sampai salah melakukan pendekatan dalam menyelesaikan permasalahan tersebut, seperti contoh, menggunakan common interest dimana menggunakan common interes kedua pihak yang berkonflik, hal – hal yang berpotensi menimbulkan konflik seperti ketidakseimbangan dan ajaran yang sangat militan.

Menurut Kasat Binmas Polres Manado, Adi Wianto menyampaikan bahwa ada berbagai kasus konflik sosial yang menonjol di Manado, dimana bulan Februari ada 165 kasus, Maret 129 kasus, dengan penyelesaian 75 kasus yang belum selesai. Potensi konflik sangat besar di Kota Manado.

Dengan tema yang diusung, DPD Garda NKRI Sulut menghimbau bahwa perbedaan bukanlah suatu kelemahan melainkan sebuah kekuatan untuk mempersatukan. Hal senada juga di contohkan oleh GP Ansor dalam menjaga kerukunan umat beragama di Sulut, yang tidak hanya antar agama melainkan dalam agama itu sendiri.

“Di ansor saya menghentikan deklarasi Hizbut Tahrir di Indonesia. Ansor membuktikan bahwa yang dijaga bukan gerejanya, namun lebih mengedepankan kesatuan dan persatuan. Di Manado, isu yang paling potensial untuk menjadi konflik yaitu isu agama khususnya islam dan kristen”, tutup Rusli Umar selaku Narasumber.

TINGGALKAN BALASAN