Peran Pengader dalam Menghadapi Kader ‘Generasi Postmillenial’

Delpi Susanti (Mahasiswa UIR)

 

Perkenalkan nama saya Delpi Susanti, Putri Pertama dengan kelahiran Lubuk Bendahara 15 april 1994. Berorganisasi dan berbuat untuk masyarakat adalah merupakan suatu hobi dan minat utama bagi saya karna bisa memainkan Peran ditengah masyarakat dengan memberi warna sehingga bisa berdampak baik bagi perubahan lingkungan, setidaknya burung yang terbang pulangnya minimal membawa sehelai Daun untuk memperbaiki Sangkarnya.

 

Pada dasarnya manusia itu terlahir tanpa membawa apa-apa dan matipun tanpa membawa apa-apa, Namun Hakikatnya Manusia adalah Makhluk Sosial Ciptaan yang paling sempurna karna diberikan Akal untuk berpikir apapun sebelum sebuah keputusan diambil, sejatinya tiap-tiap manusia adalah pemimpin (khalifah) minimal pemimpin bagi dirinya sendiri.

 

Atas dasar kesadaran tiap –tiap manusia adalah pemimpin maka, Sebelum terbentuknya sebuah Negara manusia dikenal dalam sebuah peradaban yang dinamakan In Abstrakto dimana adanya hidup dalam kebebasan tanpa keterikatan satu sama lainnya. keadaan dimana manusia saling bermusuhan, berlawanan, curiga mencurigai, dan mementingkan diri sendiri. Adapun Sifat-sifat yang melekat pada manusia dalam keadaan In Abstrakto ini dikelompokkan menjadi 3 sifat :

 

  • Pertama Sifat Conpetitio (competition), sifat ini manusia cenderung berlombalomba untuk mengatasi manusia yang lain, manusia yang satu berusaha mengungguli manusia lain, membenarkan segala cara yg akan ditempuh.
  • Sifat Defintio (defend), manusia yang satu tidak mau dikuasai oleh manusia lain, sifat ini cederung membela diri dan mengusahakan jaminan bagi keselamatan.
  • Sifat Gloria, ingin selalu dihormati, disengani, dan dipuja.

 

Keadaan diatas tidak memungkinkan untuk selalu dilestarikan dimana untuk sebuah ketentraman tentunya membutuhkan sebuah perjanjian, manakala Bukti seseorang itu kuat bukanlah iya yang mampu menampakkan ototnya melainkan mereka yang mampu membuat lingkungannya Aman dan tentram, bukti seseorang itu berilmu bukanlah iya yang mempertontonkan kebehatan prestasinya saja melainkan mereka yang mampu membawa dirinya lingkungan dan keluarga kepada jalan kebaikan atas dasar ilmu yang dimiliki, maka kata kuncinya siap belajar dalam segala proses yang dihadapi. Untuk mengubah Nasib Suatu Kaum juga ditentukan dari kaum itu sendiri, oleh sebab itu kita dimanapun kapanpun tetap dituntut untuk terus belajar sehingga memahami akan artinya sebuah proses, perjuangan dan arah tujuan apa yang akan dicapai.

 

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran : 110)

 

Hakikat amar ma’ruf dan nahy munkar ditegaskan di banyak tempat, Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan jika ia tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman” (HR Muslim)

 

Kemudian berkaitan dengan amar ma’ruf juga menyampaikan kebenaran adalah sebuah sikap untuk menunjukan bahwa saya telah bersyahadat dan kamu sekalian harus mengetahui bahwa syahadat adalah titik keberangkatan atas seluruh keimanan. Secara harfiah berarti Nahi Mungkar mencegah kemungkaran. menghindari diri dari prilaku yang tidak di ridhoi Allah SWT.

 

Selanjutnya Wajah generasi baru kembali muncul. Telinga kita mungkin masih akrab dengan sebutan Generasi Millenial, tetapi itu sudah berlalu. Globalisasi menjadi alasan utama dari lahirnya generasi baru pada saat ini. Generasi Z1. Generasi Post-Millenial merupakan peralihan generasi setelah Generasi Millennial, Y, yang ditandai dengan perkembangan teknologi yang makin masif. Generasi Post-Millenial adalah mereka yang lahir pada rentan waktu 1995-2010, di mana internet sudah mulai booming dan saat beranjak dewasa bergelut mesra dengan gadget. Tentu tidak akan jadi delik soal ketika Generasi Post-Mille mengimbangi arus teknologi yang begitu masif ini dengan kemantangan diri, karena sebagaimana yang dikatakan Jusuf A.N dalam tulisannya yang berjudul “Masa Depan Anak-Anak Generasi Z”, bahwa Generasi Post-Millenial cenderung kurang dalam komunikasi secara verbal, cenderung bersikap egosentris dan individualis, cenderung menginginkan hasil serba cepat, serba instan dan serba mudah, tidak sabaran, dan tidak menghargai proses.

 

Kecerdasan intelektual dari Generasi Post-Millenial, dengan dukungan arus teknologi informasi, mungkin memang bisa berkembang, tetapi kecerdasan emosional mereka tumpul. Itulah mengapa, menurut penuturan dr. Miryam A. Sigarlaki oleh Ririn Nur Febriani, harus mengakui bahwa anak Generasi Post- Millenial susah diatur, tidak mau mendengarkan masukan (nasehat) dari orang yang sifatnya menggurui, kurang dapat bersosialisasi dengan orang yang lebih tua, sehingga pola pengasuhan dan pengontrolan harus disesuaikan.

 

Munculnya Generasi Post-Millenial yang saat ini sudah masuk di dunia pekuliahan, yang mana narasi aktivitasnya lebih kuat di dunia maya daripada dunia nyata, haruslah ditilik dengan cermat oleh organisasi kemahasiswaan yang bergerak di bidang Perkaderan, karena generasi inilah yang menjadi basis ‘subjek’ mereka untuk dikaderisasi dalam mencapai tujuan organisasinya.

 

Tantangan baru bagi HMI kembali dibuka. Pasang surut berdinamika sejak kelahirannya pada tahun 1947 hingga saat ini telah menerangkan bahwa HMI bisa sanggup melewati berbagai dinamika ditiap generasi. Itulah mengapa sebuah refleksi, dari pembelajaran pada tiap dinamika generasi, menerangkan bahwa perubahan di lingkungan luar jadi sebuah isyarat yang harus ditangkap dan direspon dengan tepat supaya HMI dapat terus beradaptasi menghadapi tantangan baru yang terhampar di hadapan kita.

 

Generasi Post-Millenial adalah generasi yang saat ini mulai berhimpun di HMI. Masuknya Generasi Post-Millenial sebagai kader HMI tentu harus direspon dengan tepat. Selain karena HMI harus mampu menjaga role model dan nilai-nilai Perkaderan agar kader yang dibentuk adalah kader yang dicitakan HMI itu sendiri, pada saat yang sama, HMI juga tidak boleh denial terhadap perbedaan karakter kader Generasi Post-Millenial dengan karakter generasi sebelumnya.

 

Tetapi Generasi Post-Millenial yang kini telah menjadi kader, membawa warna lain di lingkungan HMI. Hal tersebut dapat dilihat pada karakter kader yang lebih mengedepankan narasi eksistensi daripada nalar (ingin diakui), kematangan emosional lemah, sinis kepada sesama, susah diatur dan dinasehati, tidak menggunakan kemajuan teknologi sebagaimana mestinya –lebih bergelut mesra dengan dunia maya (gadget) daripada dunia nyata. Apatis dan pragmatis. Hingga pada tingkat yang lebih ekstrim: Melihat HMI sebagai alat kepentingan pribadi (bersifat materalistik), bukan lagi sebagai tempat proses pembentukan diri. Akhirnya tidak menghargai proses.

 

Tentu persoalan ini harus cepat diatasi. Jika tidak, identitas HMI sebagai organisasi Perkaderan sedikit demi sedikit akan berubah. Entah berubah jadi apa (mungkin jadi organisasi massa atau lainnya). Itulah mengapa keberadaan Pengader yang mengemban amanah Perkaderan HMI, yang bergerak secara dinamis dan aktif dalam menjalankan dan sekaligus menjaga sistem Perkaderan, dan serta pula sebagai subjek penyambung nilai-nilai ke-HMI-an antar generasi yang senantiasa siap dan rela berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mempersiapkan generasi penerus masa depan di HMI dan Islam, Ulil Albab, dituntut peranannya dalam mengahadapi dilema kader Generasi Post-Millenial.

 

Tidak ada sedikit pun keraguan dalam keyakinan kita bahwa Pengader adalah nabinabi HMI yang membariskan dirinya dengan begitu gagah-berani di Perkaderan HMI. Sebab itulah eksistensi Pengader di tubuh HMI hadir sebagai punggawa yang menahkodai arus dinamika Perkaderan supaya hakekat tujuan yang dibangun HMI dapat tercapai.

Dalam ‘Pedoman Pengader’ disebutkan bahwa Pengader adalah sosok dengan kepribadian utuh sebagai pendidik, pemimpin, dan pejuang (mujahid), di mana masing-masing

Pengader wajib melibatkan diri dalam setiap proses idealisasi Kader menuju Kader cita HMI, sesuai dengan ghiroh tujuan HMI, yakni menjadi insan Ulil Albab yang bertanggung jawab, sehingga posisi Pengader bagi HMI mempunyai konsekuensi logis mengenai peranan dan tanggung jawabnya terhadap kader Generasi Post-Millenial.

 

Pengader HMI adalah sosok dengan kepribadian yang utuh, sebagai pendidik, pemimpin, dan pejuang (mujahid). Dengan demikian setiap insan pengader HMI terlibat dalam proses idealisasi menuju citra diri, yang dalam aktifitas dan peranannya senantiasa diusahakan untuk merealisasikannya.

 

Sebagai pejuang, pengader HMI menempatkan diri sebagai pelopor dalam melaksanakan amar ma’ruf nahy munkar , baik dalam dinamika intern HMI maupun lingkungan eksternal HMI. Kepeloporannya dalam kerja kemanusiaan atau amal sholeh merupakan tuntutan atas tanggung jawab kemasyarakatannya dalam berbagai realitas kehidupan umat manusia. Langkah amar ma’ruf ini dilakukan untuk menggali potensi kreatif menjadi bentuk amal sholeh bagi kader-kader HMI maupun masyarakat. Sedangkan nahy munkar dilakukan untuk membendung potensi destruktif dari manapun datangnya.

 

Dari Hudzaifah ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Demi Dzat yang menguasai diriku, kamu harus memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar, atau kalau tidak maka Allah akan mengirim kepada kalian siksa dari sisi-Nya, kemudian kalian berdoa kepada-Nya tetapi Dia tidak mengabulkan doa kalian.” (HR Tirmidzi)

 

Selanjutnya ini juga sejalan dengan (QS. Al-Ankabut : 69) : “Dan mereka yang berjuang dijalan-Ku (kebenaran), maka pasti Aku tunjukkanjalannya (mencapai tujuan) sesungguhnya Tuhan itu cinta kepada orang-orang yang selalu berbuat (progresif).

 

Konsekuensi dari tiga sosok potensi yang padu, yakni pendidik, pemimpin, dan pejuang, maka pengader adalah insan yang memiliki kesadaran ideologis yang tinggi, ikhlas berjihad dijalan Allah SWT, istiqomah, memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang relevan dengan tugasnya sebagai pengelola latihan HMI.

 

Dengan beberapa problematika perubahan zaman tentu pisau analisis untuk menyelesaikan perkara ini juga bahagian dari perkembangan ilmu, dimana pada dasarnya generasi milenial hari ini adalah generasi yang terfasilitasi dengan alat komunikasi dari perkembangan ilmu teknologi dan informasi, sejatinya sebagai pendidik, pengader HMI adalah pembawa dan penjaga nilai Islam. Pelaksanaannya dalam sistem pelatihan, pengader HMI mengharuskan untuk mendidik dan menempatkan dirinya terlebih dahulu sebagai uswatun hasanah (suri teladan). Islam menuntut agar seorang pendidik senantiasa satu kata antara lisan dan perbuatan, karena Allah SWT melarang setiap muslim menuturkan sesuatu yang dirinya tidak melakukan, bahkan justru memulai sesuatu yang diajarkan dari dirinya

(ibda’ bi nafsihi).

 

Perkembangan teknologi bukanlah hal yang harus ditakuti, ungkapan bahwasanya kader Generasi Post-Millenial sangat lemah dalam hal kematangan diri (EQ), sehingga mereka menjadi generasi yang latah, gampang kagetan, labil, dan tidak punya prinsip. Ungkapan secamam ini juga harus dihindari sebab lebih baik berfikiran positif dengan melakukan proses atau pola pendikan yang baik dengan melakukan dan mengikuti pola dari perkembangan teknologi, dengan adanya perkembangan teknologi informasi komunikasi ini generasi milenial sebagai pendidik akan lebih gampang dan mudah untuk mencontohkan hal-hal yang baik dengan melakukan edukasi sehingga adanya transformasi yang baik. ketika halnya mereka lebih aktif dengan memegang gadget nya serara pada pengader juga harus berjuang dan memulai pada dirinya untuk menanamkan nilai-nilai, etika sehingga bisa ditransformasikan tanpa membuat krisis Dehumanisasi.

 

Insan Ulil Albab yang dicitakan HMI harus matang secara Intelegent Quotient (IQ), Emosional Quotient (EQ), dan Spiritual Quotient (SQ), itu semua benar, karna sejatinya kematangan IQ, EQ dan harus seimbang dengan SQ, benar itu semua juga merupakan tanggung jawab daripada pengader sebagai pendidik, pemimpin dan pejuang.

 

sebagai pendik seorang pengader harus mampu dan bertanggung jawab dalam mematangkan Inteligent Quotient (IQ), dengan mematangkan Keilmuan para Kader, tentunya Pendidik terlebih dahulu mencontohkan dirinya untuk mendapatkan keilmuan baru mengasah kemampuan sehingga membuat dirinya lebih bernilai. sekiranya generasi ini lebih mencintai dengan dunia gadgetnya  maka tanamkan budaya membawa berbasi e- untuk jenis bacaan yang akan didapat oleh para kader. Pengader sebagai pendidik kader juga harus menanamkan bahwasanya untuk mengenal dunia engkau harus membaca, dan untuk dikenal dunia maka menulislah, seraya juga tanamkan motivasi yang baik dimana Ketika tidak mampu menahan lelahnya belajar maka harus siap menahan perihnya kebodohan. Pengader ketika melakukan pertemuan dengan kader tanamkan terlebih dahulu untuk menghargai para kader ex. dengan tidak memegang gadjed ketika adanya materi atau arahan, sehingga dehumanisasi lebih terkurangai. kemudian untuk pengader juga bisa melakukan transformasi dari apa yang di ajarkan tidak hanya sekedar mengajarkan namun lebih mencontohkan kepada kepribadiannya terlebih dahulu, tidak lupa ketika berlangsungnya proses pendidikan seperti itu tetap di edufikasi oleh pengder lain.

 

Sebagai pemimpin, pengader adalah penjaga ukhuwah islamiyah di kalangan kaderkader HMI, khususnya di kalangan pengurus. Pada posisi ini pengader HMI harus berperan sebagai integrator dari setiap bentuk “konflik dan friksi”, yang timbul di kalangan kader HMI. Dalam posisi yang sama pula, berperan sebagai pengamat perkembangan HMI, guna mengidentifikasi permasalahan yang timbul serta berupaya untuk mengusahakan pemecahannya secara konsepsional maupun operasional, dari hal ini bisa lebih menonjolkan untuk kematangan Emosional Quotiient (EQ) dari Spiritual yang di pahami maka EQ akan selaras, karna pada dasarnya juga generasi milenial adalah generasi yang konsumtif oleh sebab itu pengader harus lebih cerdar memasang Strategi dengan formasi dan kelihaian dalam memainkan perannya sebagai pengader.

 

Oleh sebab itu, rule making fungtion dari pembuat kebijakan yakni pengader akan lebih mudah untuk dilaksanakan sebagai rule aplication function sebagai pengader sehingga rule adjudification lebih terarah dari,  pembentukan Individu Muabbid (Tekun Beribadah) akan lebih mencontohkan dari kematangan Spiritual Quottient (SQ) terlebih dahulu pengader itu mampu menanamkan nilai-nilai tersebut sehingga memiliki semangat juang yang tingga (Mujahid), meskipun tidak secara spontan maka perlahan dengan perjuangan dan Mujtahid (berijtihat) akan tercapai sebuah Mujadid (pembaharu) dan insya Allah akan mencapai dari tujuan HMI itu sendiri.

 

Penulis : Delpi Susanti ( Mahasiswa UIR)

 

TINGGALKAN BALASAN