Penurunan Ekspor CPO Jangan Salahkan NGO

PONTIANAK, Semarak.News – Saat ini pasar CPO (crude palm oil) atau minyak sawit mentah dunia sedang mengalami pemerosotan. GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) mencatat dalam kurun waktu 4 bulan terakhir total ekspor CPO menurun sebesar 4 persen dari total 10,70 juta ton menjadi 10,24 juta ton. Nilai ekspor pun turun sebesar 13 persen dibandingkan tahun 2017.

Direktur Lingkaran Advokasi dan Riset Borneo (Link AR Borneo) Agus Sutomo mengatakan bahwa penurunan ekspor sawit dan harga TBS (tandan buah segar) disebabkan karena berlimpahnya produksi di negara-negara penghasil sawit terbesar dunia, semisal Indonesia dan Malaysia. Sehingga berakibat pada penumpukan CPO di pabrik-pabrik pengolahan.

Pria yang akrab dipanggil Tomo itu juga mengatakan bahwa turunnya ekspor dan harga TBS tidak terpengaruh oleh keberadaan NGO (Non Government Organisation). Tudingan terhadap NGO yang kerap melakukan kampanye hitam tentang perkebunan sawit sehingga hal itu ditengarai jadi penyebab turunnya ekspor dan harga TBS merupakan tuduhan yang tidak berdasar.

“Dalam masalah mencari sebab turunnya ekspor dan pembelian TBS petani, selalu yang dituding adalah NGO yang dikatakan melakukan kampanye hitam soal perkebunan sawit,” ujarnya sebagaimana rilis pers pada awal Desember 2018 lalu.

Tomo menyertakan bantahan atas tudingan yang dialamatkan kepada NGO. Dari 25 grup besar perusahaan sawit yang pusat produksinya terletak di Indonesia dan Malaysia, tidak ada satupun nama NGO di dalamnya. NGO ditegaskannya sama sekali tidak terlibat dalam mata rantai produksi sawit. Sehingga, tudingan bahwa penurunan harga sawit disebabkan oleh kampanye NGO tidaklah tepat.

Dia juga membantah tudingan yang menyebut NGO sebagai dalang dari menurunnya daya beli sejumlah negara terhadap minyak sawit Indonesia. Keberhasilan NGO dalam mendorong agar produksi sawit harus memperhatikan pelestarian lingkungan dikatakannya tidak berpengaruh terhadap penurunan kemampuan ekonomi sejumlah negara yang kerap menjadi pasar minyak sawit Indonesia.

Tuduhan tersebut dinilai Tomo hanyalah sebagai kambing hitam dari turunnya ekspor ke China, Uni Eropa, India, dan Amerika Serikat sebesar 5 persen dari 2,53 juta ton.

Sejumlah bantahan tersebut merupakan penegasan bahwa tidak ada kesalahan dalam muatan kampanye yang dilakukan NGO, lanjut Tomo. Bahkan, dirinya turut mendukung kampanye pencegahan deforestasi yang digaungkan NGO.

“Artinya tidak ada yang salah, ketika NGO Indonesia berkampanye bahwa produksi sawit Indonesia harus dihasilkan lewat produksi yang benar. Dalam artian tidak melakukan deforestasi,” tuturnya. (FAR)

 

TINGGALKAN BALASAN