Pemecatan Petinggi Militer Arab Saudi, Apa Dibaliknya?

Muhammad bin Salman (MBS), Putra Mahkota Arab Saudi. [AFP]

Perang di Yaman akan memasuki tahun ke empatnya pada bulan Maret ini, belum ada tanda-tanda perang ini akan berakhir dan para kombatan terlihat tidak memiliki keinginan untuk bernegosiasi. Tragedi kemanusiaan di negara itu sedikit berkurang hanya karena tekanan internasional. konflik regional tersebut semakin terpolarisasi, AS bersama Saudi melawan Rusia bersama Iran.

Putra Mahkota Saudi, Muhammad bin Salman (MBS) baru-baru ini memecat Kepala Staf Gabungan Militer, Komandan Militer, Komandan Angkatan Udara, dan mengganti bos Royal Saudi Air Force tanpa penjelasan yang jelas. MBS menginginkan orang-orang di pucuk pimpinan militer adalah ‘orang beriman’, yang nampaknya beriman atau mempercayai MBS.

Pemecatan ini merupakan lanjutan dari pergantian Menteri Pertahanan Nasional bulan November lalu, sehingga hanya dalam beberapa bulan para pejabat militer Saudi terombak total. Hal ini merupakan tanda bahwa para petinggi tersebut gagal menyukseskan janji ‘Decisive Storm’ MBS terkait perang Yaman yang disampaikan pada Maret 2015 lalu.

Hal tersebut juga mengindikasikan bahwa sang Pangeran ingin memperoleh kemenangan militer dalam perang melawan Houthi Zaydi Syiah dan Iran, negara penyokongnya. Perang ini adalah perangnya MBS sehingga kekalahan di Yaman berarti merusak kredibilitasnya. Nampaknya, Ia sangat bernafsu melipatgandakan blokade, serangan udara, dan mencoba menyatukan lawan-lawan Houthi.

Saudi sangat sensitif terhadap tuduhan bahwa mereka menggunakan kelaparan dan penyakit di perang tersebut, terutama saat AS sedikit kritis terhadap aksi blokade Saudi pada Desember dan Januari lalu. Saudi mengambil langkah untuk mengurangi tekanan internasional dan mencoba memperbaiki image mereka. Namun PBB menyatakan bahwa langkah tersebut terlalu sangat kecil. PBB menyatakan bahwa krisis Yaman merupakan tragedi kemanusiaan paling buruk di dunia saat ini.

Di lapangan, perang Yaman saat ini semakin kompleks. Ada Houthi yang beperang melawan pemerintahan Presiden Abdrabbuh Mansour Hadi yang dibacking Saudi, ada pula perang melawan Al-Qaida Semenanjung Arab dan melawan ISIS, dan saat ini muncul konflik baru antara Presiden Hadi dan separatis wilayah Aden yang didukung oleh UAE.

Dalam kondisi tersebut, satu-satunya pemenang yang jelas adalah Iran. Salah satu Jendral AS di Timur-Tengah mengatakan minggu ini bahwa Iran memperoleh lebih banyak hal di Yaman dalam lima tahun ketimbang yang mereka peroleh dari mendirikan Hizbullah di Lebanon dalam 20 tahun. Saat perang dimulai di Yaman, Iran punya hubungan terbatas dengan Houthi, sekarang Iran punya hubungan yang sangat erat. Iran punya berbagai alasan untuk terus melanjutkan perang yang menelan biaya Saudi 5 miliar USD per bulan itu.

Jenderal AS tersebut juga mengingatkan bahwa Iran membantu memperluas dan meningkatkan kapabilitas misil Houthi. Mereka telah menembak sekitar 100 misil ke basis-basis dan kota-kota di Saudi, termasuk Bandara Riyadh, namun Houthi mengklaim bahwa mereka menargetkan Abu Dhabi. Dengan bantuan Iran, ancaman yang ada akan semakin meningkat.

Rusia mem-veto resolusi Dewan Keamanan PBB untuk mengutuk Iran yang menyediakan teknologi dan ahli misil ke pemberontak Yaman. Ini merupakan pertama kalinya Rusia menggunakan hak veto untuk melindungi Houthi. Hal ini juga menandakan bahwa perang di Yaman akan menjadi medan perang internasional, regional, dan lokal.

Tulisan ini adalah karya Bruce Riedel yang dimuat pada brookings.edu pada 2 Maret 2018, diterjemahkan oleh Noviandy Putra Nugraha.

TINGGALKAN BALASAN