Jakarta, Semarak.News – Rasio penerimaan pajak 2018, yaitu tahun lalu diperkirakan mencapai 10,52% dari PDB dari perhitungan realiasasi sementara penerimaan pajak sebesar Rp 1.315,9 triliun dengan PDB (Produk Domestik Bruto) sebesar Rp 14.465,8 triliun.

Rasio penerimaan pajak ini didapatkan setelah dilakukan perbandingan antara penerimaan pajak dengan nilai total PDB yang didapatkan pada tahun 2018. Nilai PDB tersebut jika di konversikan menjadi dolar AS dengan kurs Rp 14.390/US$ , akan mencapai sebesar US$ 1,01 triliun.

Walaupun begitu, Kementerian Keuangan mencatat sepanjang 2018 penerimaan pajak masih kurang Rp 109 triliun dari target yang ditetapkan dalam APBN sebesar Rp 1.424 triliun, ugkap Dirjen Pajak Kementerian Keuangan Robert Pakpahan.

“Realisasinya 92,41% dari target versus 94% di outlook,” kata Robert di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Rabu (2/1/2019).

Realisasi 92,41% atau Rp 1.315 triliun merupakan gabungan dari penerimaan pajak non migas yang sebesar Rp 1.251,2 triliun dan PPh migas sebesar Rp 64,7 triliun.

Jika dirinci pajak non migas terdiri dari PPh non migas tercatat Rp 686,8 triliun atau 84,1% dari target Rp 817 triliun. Sementara pajak pertambahan nilai tercatat mencapai Rp 538,2 triliun atau 99,3% dari target Rp 541,8 triliun.

Sementara itu, pajak bumi dan bangunan tercatat sebesar Rp 19,4 triliun atau mencapai 111,9% dari target Rp 17,4 triliun. Adapun pajak lainnya terkumpul sebanyak Rp 6,8 triliun atau 70,1% dari target dalam APBN sebesar Rp 9,7 triliun.

berikut data penerimaan lainnya dalam realisasi APBN 2018:

Penerimaan pajak sektor industri pengolahan Rp 363,60 triliun (naik 11,12%)

Penerimaan pajak sektor perdagangan Rp 234,46 triliun (23,72%)

Penerimaan pajak sektor jasa keuangan & asuransi Rp 162,15 triliun (11,91%)

Penerimaan pajak sektor konstruksi & real estate Rp 83,51 triliun (6,62%)

Penerimaan pajak sektor pertambangan Rp 80,55 triliun (51,15%)

Penerimaan pajak sektor pertanian Rp 20,69 triliun (21,03%)

 

Walaupun begitu, tahun 2018 merupakan tahun yang lebih baik daripada tahun 2017. Pada tahun tersebut penerimaan pajak juga tidak mencapai target yakni  Rp 1.147,5 triliun atau 89,4% dari target sebesar Rp 1.283,6 triliun, dan memiliki rasio sebesar 10,7 % dari PDB.

Sedangkan pada tahun 2019, Kementrian keuangan meningkatkan target dan lebih realistis. Perubahan ini disebabkan oleh asumsi kurs dan lifting minyak. Pada tahun 2019, proyeksi penerimaan pajak dalam RAPBN 2019 sebesar Rp1.781 triliun atau tumbuh 15% dari outlook 2018 sebesar Rp1.548,5 triliun.

Dengan penjabaran target penerimaan pajak yaitu pajak nonmigas sebesar Rp1.510 triliun, PPh nonmigas Rp62,3 triliun dan kepabeanan dan cukai Rp208,7 triliun.

Hal ini dilakukan untuk mencapai target dengan cara mendorong pengawasan kepatuhan perpajakan melalui implementasi pertukaran akses informasi keuangan secara otomatis (AEOI), melakukan ekstensifikasi dan peningkatan pengawasan sebagai tindak lanjut pasca pelaksanaan amnesti pajak serta penanganan UMKM melalui pendekatan business development services.

Sedangkan menurut Dr Nugroho SBM MSi, dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip Semarang mengatakan “pendapatan pajak tahun 2018 tidak mencapai target karena  target yang ditetapkan terlalu optimistis atau terlalu ambisius, pemerintah masih kurang berani dalam mengejar para pembayar pajak yang masih belum memenuhi kewajiban pajaknya dengan baik” masih ada beberapa masyarakat yang memang dengan sengaja tidak ingin membayar. (NCW)

LEAVE A REPLY