Jakarta, Semarak.news – Perang dagang antara AS dengan China berlangsung cukup lama hingga saat ini, dampak yang ditimbulkan dari perang tersebut sangat besar yang mengakibatkan negara-negara di Asia terkena dampak yang menyebabkan perekonomian di negara mereka terganggu.

Badan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) memperingatkan kedua negara tersebut untuk segera melaksanakan negosiasi guna mengatasi perang dagang tersebut. Namun AS memiliki rencana untuk menaikkan tarif terhadap produk-produk China pada bulan Maret 2019.

Rencana yang akan dijalankan AS akibat tidak adanya kemajuan dalam pelaksanaan negosiasi perdagangan dengan China. Negara-negara di Asia akan menerima dampak masif apabila hal tersebut dijalankan.

Badan perdagangan PBB menyatakan, apabila kebijakan proteksionisme terus berlanjut maka negara-negara Asia akan menerima dampak yang besar. Negara-negara timur tengah juga menerima dampak akibat adanya perang dagang tersebut meskipun tidak terlalu masif.

AS memberikan tenggat waktu untuk melakukan persetujuan dengan China sampai tanggal 1 Maret 2019. Apabila tidak adanya kesepakatan sampai tanggal yang ditentukan, AS akan menaikkan tarif terhadap produk produk China dari 10 persen menjadi 25 persen dengan total tarif senilai 200 miliar dollar AS.

Hal ini akan berimplikasi kepada keseluruhan sistem perdagangan internasional yang berdampak negatif. Negara-negara akan mengalami kerugian besar apabila perang dagang terus berlanjut.

Negara-negara berkembang yang memiliki perekonomian kecil akan sulit menghadapi guncangan eksternal, ini juga berimbas pada perusahaan-perusahaan yang ada di kawasan Asia.

kepala perdagangan internasional Unctad, Coke Hamilton menjelaskan bahwa produsen di kawasan Asia akan mengalami dampak yang buruk. Ekspor akan terkontraksi sangat besar mencapai 160 miliar dollar AS di kawasan Asia. Dampak dari perang dagang ini akan dirasakan di mana-mana, akan timbul pengangguran yang diakibatkan dari hilangnya lapangan pekerjaan serta devaluasi nilai tukar. (MSL)

 

LEAVE A REPLY