Pengakuan Si Penyebar HOAX di Bandung yang Mengkaitkan Aniaya Ulama dengan PKI

Bandung, Semarak.News – Pemilik akun facebook Ugie Khan,Ugie Khan II, dan Ughiekhan1 yakni Ahyad Saepuloh (28) mengakui kecerobohannya dalam menulis di media sosial yang berdampak ke masyarakat luas.

Ahyad Saepuloh sendiri tidak tahu sama sekali soal kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI). Ironisnya Ahyad menyebut pelaku penganiaya HR Prawoto dan KH Hasan Basri adalah anggota PKI dalam postingan di ketiga akunnya.

KH Hasan Basri adalah pengasuh pondok pesantren Al Hidayah di Cicalengka Kabupaten Bandung yang dianiaya Asep (56) warga Kabupaten Garut yang juga dinyatakan menderita gangguan jiwa.

Sedangkan, HR Prawoto adalah pengurus PP Persis yang tewas dianiaya Asep Maftuh (45) penderita gangguan jiwa.

“Saya enggak tahu, saya hanya asal menulis saja,” kata Ahyad di Gedung   Ditreskrimsusu Polda Jabar.

Pada postingan 1 Februari 2017 pukul 19.35, Ahyad dalam ketiga akunnya mengunggah:

 

INALILLAHI Ustadz Jadi Korban lagi…!!!!

Ustadz PRAWOTO SANG PENJAGA ULAMA WAFAT DIBUNUH PAKAI LINGGIS…!!!

Kemaren Cicalengka KH. BASRI dipukuli babak belur.! Sekarang dicigondewah.!

Besok siapa lagi…!!!!

Para Bajingan TENGIK PKI SUDAH MULAI TERANG TERANGAN…!!!

Mohon Selalu waspada di setiap daerah karena mereka yang benci ULAMA Sudah berani terang terangan menyerang Ulama….!!!

#Satukan_kekuatan jaga ulama #Cigondewah

#Bandung‎

 

Ia juga menyebar konten pada 27 Januari 2017 pukul 11.44 terkait penganiayaan ‎KH Umar Basri. Dia menulis :

 

Para Bajingan TENGIK PKI SUDAH MULAI TERANG TERANGAN…!!!

 

Beliau KH.Umar Basri pengasuh ponpes al-hidayah,

dipukul membabi buta saat sedang BERDZIKIR ditempat pengimaman…

Mohon Selalu waspada di setiap daerah karena mereka yang benci ULAMA Sudah berani terang terangan menyerang Ulama….!!!

Sekarang beliau dirawat disalah satu RS dicileunyi.

Semoga KH.umar basri (Ceng Emon) diberikan kesembuhan….amin KH. UMAR BASRI (Kg.Emon) Pimp Ponpes Alhidayah Santiong Cicalengka Bandung

 

Ahyad dalam akunnya tampak mengenakan seragam putih khas organisasi massa (ormas) kenamaan. Namun, ia membantah jadi anggota organisasi massa tersebut.

Kini, ia meringkuk di tahan Mapolda Jabar.

Ia juga mengaku tidak tahu bahwa tindakannya di media sosial itu termasuk perilaku yang bisa memecah belah masyarakat Indonesia.

Ahyad juga mengaku menuliskan konten tersebut di media sosial tanpa ada yang membayar dan tidak ada yang menyuruh.

“Saya enggak tahu postingan saya bisa memecah belah orang Indonesia, saya mohon maaf. Saya kerja sendiri, pakai uang pribadi Rp 40 ribu untuk beli kuota,” ujar Ahyad. (Zul)

 

TINGGALKAN BALASAN